Tokoh Adat Sambangi Kaki Gunung Tangkuban Parahu, Raja Galuh Pakuan Disuguhi Kopi Maguru

Ratu Agung LAK Galuh Pakuan Ambu Indung Budak Noviyanti Maulani dan Putra Mahkota Niskala Mulia Rahadian Fathir saat mendampingi Raja Lembaga Adat Karaton Galuh Pakuan, Rahyang Mandalajati Evi Silviadi Sanggabuana mengunjungi kedai Kopi Maguru di kaki Gunung Tangkuban Parahu.(Foto:Istimewa)

KBRN, Bandung: Raja Lembaga Adat Karaton Galuh Pakuan, Rahyang Mandalajati Evi Silviadi Sanggabuana, bersama istri dan Putra Mahkota, mengunjungi Kedai Kopi Maguru yang terletak di Kaki Gunung Tangkuban Parahu.

Kunjungan tersebut dilaksanakan sebagai bentuk peninjauan terhadap kelestarian alam di kaki Gunung Sunda yang menjadi simbol dari Pemerintah Provinsi Jawa Barat tersebut, sekaligus juga silaturahmi dengan pemilik Kedai Kopi Maguru, Malik dan Yosep.

Malik dan Yosep merupakan dua diantara beberapa pendukung pertama  bersama-sama mendirikan Lembaga Adat Karaton Galuh Pakuan di Subang. 

"Kami di Kaki Gunung Tangkuban Parahu ini, termasuk dalam orang-orang yang bersama-sama sejak awal,  mendukung Kang Raja mendirikan Karatwan Galuh Pakuan, dan masih merupakan bagian dari Masyarakat Adat Karatwan Galuh Pakuan sampai dengan hari ini dan seterusnya." Tutur Malik kepada wartawan, Rabu (25/5/2022). 

Rasa haru nampak memenuhi suasana ngopi bersama di Kaki Gunung Tangkuban Parahu yang dingin, namun kehangatan tampak dari gelak tawa serta canda yang sesekali terlontar dari Raja Galuh kepada para pemilik Kedai Kopi Maguru tersebut.

Rupa-rupanya, menurut Yosep, kehangatan suasana ini tidak terlepas dari hadirnya Kopi Buhun ditengah-tengah obrolan yang penuh nostalgi diantara satu keluarga besar ini. 

"Sejak dulu, jauh sebelum zaman kopi booming di Indonesia, keluarga kami memang sudah merupakan petani Kopi. Untuk itulah Kedai ini kami namakan Maguru, berasal dari kata Ema, yang berarti Ibu, dan Guru, yang berarti seseorang yang kita hormati.

Kopi Maguru ini memang mensimbolkan bahwa kopi ini adalah tradisi leluhur yang sangat patut kita hormati dan banggakan,"tutur Yosep.

 Untuk itulah kekhasan Kopi Maguru, yang lantas turut booming  ketika trend Kopi mulai naik di Indonesia, adalah bahwa kedai ini tetap mempertahankan tradisi Kopi Tubruk, yang berarti bahwa semua proses pembuatan kopi, mulai dari menanam, merawat, memetik, sangrai, hingga membuat bubuk kopi dan seterusnya, itu dilakukan murni dengan menggunakan tangan, tanpa bantuan mesin kopi apapun. 

"Kami tidak anti barat, tapi kenapa zaman sekarang kopi itu harus diberi nama americano? Kenapa harus pakai barista? Padahal tradisi kita juga tidak kalah enak kok kopi dengan pengolahan ala buhun dan justru menjadi sangat digemari orang-orang di sekitar kaki Gunung Tangkuban Parahu ini,"tutur Yosep.

 "Saya bangga karena masyarakat adat di sini masih mempertahankan adat budaya buhun ditengah-tengah kreatifitas dan penyesuaian dengan trend ekonomi hari ini. Pesan saya bagi seluruh masyarakat Adat Galuh Pakuan, mari kita sama-sama ramaikan dan kunjungi Kedai Kopi Maguru di Kaki Gunung Tangkuban Parahu," pesan Evi.

Reaksi anda terhadap berita ini :

Komentar