Kasus Kekerasan Selama Pandemi Melonjak, Peran Psikiater Dibutuhkan

Ilustrasi kekerasan pada perempuan. (Foto: Mardiah)

KBRN, Bandung: Kasus kekerasan terhadap anak dan perempuan terus meningkat selama masa pandemi Covid-19. Berdasarkan data SIMFONI PPA atau Sistem Informasi Online Perlindungan Perempuan dan Anak terhitung sejak 1 Januari hingga 16 Maret 2021 telah terjadi 1.008 kasus kekerasan terhadap perempuan dan anak dan 426 kasus di antaranya adalah kasus kekerasan seksual.

Psikiater Forensik RSCM, dr. Natalia SpKJ(K) mengatakan peran psikiater dinilai sangat penting sebagai pendampingan serta pemberian layanan psikologis. Selain itu, hal tersebut juga akan membantu pihak kepolisian untuk terang perkara dalam mencari bukti-bukti yang hanya bisa didapat dari keterangan korban.

“Kita memang tugasnya membuat terang perkara, tapi karena tentunya keahlian kami di sisi psikologis jadi kami akan berusaha membatu untuk melihat apa sih fenomenanya, kenapa orang ini rentan jadi korban atau gimana nih kesulitannya. Ini kami lakukan agar bisa ditindaklanjut untuk membantu bukti petunjuk hingga akhirnya diproses,” tuturnya melalui webinar LBH APIK Jakarta, Selasa (30/11/2021). 

Ia menambahkan peran psikiater terbagi menjadi dua di antaranya treating psychiatrist dan assesing psychiatrist.

“Dalam layanan korban kekerasan itu kita ada dua peran. Ada yang treating psychiatrist yaitu yang memberikan pengobatan dan pendampingan. Misalnya ada yang depresi, PTSD, reaksi stress akut, atau cemah nah kita yang akan memberikan pendampingan psikososial. Dan satu lagi yaitu assesing psychiatrist yaitu psikiater forensik,” jelasnya.

Sementara itu, dari segi substansi hukum, sudah ada progres kebijakan yang mengatur pemenuhan hak layanan kesehatan dan jaminan sosial untuk korban. Ditegaskan Natalia, penangangan korban tindak kekerasan pada perempuan dan anak di bidang kesehatan harus dilakukan secara komprehensif karena berdampak terhadap gangguan kesehatan reproduksi, trauma psikologis dan kehamilan tidak diinginkan. Dimana hal ini dapat menurunkan kualitas hidup korban hingga berpotensi terjadi kriminalisasi.

Reaksi anda terhadap berita ini :

Komentar