Bongkar Calo Penempatan Ilegal, Benny Ramdhani; Usut Sampai Big Bosnya

Kepala Badan Pelindungan Pekerja Migran Indonesia (BP2MI) Benny Ramdhani. (Foto:Azis Zulkarnaen/RRI).

KBRN, Bandung: Badan Pelindungan Pekerja Migran Indonesia (BP2MI) UPT Jawa Barat dan Polda Jawa Barat, menangkap anggota sindikat penempatan ilegal. IM, ditangkap aparat gabungan di wilayah Cirebon Jawa Barat.

Kepala BP2MI Benny  Ramdhani mengatakan, IM merupakan calo penempatan ilegal yang merekrut mayoritas kaum perempuan, untuk penempatan di Taiwan. 

"IM akan memberangkatkan 36 calon pekerja migran Indonesia. Ke 36 orang itu, 4 dari Jawa Barat dan sisanya dari luar Jabar,"ucap Benny kepada wartawan di BP2MI UPT Jawa Barat jalan Soekarno Hatta Kota Bandung, Jumat (15/10/2021).

Ditambahkan Benny, calo penempatan ilegal tersebut sudah memberangkatkan ribuan pekerja migran Indonesia secara ilegal dari berbagai provinsi di Indonesia.

Modus kejahatannya, para calo berkeliling door to door, menawarkan kesempatan bekerja ke luar negeri, dengan iming-iming gaji yang menggiurkan. Kenyataannya, para calon pekerja migran itu diperjual belikan. Bahkan iming-iming gaji yang dijanjikan, tidak diberikan 8 bulan, dengan alasan untuk membayar proses penempatan.

"Janji dan iming-iming yang akhirnya mereka harus menyetorkan uang dengan jumlah yang sangat besar,"ucap dia.

Benny juga menegaskan, BP2MI tidak hanya menangkap calo penempatan ilegal, namun juga otak kejahatan atau big bos, sindikat tersebut. Diyakini, sindikat tersebut meraup keuntungan yang sangat besar dari kejahatan penempatan ilegal.

"BP2MI akan terus menabuh genderang perang melawan sindikat dan mafia penempatan ilegal. Kami yakini bukan hanya IM, tapi calo-calo ini ratusan bahkan ribuan berkeliaran di setiap provinsi. Kita percaya dan yakin mereka (calo) hanya kaki tangan, pihak tertentu yang saya sebut bandar pemilik uang, master mind kejahatan harus kita bongkar,"tegas dia.

Sementara salah seorang korban Nia Rahmawati (20) asal Lampung menuturkan, awalnya ia ditawari bekerja di Singapura.

"Dari penyalurnya menawari ke rumah masing-masing. Siapa sih yang ga tergiur bekerja di luar negeri, gaji Rp.6 juta per bulan,"ucapnya.

Namun setelah mengikuti pelatihan selama beberapa bulan di Gunung Putri Bogor, Nia tidak ada kejelasan mengenai penempatannya di luar negeri. Bahkan data diri di paspor pun di palsukan oleh pihak penyalur.

Mengenai kontrak atau masalah penempatan pun tidak pernah transparan. Hanya ia diberitahu, bila sudah mendapat pekerjaan, gaji akan dipotong selama 6 bulan untuk pengganti proses penempatan.

"Itu juga ga di beberkan secara rinci, potongan apa saja. Cuman mereka bilang, jangan bawel, mau kerja ga?. Mereka bilang gaji dipotong selama 6 bulan,"ucapnya.

Sementara itu juga Direktorat Reserse Umum Polda Jawa Barat, kini masih mendalami kasus tersebut.

Reaksi anda terhadap berita ini :

Komentar

00:00:00 / 00:00:00