Jamur Merang Raudhatul Irfan, Pengembangan Limbah Jadi Rupiah

"Santriwati Ponpes Raudhatul Irfan menunjukan jamur yang sudah dikemas dalam kaleng. Jamur ini dikembangkan melalui media tanam serabut aren, yang banyak dijumpai disekitar pesantren," (Foto : Nova Nugraha/ RRI)

KBRN, Ciamis : Berawal dari banyaknya limbah serabut aren yang ada di kampungnya, Irfan Soleh, pimpinan Pondok Pesantren Raudhatul Irfan, di Desa Kertaharja, Kecamatan Cijeunjing, Kabupaten Ciamis, mulai berpikir bagaimana mengolah limbah ini menjadi bermanfaat.

Berbekal pengetahuan yang dimiliki, dan informasi dari berbagai sumber, pada tahun 2015 lalu, Irfan memulai untuk mengembangkan limbah serabut aren di Kampung Kubang, Kampung Bojong Renged dan Kampung Cilengkrang, menjadi media tanam jamur merang.

Bibit jamur yang diperoleh dari Karawang ini, akhirnya mulai dibudidayakan ditempatnya.Tak disangka, jamur merang yang dibudidayakannya ini berkembang pesat. Dalam satu hari, Ia bisa memanen sekira 80 - 100 kilogram jamur.

"Kami hanya menggunakan bahan baku serabut aren yang telah dipilih, kapur dan dedak plus bibit jamur merang. Total dari awal pembuatan hingga panen jamur sekitar 40 hari. Alhamdulillah, meski harus dihadapkan dengan berbagai kendala, namun saat ini hasilnya sudah terlihat. Untuk satu kilo jamur dijual dengan harga Rp. 35 - 40 ribu," katanya kepada RRI, Rabu (6/7/2022).

Selain kandungan protein yang tinggi, kemampuannya mengolah limbah serabut aren, menjadi media tanam jamur merang, menjadi solusi jangka panjang persoalan limbah lingkungan.

"Selain menghasilkan jamur, media bekas tanamnya juga bisa digunakan sebagai pupuk kompos organik," ujar dia.

Jamur yang diproduksinya ini dikemas dalam kemasan kaleng agar bisa bertahan lama. Dengan kemasan ini, target pasar modern juga diharapkan bisa ditembus.

"Potensi busuknya lebih cepat. Tapi dengan kemasan kaleng bisa bertahan enam bulan. Saat ini pasarnya baru pasar tradisional seperti Cikurubuk Kota Tasikmalaya, Bandung, Banjar, dan sekitarnya.  Untuk pasar modern, kami masih terkendala dengan syarat izin edar yang masih berproses," ungkapnya.

Selain mampu membantu penanganan limbah aren, pemanfaatan limbah ini juga membawa nilai ekonomis terhadap perekonomian masyarakat sekitar, dan pesantren.

"Ada banyak nilai tambah yang dihasilkan selain bagi pesantren dengan penambahan fasilitas belajar santri, juga buat masyarakat sekitar," kata dia.

Dengan potensi yang besar, Irfan berencana memperluas produksi jamur merang dengan melibatkan masyarakat sekitar setelah perizinan produksinya dikantongi.

"Masyarakat akan menjadi mitra untuk membuat kumbung jamur. Jadi kita modalin, nanti hasilnya kita tampung," jelasnya.

Sementara itu, Deputi Kepala Perwakilan Bank Indonesia Tasikmalaya, Nurtjipto mengapresiasi upaya yang dilakukan pihak pesantren dalam pengolahan limbah ini. Apalagi ini memiliki nilai tambah tinggi.

"Ada upaya pengolahan limbah. Ini sesuai dengan program pemerintah, dalam mewujudkan pengembangan ekonomi ramah lingkungan," kata dia.

Untuk membantu pengembangan usaha ini,  BI KPw Tasikmalaya juga memberikan bantuan fasilitas mesin produksi pengolahan jamur merang yang memiliki kemasan produk yang bernilai tinggi.

Reaksi anda terhadap berita ini :

Komentar