Indeks Persaingan Usaha di Jabar 2021 Meningkat

KBRN, Bandung: Kepala kantor Wilayah III Komisi Pengawas Persaingan Usaha (KPPU) Lina Rismiati menyatakan, dari hasil survey yang dilakukan tim peneliti CEDS Universitas Padjadjaran (UNPAD) Bandung, indeks persaingan usaha di Indonesia terutama Jawa Barat di tahun 2021 meningkat. Dikatakan Lina, Indeks persaingan usaha tahun 2021 di Indonesia meningkat dari 4,65 menjadi 4,81.

"Provinsi Jawa Barat merupakan salah satu Provinsi yang mengalami peningkatan nilai indeks persaingan dari 5,07 di tahun 2020 menjadi 5,24 di tahun 2021,"jelas Lina di kantor Wilayah III KPPU, Kota Bandung Kamis, (2/12/2021).

Lina juga menambahkan, secara umum persaingan di Jawa Barat terkategori tinggi terutama di beberapa sektor usaha seperti industri pengolahan, perdagangan besar dan eceran, reparasi mobil dan sepeda motor dan pertanian, kehutanan serta perikanan. Sedangkan sektor lainnya seperti pengadaan listrik dan gas, pengadaanair, pengolahan sampah, limbah dan daur ulang serta jasa perusahaan merupakan sektor dengan tingkat persaingan usaha yang rendah.

Dengan menggunakan seluruh dimensi yang ada, di Jawa Barat dimensi regulasi memiliki rata-rata skor tertinggi 6,60. Sementara dimensi perilaku memiliki rata-rata terendah 4,01. 

"Hal tersebut mengindikasikan bahwa regulasi di Jawa Barat telah mendorong terciptanya persaingan usaha yangtinggi. Sementara itu, rendahnya skor dimensi perilaku mengindikasikan adanya perilaku pelaku usahayang mengarah pada persaingan usaha tidak sehat,"jelas dia.

"Hasil indeks persaingan usaha ini akan menjadi acuan bagi pengawasan KPPU Kanwil III di Jawa Barat dengan menyusun program-program kegiatan atau tindakan yang tepat untuk meningkatkan nilai-nilai persaingan usaha yang sehat di kalangan pelaku usaha,"tambah Lina.

Diungkapkannya juga, untuk mengukur tingkat persaingan di Indonesia, KPPU memerlukan suatu ukuran persaingan usaha yang komprehensif. 

Selain menjadi indikator kinerja KPPU, pengukuranindeks persaingan dapat memberikan indikasi apakah daya saing, produktivitas dan efisiensi sektorekonomi di Indonesia semakin baik atau tidak. 

"Indikasi ini didasarkan pada konsep (berbagai temuanpenelitian) bahwa lingkungan yang kompetitif akan menciptakan efisiensi dan produktivitas yangsemakin tinggi, yang kemudian akan berdampak kepada daya saing suatu negara/daerah,"kata dia.

"Persaingan usaha yang baik dapat jadi cerminan regulasi yang baik juga,"tambah Lina.

Meski demikian, Lina pun menyebutkan beberapa responden yang di wawancarai secara langsung mengeluhkan mahalnya investasi serta lambannya  perizinan di Jawa Barat.

"Hambatan masuk ke pasar provinsi Jawa Barat yang dipersepsikan koresponden pertama dari perizinan yang dianggap masih lama (proses). Yang kedua terkait dengan permodalan, nah permodalan ini jadi isu internal, wah besar (modal) untuk masuk Jabar. Jadi bukan hambatan yang dibuat oleh Jabar,"jelas dia.

Sementara menatap 2022 nanti, Lina mengatakan aspek permintaan masih rendah akibat pandemi. Meski demikian tegas Lina, optimisme harus terus dibangun terutama pengalaman dampak pandemi terhadap perekonomian.

"Harus optimis, dan masyarakat juga harus belajar dari pengalaman dampak pandemi terhadap perekonomian,"pungkasnya.

Reaksi anda terhadap berita ini :

Komentar