Pemda Kabupaten Bandung Barat Kembangkan Desa Wisata

Pelatihan pengelolaan desa wisata di Lembang Kabupaten Bandung Barat (Foto:Amelia Hastuti/RRI)

KBRN, Cimahi :  Kelompok Sadar Wisata (Pokdarwis), komunitas pariwisata, dan para kepala desa di Kabupaten Bandung Barat (KBB), dilatih dan diajak melihat rintisan desa wisata yang ada di Desa Cibenda, Kecamatan Cipongkor. 

Kegiatan yang disupport Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (Kemenparekraf) RI dan Dinas Pariwisata dan Kebudayaan (Disparbud), KBB, tujuannya agar pascapandemi COVID-19 eksistensi desa wisata bisa semakin berkembang. 

"Kami ingin skill (kemampuan) stakeholder kepariwisataan seperti Pokdarwis, komunitas pariwisata, hingga kepala desa di daerah, dalam pengelolaan desa wisata bisa lebih berkembang lagi," kata Kepala Bidang  Pariwisata, Disparbud KBB, David Oot, di Lembang, Jumat (17/9/2021).

David menyebutkan, di KBB saat ini yang terinventarisasi ada 16 desa wisata yang tersebar seperti di Lembang, Parongpong, Cisarua, serta di selatan dan barat KBB. Dirinya optimistis kehadiran desa wisata ke depan akan lebih berkembang lagi mengingat potensi yang dimiliki 165 desa di KBB sangat banyak. 

Sejauh ini, lanjut dia, desa wisata yang ada pengelolaannya oleh Pokdarwis yang dibentuk atas rekomendasi pihak desa. Mayoritas mengelola wisata alam yang di antaranya ada di lahan Perhutani, sehingga ada perjanjian kerja sama (PKS) yang dibuat terlebih dahulu dalam pengelolaannya. 

"Ada desa wisata yang telah berprestasi, seperti Pokdarwis Desa Gunungmasigit tahun 2017 jadi juara dua tingkat nasional kategori Pokdarwis. Kemudian Desa Wisata Cibodas yang jadi juara keempat dalam tata kelola home stay," ujarnya. 

Dirinya ingin, melalui Pelatihan Pengelolaan Desa Wisata yang disupport DAK non fisik dari Kemenparekraf ini, bisa melahirkan desa-desa wisata yang berprestasi lagi. Apalagi yang dilibatkan dalam pelatihan yang diikuti oleh 40 peserta ini, mereka-mereka yang punya peran sentral dalam kebijakan di tingkat lokal, khususnya kepala desa. 

"Semoga melalui peran kelompok masyarakat sebagai ujung tombak yang bersentuhan langsung ke wisatawan, bisa mendongkrak eksistensi desa wisata. Jadi setelah pandemi ketika keran wisata dibuka lagi, mereka sudah siap," pungkasnya.

Reaksi anda terhadap berita ini :

Komentar

00:00:00 / 00:00:00