Fenomena Bukber Di Bulan Suci Yang Hilang Ditelan Pandemi

Fenomena bukber disaat bulan ramadhan (ilustrasi)

KBRN, Bandarlampung: Buka puasa bersama atau biasa disebut bukber merupakan salah satu agenda yang lazim dilakukan oleh masyarakat masa kini saat bulan suci ramadhan, tidak hanya anak muda, mereka yang sudah berkeluarga bahkan telah beranjak tua pun senang dengan fenomena yang berbau silaturahmi ini.

Hotel, rumah makan, restouran, cafe, ataupun kediaman pribadi selalu ramai menjadi tempat untuk mengadakan acara itu, biasanya kegiatan bukber mulai dilakukan masyarakat menjelang pertengahan ramadhan hingga minggu terakhir ramadhan.

Para tamu undangan bukber biasanya sudah berkumpul menjelang waktu berbuka, kegiatan itu merupakan ranah saling bertukar cerita, berbagi pengalaman antar kolega, bahkan terkadang masalah bisnis dibicarakan dalam acara ini.

Namun semua itu tampak berbeda tahun ini, tempat-tempat yang biasanya ramai menjelang waktu berbuka, kini sepi seperti tidak berpenghuni karena dampak dari pandemi corona yang saat ini tengah melanda negeri, semua orang was-was dan takut untuk berkumpul bahkan untuk keluar rumah pun warga enggan jika tidak terlalu penting agar tidak tertular virus yang tengah melanda di seluruh dunia, tidak terkucuali Indonesia.

Salah seorang warga Kecamatan Kemiling Bandarlampung, Agus WS mengaku biasanya pada saat bulan ramadhan dirinya selalu melakukan kegiatan buka puasa bersama dengan teman-teman dan keluarga besarnya.

Selain berbuka puasa bersama menurut laki-laki separuh baya tersebut, kegiatan ini juga untuk mempererat tali silaturahmi dengan para sahabat yang jarang bertemu karena kesibukan masing-masing.

Tapi untuk tahun ini dirinya dan para kolega tidak bisa melakukan hal semacam itu lagi, penyebabnya tidak lain kerena penyebaran virus corona, suka tidak suka semua harus bisa menahan diri untuk tidak berkumpul dan tidak mengadakan keramaian terlebih dahulu sesuai dengan protokol kesehatan yang ditetapkan pemerintah.

“Alasan bukber itu kan untuk mempererat silaturahmi baik dengan keluarga maupun dengan teman-teman sejawat, biasanya sih di rumah makan atau cafe-cafe gitu lah, tapi kondisi akibat corona ini menyebabkan silaturahami secara langsung jadi terhenti, agak sedih juga sih,” ungkap Agus.

Hal serupa juga diungkapkan oleh Rudi Setiawan, warga Kecamatan Wayhalim Bandarlampung itu mengatakan, tahun ini tidak ada undangan bukber yang biasanya diterimanya dari teman-teman seperti tahun lalu.

Menurut ayah dua anak tersebut, biasanya bukber dilakukan di kediaman pribadi maupun cafe-cafe yang menjadi langganan mereka, namun di tahun ini semua itu tinggal cerita karena adanya virus corona.

Meskipun sedih dengan kondisi saat ini karena tidak bisa berjumpa dan reuni dengan teman-teman lama melalui kegiatan buka puasa bersama, tapi menurut Rudi, semua harus bisa diterima demi kesehatan masing-masing, apalagi kota Bandarlampung telah ditetapkan menjadi zona merah penyebaran virus dari negeri china tersebut.

“Tahun ini nggak ada bukber karena pandemi Covid-19, biasanya kalo bukber di rumah makan, kadang di tempat (rumah) kawan-kawan, ini ajang temu kangen karena sudah lama nggak ketemu, sebenarnya sedih sih karena nggak ada buber, karena setiap tahun biasanya ngadain bukber, jadi kalo nggak ada bukber kayak ada yang kurang,” ujar Rudi.

Sementara itu, Polda Lampung menyatakan akan  melakukan tindakan yang tegas terhadap masyarakat, yang melanggar aturan pemerintah untuk penanganan Covid-19.

Kabid Humas Polda Lampung Kombes Pol Zahwani Pandra Arsyad mengatakan, dalam Operasi Ketupat Krakatau 2020 yang tengah digelar pihaknya, salah satu tugasnya adalah menindak masyarakat yang melanggar aturan pemerintah dalam upaya pencegahan Covid-19.

Menurut Pandra, jika nantinya ditemukan adanya tindak pelanggan ditengah masyarakat, atas anjuran dan aturan pemerintah selama pandemi ini, pihak berwenang akan menindak tegas sesuai hukum yang berlaku, hal ini dilakukan demi keselamatan rakyat.

Adapun sanksi tegas terhadap para pelanggar peraturan pemerintah terkait hal ini, tertuang dalam Undang-Undang KUHP Pasal 212, 216, 218, serta Undang-Undang Karantina Kesehatan, dengan ancaman hukuman pidana penjara atau denda.

“Oleh karena itu masyarakat diharapkan tetap disiplin melakukan segala anjuran pemerintah, dengan menerapkan enam hal yaitu, tetap menggunakan masker, tetap di rumah, jaga jarak, kemudian hindari kerumunan, jaga diri, dan jaga keluarga," kata Pandra.

Reaksi anda terhadap berita ini :

Komentar

00:00:00 / 00:00:00