Kisah Difabel di Bandarlampung Bertahan Hidup di Tengah Covid-19

Martha Chandra Dinata, saat ditemui di lapaknya/RRI

KBRN, Bandarlampung : Pandemi Covid-19 telah memukul perekonomian masyarakat, tak terkecuali di Kota Bandarlampung. Namun, di tengah kondisi yang tak menentu ditambah menjelang lebaran 2021, kisah pantang menyerah datang dari seorang difabel asal Kelurahan Perumnas Way Halim, Kecamatan Way Halim, Kota Bandarlampung.

Namanya Martha Chandra Dinata. Pria ini merupakan penyandang difabel yang sehari-hari membuka lapak usaha pembuatan plat motor dan mobil, service jok motor, pemasangan kaca film mobil dan ganti sarung jok motor.

Saban pagi sekitar pukul 08.00 WIB, Martha sudah membuka lapaknya yang berlokasi di Jalan Tirtayasa, Sukabumi, Bandarlampung.

Meski sudah lebih dari dua tahun pandemi Covid-19 melanda, namun ayah tiga anak ini mengaku, tahun 2021 menjadi tahun terberat baginya. Bagaimana tidak? Pada awal pandemi tahun 2020, penghasilannya masih terbilang cukup lumayan. Namun tahun ini, sejak awal Ramadhan pendapatannya tak menentu, bahkan bisa dibilang hancur.

Bahkan Martha menuturkan, selain penghasilannya yang terjun bebas, akibat pandemi yang hingga kini masih berlanjut, dia juga kerap menunggak angsuran yang mestinya dibayar setiap bulan. Namun, saat ini terhitung sudah dua bulan ia tak lagi mampu membayar angsurannya itu, karena kurangnya konsumen yang datang.

Dia menuturkan, jika pada tahun 2020 lalu, setiap harinya ia masih membisa membawa pulang uang untuk menghidupi keluarganya antara Rp 300 hingga Rp 400 ribu, dengan jumlah konsumen yang singgah di lapaknya sebanyak 8-10 orang. Namun tahun ini, penghasilannya tak lebih dari Rp 100 ribu, lantaran hanya 3-4 orang yang datang ke lapaknya.

Untuk menutupi kebutuhan sehari-hari yang tidak bisa lagi diharapkan dari lapaknya, Martha kerap mencari seseran dari luar dengan memasang kaca film dan wallpaper. Orderan di luar biasanya datang dari pelanggan yang selama ini biasa menggunakan jasa di lapaknya.

Martha yang tercatat sebagai lulusan salah satu perguruan tinggi di Bandarlampung ini berharap kepada pemerintah untuk memberikan sedikit kelonggaran aktivitas kepada masyarakat.

Salah satunya dengan tidak melarang mudik dengan tetap menerapkan protokol kesehatan secara ketat. Sebab, kebijakan larangan mudik berimbas langsung terhadap usahanya.

Jika sebelumnya saat musim mudik sopir travel kerap datang ke lapaknya untuk memasang kaca film, namun kini tidak ada satu pun travel yang datang, imbas dari kebijakan pemerintah yang melarang mudik lebaran.

Meski penghasilannya merosot, namun Martha tetap bersyukur dan tak pantang menyerah serta tetap menjalani aktivitas rutin di lapaknya. Ia juga tetap menggunakan seluruh kemampuannya demi bertahan hidup di tengah pandemi, meskipun tidak pernah mendapatkan bantuan dari pemerintah, melalui berbagai program yang digulirkan sejak awal pandemi Covid-19.

Semangat juang Martha Chandra Dinata patut dijadikan contoh. Meski diterpa segala keterbatasan, namun baginya, tak ada kata menyerah dalam hidup, karena hidup tetap harus berjalan.

Bahkan, di tengah keterbatasan fisik yang dimilikinya, ia juga tak pernah sedikit pun mengeluh apalagi menyerah. Hal itu dilakukannya demi istri dan tiga buah hatinya di rumah.

Kisah Martha Chandra Dinata menginspirasi kita semua. Keterbatasan fisiknya juga tidak membuat Martha berpangku tangan. Dia meyakini janji Allah dalam Surat Ar-Ra'd Ayat 11 yang artinya “Sesungguhnya Allah tidak akan merubah nasib suatu kaum kecuali kaum itu sendiri yang mengubah nasibnya”.

Reaksi anda terhadap berita ini :

Komentar

00:00:00 / 00:00:00