Budaya Patriarki Dinilai Menjadi Salah Satu Penyebab Terjadinya Tindak Kekerasan Terhadap Perempuan

KBRN, Bandar Lampung : Kampanye 16 Hari Anti Kekerasan terhadap Perempuan merupakan kampanye internasional untuk mendorong upaya-upaya penghapusan kekerasan terhadap perempuan di seluruh dunia.

Sebagai institusi nasional hak asasi manusia di Indonesia, Komnas Perempuan menjadi salah satu inisiator kegiatan ini di Indonesia. Namun demikian meski berbagai organisasi peduli perempuan yang ada di Lampung aktif memberikan berbagai sosialisasi untuk menekan terjadinya tindak kekerasan terhadap perempuan, hingga saat ini kasus kekerasan terhadap kaum perempuan masih kerap terjadi.

Salah seorang penggiat organisasi Solidaritas Perempuan Lampung, Amayanti Sanusi kepada RRI menilai, budaya Patriarki yang masih dianut sebagian besar masyarakat di Lampung, meruapakan salah satu penyebab utama masih timbulnya tindak kekerasan terhadap perempuan.

Hal itu karena menurutnya, dalam sistem budaya Patriarki tersebut, melihat bahwa perempuan dianggap kelas nomor dua, dan tidak dianggap setara, baik dilingkungan masyarakat maupun lingkup keluarga.

"Tindak kekerasan terhadap perempuan masih cukup tinggi, salah satu penyebab utamanya adalah masyarakat yang masih banyak menganut budaya patriarki, sehingga perempuan hanya dijadikan objek,"tegasnya (10/12/2019).

Disisi lain Amayanti Sanusi mengungkapkan, angka tindak kekerasan terhadap perempuan masih cukup tinggi. Menurutnya dari data yang dimiliki organisasi Solidaritas Perempuan, hampir 80 persen perempuan di Lampung pernah mengalami bentuk kekerasan baik fisik maupun psikis.

Sehingga Amayanti Sanusi berharap peran aktif seluruh elemen masyarakat dalam mencegah terjadinya tindak kekerasan terhadap perempuan, seperti dengan aktif melaporkan kepihak penegak hukum, jika mengetahui adanya tindak kekerasan terhadap kaum perempuan.

Reaksi anda terhadap berita ini :

Komentar

00:00:00 / 00:00:00