Antisipasi Dampak Tsunami, BKSDA Pantau Aktivitas GAK

KBRN, Bandar Lampung : Provinsi Lampung merupakan salah satu daerah di Indonesia yang memiliki potensi bencana alam cukup tinggi. Selain bencana yang hampir setiap tahun terjadi seperti banjir dan tanah longsor, Provinsi Lampung juga menjadi salah satu daerah yang rawan terhadap bencana tsunami.

Selain memiliki garis pantai yang cukup panjang, letak geografis Provinsi Lampung yang berdekatan dengan Gunung Anak Krakatau, menjadikan Lampung memiliki potensi bencana alam tsunami.

Terlebih 1 tahun lalu tepatnya tanggal 22 Desember 2018, wilayah Pesisir Provinsi Lampung dan Banten terkena bencana Tsunami dampak dari aktivitas Gunung Anak Krakatau.

Pengendali Ekosistem Hutan, Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Bengkulu Lampung Syarifuddin kepada RRI mengatakan, untuk mengantisipasi dan meminimalisir dampak tsunami, pihaknya melakukan kerjasama dengan Badan Pengkajian Penerapan Tekhnologi.

Kerjasama tersebut dilakukan untuk melakukan pemantauan ancaman tsunami, khususnya akibat aktivitas dari Gunung Anak Krakatau, dengan memasang alat didasar laut, dan dipancarkan melalui menara tower yang didirikan di Pulau Sertung yang berada dakam kawasan Gunung Anak Krakatau.

"Untuk antisipasi terjadinya tsunami, kami melakukan kerjasama dengan Badan Pengkajian Penerapan Tekhnologi, dengan memasang alat pamentau tsunami didasar laut, dan langsung dipancarkan melalui tower di Pulau Sertung,"jelasnya (06/12/2019). 

Lebih lanjut dikatakan Syarifuddin, selain melakukan kerjasama dengan Badan Pengkajian Penerapan Tekhnologi, Pengendali Ekosistem Hutan BKSDA Bengkulu Lampung yang bertugas melakukan pemantauan aktivitas Gunung Anak Krakatau, juga bekerjasama dengan Pusat Vulkanologi Mitigasi Bencana Geologi, untuk mendetaksi berbagai aktivitas Gunung Anak Krakatau.

Bahkan menurutnya, saat ini telah terpasang CCTV, untuk dapat melihat berbagai aktivitas langsung Gunung Anak Kratakau, yang sejak erupsi cukup besar pada tahun 2018 lalu, Gunung Anak Krakatau terus menalami pertumbuhan.

Reaksi anda terhadap berita ini :

Komentar

00:00:00 / 00:00:00