Penasehat PWI, Suprapto: PWI Butuh Ketua yang Cakap Mengadaptasi Dinamika Multidimensi

Penasehat PWI Lampung, H. Suprapto/dok pribadi

KBRN, Bandarlampung: PWI mesti mampu mengikuti era serba digital pelbagai bidang. Hadirnya ketua yang cakap mengadaptasi dinamika multidimensi itu, diyakini akan membawa organisasi wartawan pertama di Indonesia ini menjadi lebih maju dan baik.

Begitu perspektif Penasehat PWI Lampung Suprapto, menjelang agenda besar Konferensi Provinsi (Konverprov) PWI Lampung Desember 2021. Pemilihan ketua sebagai salah satu rangkaiannya, menjadi momen paling ditunggu.

Suprapto mengungkapkan, ketua punya tanggung jawab yang tidak ringan di tengah derasnya arus informasi.

Gempuran media sosial yang kerapkali mencuri start sebagai penyampai informasi, menjadi PR bagi ketua untuk melindungi profesi wartawan agar tidak teralihkan.

Menurut Suprapto, ketua harus memiliki kapabilitas untuk berdaptasi, berkreatifitas dan visioner atas pengaruh medsos sebagai salah satu perubahan multidimensi itu.

"Tanpa itu, maka PWI yang menaungi profesi wartawan tak lebih sekadar penonton berseliwerannya informasi di medsos," jelas Suprapto, kepada wartawan, Sabtu (23/10/2021).

Lebih lanjut Suprapto yang juga Anggota DPRD Lampung dari Fraksi PAN itu menyebutkan, ketua juga mesti mampu merawat kesejukan organisasi, memayungi, merangkul dan memberi ruang yang sama kepada pengurus dan anggota untuk bersama-sama mengambil peran menjalankan roda organisasi.

"Juga menjalin komunikasi yang baik dengan pihak eksternal, sebab PWI dan pihak lain itu sama-sama membutuhkan untuk membangun sinergi," kata mantan Pemimpin Redaksi Radar Lampung itu.

Untuk memunculkan ketua yang semacam itu memang tidak mudah. Terlebih, jika kompetisi ini dinodai oleh black campaign. Money politic misalnya.

Sebab, bagaimana ketua akan menjalankan organisasi dengan baik jika keterpilihannya dikotori kecurangan.

Namun, Suprapto tidak begitu yakin terjadi money politic. Argumennya, wartawan kerap memberitakan kecurangan seperti itu pada pelbagai pemilihan akan terjaga untuk tidak melakukan yang serupa.

"Andai ada money politic, harus berani menolaknya. Sebisa mungkin, sekeras mungkin untuk tidak menerimanya. Tapi jika tidak lagi memungkinkan menolak, misal karena hubungan baik pertemanan ambil saja uangnya, soal pilihan kembalikan ke hati nurani," tegas Suprapto.

Ketimbang bermain curang, menurut Suprapto tentu jauh lebih elegan jika para kandidat membuka ruang untuk mengadu visi misi. Dengan begitu bisa terbaca gaya leadership, kualitas gagasan hingga personal karakternya jika terpilih kelak. "Buka ruang temu itu, mengadu gagasan."

Mengenai salah satu yang cukup krusial saat pemungutan suara adalah soal mandat atau keterwakilan pemegang hak suara menyalurkan pilihan, Suprapto mengatakan memang sudah ada dlm PD/PRT PWI. 

Untuk dilakukan perubahan atas aturan tekhnis seperti itu, tentu diperlukan perumusan dan kesepakatan.

"Ada tim atau steering commitee untuk melakukan perubahan tatib pemilihan, termasuk tekhnis. Ya tinggal bagaimana perumusan dan kesepakatannya saja," tandasnya.

Terakhir, Suprapto menyampaikan pesan kepada siapapun kandidat yang nantinya terpilih memegang amanah menjadi ketua.

"Sejatinya tetap menjaga marwah PWI. Membawa PWI lebih maju dan baik, dengan terus merawat integritas," pungkas Suprapto.

Reaksi anda terhadap berita ini :

Komentar

00:00:00 / 00:00:00