Perjuangan Miswati, Buruh Cuci di Bandarlampung Sekolahkan 3 Anak

Miswati, seorang buruh cuci di Bandarlampung, saat ditemui di rumahnya beberapa waktu lalu/ist

KBRN, Bandarlampung: Seorang warga Kota Bandarlampung mengarungi beratnya beban hidup selama puluhan tahun. Hidup serba kekurangan dengan rumah geribik berstatus menumpang. Wanita ini memperjuangkan tiga anaknya untuk dapat mengenyam pendidikan yang layak.

Miswati, ibu rumah tangga warga RT 08 Lingkungan II Kelurahan Sepangjaya, Kecamatan Labuhanratu, Bandarlampung, sehari-hari bekerja sebagai buruh cuci pakaian dengan upah sebesar satu juta per bulan.

Penghasilan tersebut tidak mencukupi kebutuhan hidup keluarga dan biaya sekolah bagi ketiga anaknya. “Sekitar sepuluh tahun sewa tanah untuk rumah ini. Sekarang sewanya 1 juta. Dulu 500 ratus ribu. Ya inilah kerja, nyuci gosok. Penghasilan 1 juta kotor. Kadang serabutan mas,” tutur Miswati, Sabtu (31/7/2021).

Wanita ini terpaksa banting tulang sendiri mengingat statusnya sebagai janda. Anak sulung baru naik kelas 3 SMK, adiknya lulus SMP, dan si bungsu masih duduk di bangku kelas 6 SD.

Beban Miswati terasa berat. Namun, ia bertekad untuk tetap menyekolahkan anak-anak secara layak. Harapannya tidak muluk-muluk. Ia hanya menginginkan anak-anaknya kelak menyongsong kehidupan yang jauh lebih baik darinya, yang hanya menjadi buruh cuci pakaian.

Meski hidup serba kekurangan, Miswati bersyukur masih ada orang baik memberikan tumpangan lahan untuk tempat tinggal berupa rumah geribik. Setidak-tidaknya, keluarga ini tidak terbebani sewa rumah.

“Saya sich berharap anak-anak belajar dengan giat. Biar bisa kayak orang-orang, ngangat derajat orang tua dan bisa hidup lebih baik dari saya yang hanya menjadi buruh cuci pakaian. Pokoknya saya usahain untuk biaya sekolah anak-anak,” katanya lirih.

Putra sulung Miswati, Adip Pratama, menuturkan dirinya kerap membantu ibunya mengerjakan pekerjaan rumah.

Adip mengaku tak pernah minder dengan teman sekelas maupun kawan sepergaulan, meski keluarganya tergolong tidak mampu. “Kalo di rumah ya bantu kerjaan ibu. Kadang nyapu, cuci piring. Kalo gak ya baca buku,” katanya.

Bahkan, siswa di sebuah sekolah kejuruan di Bandarlampung ini bisa meraih peringkat dua di kelasnya. Adip bercita-cita ingin menjadi seorang prajurit TNI. Ia meyakini, jika cita-citanya berhasil diraih, pasti akan membanggakan orang tua dan keluarganya.

“Kalo misalnya kayak ada yang ngejekin atau menghina, itu ya saya biarin aja,” pungkas Adip.

Reaksi anda terhadap berita ini :

Komentar

00:00:00 / 00:00:00