Over Kapasitas, Lapas Gunung Sugih Didominasi Napi Kasus Narkoba

Lapas Kelas 2B Gunung Sugih, Lampung Tengah/ist

KBRN, Lampung Tengah : Narapidana (Napi) atau warga binaan Lembaga Permasyarakatan (Lapas) Kelas 2 B Gunung Sugih jumlahnya melebihi kapasitas. Sebagian besar napi terjerat  kasus Narkoba.

Humas Lapas Kelas 2 B Gunung Sugih, Junanda mengungkapkan, sebanyak 588 orang meringkuk didalam sel Lapas. Sebanyak 63 orang lainnya berada di ruang tahanan Polres Lampung Tengah.

Ia melanjutkan dari jumlah itu, yang sudah berstatus warga binaan (WB) sebanyak 428 orang napi, dengan rincian 416 orang pria dan 12 orang wanita.

Namun berdasarkan data, napi kasus narkoba mendominasi dibandingkan dengan kasus pidana lain.

"Iya, benar. Napi yang terjerat karena kasus narkoba jumlah 200 orang lebih," katanya kepada awak media, Jumat (18/6/2021).

Masih menurut Junanda, napi kasus narkoba akan mendapat giliran rehabilitasi di Lapas Way Hui Lampung Selatan.

Setiap napi yang sudah pernah mengikuti program rehabilitasi tidak bisa mengikuti kembali program tersebut, karena program rehabilitasi napi kasus narkoba hanya diselenggarakan setiap 6 bulan sekali.

"Program rehabilitasi yang terakhir diikuti 50 orang napi dari Lapas Kelas 2 B Gunung Sugih, ditambah 50 orang napi kasus narkoba di Lapas Way Hui," tandas Junanda.

Junanda juga bilang, kapasitas Lapas Kelas 2 B Gunung Sugih hanya sebanyak 350 orang. Jumlah itu diakuinya sudah melebihi kapasitas.

"Namun memang semua lapas di Indonesia ini sudah over kapasitas," tegasnya.

Saat ini Lapas Kelas 2 B Gunung Sugih memiliki 74 pegawai. Khusus untuk tenaga keamanan (sipir) sebanyak 8 orang. Sipir tersebut mengawasi ratusan orang napi. Setiap satu orang sipir mengawasi 2 blok.

Sementara terkait kasus Covid-19 di didalam Lapas, Junanda memastikan sampai saat ini tidak ada napi yang terpapar virus Corona.

Lapas Kelas 2 Gunung Sugih tambahnya sudah melakukan upaya pencegahan dengan meminta rapid test kepada napi sebelum memasuki sel Lapas.

Selain itu, keluarga napi yang ingin membesuk tidak diperbolehkan untuk mencegah kemungkinan penularan virus.

"Jadi kami hanya melayani penitipan barang untuk diberikan kepada napi," tegas Junanda lagi.

Meskipun demikian, Lapas Kelas 2 B Gunung Sugih tidak melakukan rapid rest. Sebab rapid rest dilakukan pihak kejaksaan khusus untuk tahanan yang baru mau masuk kedalam Lapas.

"Kalau hasil rapid test non reaktif kami terima. Sebaliknya kalau reaktif kami menolak. Napi atau tahanan yg ditolak karena hasil rapidnya reaktif menjadi ranah pihak kejaksaan," terangnya.

Di dalam Lapas Gunung Sugih, Junanda memastikan pihaknya menyiapkan fasilitas kesehatan. Namun fasilitas kesehatan yang disiapkan hanya bersifat perawatan.

"Alat-alat medis dan obat obatan hanya tersedia untuk keadaan darurat. Sedangkan untuk tindakan dokter, kami sudah berkerjasama dengan puskesmas Gunung Sugih. Dalam sepekan, dijadwalkan 2 kali visit dokter masing-masing pada hari Selasa dan Jumat," pungkas Junanda.

Reaksi anda terhadap berita ini :

Komentar

00:00:00 / 00:00:00