BI Lampung Prediksi Inflasi Lampung Kedepan Masih Terkendali

KBRN, Bandarlampung: Kantor Perwakilan Wilayah (KPw) BI Provinsi Lampung memprediksi inflasi di Provinsi Lampung akan tetap di rentang 3±1%.

Kepala KPw BI Provinsi Lampung, Budiharto Setyawan, Kamis(17/09/20), mengatakan, ke depan, pihaknya memandang bahwa inflasi akan tetap rendah dalam rentang sasaran 3±1%.

"Hal ini sejalan dengan permintaan masyarakat yang belum sekuat kondisi sebelumnya, meskipun telah memasuki periode kenormalan baru," ujar Budiharto Setyawan.

Menurutnya, komitmen pemerintah untuk menjaga ketersediaan pasokan dan kelancaran distribusi selama masa pandemi COVID-19 juga turut mengurangi tekanan inflasi, namun demikian, terdapat beberapa risiko yang perlu dimitigasi, antara lain berlanjutnya kenaikan harga beras seiring berkurangnya pasokan pada musim kemarau, harga gabah kering di tingkat petani dan penggilingan terpantau mengalami kenaikan, risiko kenaikan harga bawang putih seiring dengan berakhirnya relaksasi impor, kenaikan harga emas perhiasan sejalan dengan kenaikan harga emas global serta mulai meningkatnya permintaan masyarakat pada periode adaptasi kebiasaan baru berpotensi mendorong kenaikan harga bila tidak diimbangi dengan ketersediaan pasokan yang memadai.

Budiharto juga menjelaskan, IHK Provinsi Lampung pada bulan Agustus 2020 tercatat mengalami peningkatan tekanan inflasi yang lebih tinggi dibandingkan bulan sebelumnya (0,31%; mtm), yakni 0,37% (mtm) atau 1,58% (yoy). Dengan demikian, inflasi tahun kalender Lampung mencapai 1,22% (ytd).

Pencapaian tersebut lebih tinggi dibandingkan pencapaian nasional yang mengalami deflasi sebesar -0,05% (mtm) dan Sumatera yang mengalami inflasi sebesar 0,03% (mtm), berdasarkan kelompoknya, inflasi Agustus 2020 bersumber dari kelompok penyediaan makanan dan minuman/restoran dan kelompok pendidikan seiring dengan masuknya tahun ajaran baru, meningkatnya harga beberapa komoditas pangan mendorong kenaikan penerimaan petani (1,02%;mtm).

Di sisi lain, IHK perdesaan tercatat mengalami deflasi sebesar -0,50% (mtm) sehingga menurunkan biaya yang dikeluarkan (-0,34%; mtm), dengan demikian, NTP Agustus 2020 tercatat naik 1,36% (mtm) dari 92,99 menjadi 94,26 khususnya pada subsektor tanaman padi dan palawija serta tanaman perkebunan rakyat.

Reaksi anda terhadap berita ini :

Komentar

00:00:00 / 00:00:00