Program Kebijakan OJK Dorong Pemulihan Ekonomi Di Lampung

KBRN, Bandar lampung: Otoritas Jasa Keuangan (OJK) menilai stabilitas sektor jasa keuangan dalam kondisi tetap terjaga namun dengan kewaspadaan yang terus ditingkatkan, OJK akan terus mengoptimalkan berbagal kebijakan yang telah dikeluarkan untuk mendorong PemuIihan Ekonomi Nasional (PEN) melalui penguatan peran sektor jasa keuangan. 

Kepala OJK Provinsi Lampung, Bambang Hermanto, Kamis(13/08/20), mengatakan, kebijakan relaksasi baik yang dinisiasi oleh OJK berupa pemberian relaksasi kredit/pembiayaan bagi debitur yang terdampak COVID maupun yang bekerjasama dengan pemerintah melalui pemberian subsidi bunga maupun penempatan dana PEN pada Bank HIMBARA berjalan cukup efektif khususnya di Provinsi Lampung, hal ini tercermin dan mulai kembali membaiknya penyaluran kredit oleh perbankan sampai dengan Periode Juni 2020, yang dukuti dengan perbaikan kredit bermasalah. 

Dikatakan Bambang, data OJK Provinsi Lampung pada Semester l-2020 menunjukan, kredit perbankan pada awal masa pandemi Covid19 yaitu April-Mei 2020 sempat mengalami penurunan, yaitu masing-masing turun 0,14% pada April 2020 dan kembali menurun sebesar 1% pada Mel 2020, namun demikian sejalan dengan mulai diberlakukannya adaptasi kebiasaan baru dan beberapa program pemulihan ekonomi nasional, pada Juni 2020 penyaluran kredit perbankan kembali tumbuh positif meskipun masih relatif rendah yaitu 0,64%. 

Kredit bermasalah perbankan pada awal masa pandemi COVID 19 (April-Mei 2020) sempat mengalami peningkatan yaltu dari 2,22% per Maret 2020 menjadi 2,64% pada April dan meningkat kembali menjadi 2,94% pada Mei 2020. Namun pada Juni 2020 jumlah kredit bermasalah kembali menurun menjadi 2,79%. Penurunan NPL perbankan pada Juni 2020 ini menunjukkan bahwa program relaksasi baik yang diinisiasi oleh OJK maupun bekerjasama dengan pemerintah berjalan cukup efektif. 

Beberapa sektor ekonomi yang mengalami penurunan kredit cukup tinggi pada masa awal pandemi (April s.d Mei 2020) dan menurun cukup signifikan pada Mei 2020 antara lain sektor real estate, persewaan dan jasa perusahaan (4,99%); jasa perdagangan besar dan eceran (-3,57%); jasa konstruksi (~2,85%) dan jasa transportasi, pergudangan dan komunikasi (-2,05%), sementara sektor ekonomi yang cukup stabil dan tidak mengalami penurunan signifikan selama masa pandemi Covid 19 antara lain sektor pertanian, sektor perikanan dan sektor bukan lapangan usaha lainnya (konsumtif). 

"Berdasarkan Data pelaksanaan relaksasi kredit perbankan per 30 Juli 2020, dari 130.596 debitur yang mengajukan restrukturisasi, tercatat sebanyak 124.490 pengajuan yang telah disetujui dengan nilai mencapai Rp 6,79 triliun. Sedangkan pelaksanaan program Pemulihan Ekonomi Nasional (PEN) di Provinsi Lampung, dari Rp 471,33 miliar alokasi dana pada 4 (empat) Bank Himbara, OJK mencatat sebesar Rp 173,48 Miliar total dana telah disalurkan kepada 939 debitur atau sebesar 36,81%," ujar Bambang.

Sementara untuk Sektor Industri Keuangan Non-Bank (IKNB) selama semester I-2020, kinerja IKNB sangat terdampak pandemi Covid 19, perusahaan pembiayaan mengalami penurunan dalam penyaluran pembiayaan sejak Desember 2019 hingga Mei 2020 dengan rata-rata penurunan mencapai -1,26% tiap bulannya. Adapun nilai piutang perusahaan pembiayaan Provinsi Lampung pada posisi Desember 2019 yaitu Rp9,011 triliun dan mengalami penurunan di Mei 2020 yaitu Rp8,45 triliun. 

Untuk LKM, hingga April 2020 total pinjaman yang disalurkan masih meningkat meski hanya sebesar 1,93% dari Desember 2019 (Rp.17,61 miliar) dan pada April 2020 sebesar Rp.17,95 miliar. 

Penyaluran kredit program UlaMM, Umi, dan Mekar hingga Juli 2020 ini masih menunjukkan peningkatan sejak awal tahun dimana untuk posisi Juli 2020 nilai pembiayaan UlaMM, Umi dan Mekar masing-masing mencapai Rp. 162 Miliar, Rp. 343 Miliar dan Rp.462 Miliar. 

Rasio NPF perusahaan pembiayaan pada Januari 2020 April 2020 mengalami peningkatan dengan rata-rata peningkatan 1% tiap bulannya. Namun pososi Mei 2020, NPF mengalami penurunan yaitu dari 5,06% (April 2020) menjadi 4,87%. 

Hingga Juli 2020 jumlah relaksasi kredlt yang dilakukan oleh perusahaan pembiayaan di Provinsi Lampung telah mencapai Rp 3,9 triliun dengan jumlah kontrak mencapai 108.613 kontrak, Perusahaan Modal Ventura 67 debitur dengan nilai pinjaman mencapal Rp 8,29 milyar.

Bentuk relaksasi yang dilakukan lembaga pembiayaan adalah melalui perpanjangan tenor atau grace period 3-6 bulan, partial payment (sesual kemampuan), hollday payment (3-6 bulan). 

Tiga besar sektor ekonomi yang dibiayai oleh lembaga pembiayaan di Provinsi Lampung yaitu sektor perdagangan besar dan eceran; reparasi dan perawatan mobll dan sepeda motor (33%), Rumah Tangga (14%), Transportasi dan Perdagangan (10%). 

Reaksi anda terhadap berita ini :

Komentar

00:00:00 / 00:00:00