KNKT Libatkan Pusat Riset Perkeretaapian ITERA Kaji Keamanan Jembatan Kereta Api di Indonesia

KBRN, LAMPUNG SELATAN : Komite Nasional Keselamatan Transportasi (KNKT) melibatkan Pusat Riset dan Inovasi (Purino) Perkeretaapian Institut Teknologi Sumatera (ITERA) dalam mengkaji keamanan jembatan kereta api di Indonesia. Hal tersebut menindaklanjuti runtuhnya jembatan kereta api di Sungai Glagah, Brebes, Jawa Tengah yang terjadi pada Senin, 11 Januari 2021, lalu.

ITERA dilibatkan karena sejak 2019, tim Pusat Riset dan Inovasi Perkeretaapian ITERA bersama Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT) dan PT KAI Divre 4 Tanjungkarang, telah melakukan penelitian dan pengembangan pengelolan sistem monitoring jembatan keret api melalui structural health monitoring system (SHMS). Penelitian tersebut dilakukan pada jembatan kereta api BH 77 di Tegineneng, lintas Tanjungkarang-Martapura, Lampung. Program riset tersebut juga menjadi program riset prioritas kerjasama BPPT – ITERA.

Kepala Pusat Riset dan Inovasi Perkeretaapian ITERA, Ir. Sony Julison, M.Sc., Ph.D., IPU, menyampaikan musibah robohnya jembatan kereta api di Brebes tersebut memicu diskusi antara tim BPPT dan ITERA yang selama ini melakukan penelitian tentang monitoring kondisi prasarana jembatan kereta api melalui metode SHMS. Penelitian tersebut dinilai relevan dengan kondisi jembatan-jembatan kereta api di Indonesia, sehingga KNKT mengundang ITERA dan beberapa ahli di bidang trasnportasi kereta api untuk mengkaji keamanan jembatan secara nasional.

“Purino KA ITERA bersama BPPT telah menggalang kerja sama yang lebih luas lagi dengan KNKT dan KAI tentang SHMS. Dalam waktu dekat kami akan diskusi lebih lanjut dengan KNKT untuk menentukan sejumlah jembatan kereta api lain yang akan dijadikan objek penelitian dan implementasi SHMS,” ujar Julison, Rabu (20/1/2021).

Untuk tahap awal, Kepala Purino Perkeretaapian ITERA, dan dosen tim peneliti di Purino Perkeretaapian ITERA, M. Abi Berkah Nadi, S.T., M.T.,dan Nurmagita Pamursari, S.T., M.T. dilibatkan dalam rapat koordinasi membahas kasus robohnya jembatan Kereta Api BH 1120 yang dikoordinator oleh KNKT. Dalam diskusi tersebut tim ITERA dimintai memberikan saran dan masukan dalam kajian keamanan jembatan di Indonesia, mengingat sudah berumurnya jembatan kereta di beberapa lokasi di Indonesia. 

 “Keruntuhan Jembatan di Indonesia banyak terjadi akibat adanya miss calculate pada debit bajir melebihi dari rencana dimana struktur pilar tidak dapat menahan beban air yang datang, selain itu kekuatan struktur pilar yang tidak lagi bisa menerima beban serta kurangnya pemeliharaan juga menjadi penyebab,” ujar salah satu dosen peneliti Purino Perkeretaapian ITERA, M. Abi Berkah.

Dalam forum tersebut Tim Purino Perkeretaapian ITERA kembali memaparkan model pemeliharaan dan pemeriksaan rutin jembatan kereta api menggunakan Structural Health Monitoring System (SHMS). Dengan sistem monitoring ini, dapat dilihat kondisi jembatan kereta api melalui signal sensor yang akan membantu melihat beberapa komponen mulai dari strain, deflection, dan displacement; serta analisa numeric. 

“Penelitian jembatan kereta BH 77 Tegineneng Lampung, yang kami lakukan diharapkan dapat menjadi dasar perhitungan SHMS jembatan kereta api di Indonesia, agar kedepannya tidak ada lagi jembatan kereta api yang akan runtuh kegagalan struktur,” ujar M. Abi Berkah. 

Sejak awal, Purino Perkeretaapian ITERA telah melibatkan kelompok keahlian lain di ITERA untuk turut serta dalam penelitian berbagai aspek kesehatan (keteguhan) struktur jembatan BH 77 tersebut. Misalnya telah dilakukan penelitian pengukuran frekuensi alami dan pergerakan tanah di sekitar pangkal jembatan bersama rekan-rekan dari Geofisika ITERA juga telah dibuat model (mock-up) jembatan BH 77 untuk peragaan dalam diskusi serta penentuan tempat pemasangan sensor.

Selain memiliki pusat riset dan inovasi perkeretaapian, ITERA juga telah membuka program studi Teknik Perkeretaapian, yang telah menerima mahasiswa angkatan pertamanya pada tahun 2020. 

Selama ini dukungan penuh pimpinan untuk riset tentang perkeretaapian juga selalu diberikan, melalui LP3 dan berbagai kelompok keahlian lain di ITERA. Purino Perkeretaapian ITERA juga telah bermitra erat dengan beberapa instansi seperti BPPT dan Kementerian Perhubungan, BUMN, PT KAI, PT LEN, dan PT INKA. (*)

Reaksi anda terhadap berita ini :

Komentar

00:00:00 / 00:00:00