Goa Londo, Potensi Wisata yang Belum Tergali

KBRN, Lampung Selatan: Desa Rejosari, Kecamatan Natar, Kabupaten Lampung Selatan, menyimpan potensi wisata. Salah satunya Goa Londo. Namun, potensi wisata itu belum tergali, lantaran terkendala izin dari PTPN VII, pemilik lahan.

Kepala Desa Rejosari, Kecamatan Natar, Lampung Selatan, Teguh Maulana, mengatakan keinginan pihaknya mengembangkan berbagai potensi wisata yang ada di desanya nampaknya membutuhkan proses panjang dan perjuangan yang keras.

Pasalnya, meskipun di Desa Rejosari terdapat potensi wisata berupa goa, yakni Goa Londo, namun hingga saat ini potensinya masih belum tergali.

“Untuk menjadikan lokasi itu sebagai destinasi wisata desa, kami menemui terkendala, karena harus mendapatkan izin dan kerjasama dengan PTPN VII, kareena lokasinya ada di lahan perkebunan milik PTPN VII,” kata Teguh Maulana, Rabu (19/1/2022).

Teguh mengaku, dirinya sudah beberapa kali mengajukan permohonan, namun usahanya kandas. Itu sebabnya dia berharap, keinginannya tersebut mendapat dukungan dari eksekutif maupun legislatif, baik di tingkat kabupaten maupun provinsi.

“Tentu kami minta bantuan. Ini kan ada Anggota DPRD dari Partai NasDem, Bapak Wahrul. Intinya kami minta dibantu untuk difasilitasi, baik ke perusahaan maupun instansi terkait,” tandasnya.

Sementara itu, Anggota DPRD Lampung dari daerah pemilihan (Dapil) Lampung Selatan, Wahrul Fauzi Silalahi mengatakan, dirinya mendukung dan mendorong upaya yang dilakukan oleh perangkat Desa Rejosari, Kecamatan Natar, dalam menggali dan mengembangkan potensi wisata.

Sebab, keberadaan potensi wisata dapat meningkatkan perekonomian masyarakat.

“Oleh karena itu, kami meminta PTPN VII selaku pemilik lahan memberikan izin pengelolaan lahan tersebut. Ini kan bukan untuk menguasai lahan secara sepihak,” tegas Anggota Fraksi Partai NasDem DPRD Lampung, seraya  memastikan kesiapannya membantu memfasilitasi persoalan itu ke dinas terkait.

Teguh Maulana menambahkan, Goa Londo yang telah ditemukan sejak penjajahan belanda itu dikenal oleh warga sebagai goa yang dalam bahasa Indonesia berarti Goa Belanda.

Menurut cerita warga setempat, goa tersebut menjadi tempat penyimpanan senjata saat masa penjajahan. 

Reaksi anda terhadap berita ini :

Komentar