YKWS dan Walhi Gelar Pelatihan Budidaya Madu Klanceng

Suasana pelatihan budidaya Madu Klanceng yang diinisiasi YKWS dan WALHI/ist

KBRN, Lampung Timur: Konsorsium Yayasan Konservasi Way Seputih (YKWS) dan Walhi menggelar pelatihan budidaya lebah Madu Trigona (klanceng) di Desa Tegal Yoso, Kecamatan Purbolinggo, Lampung Timur.

Pelatihan budidaya madu klanceng sengaja dilakukan di Desa Tegal Yoso, lantaran wilayah itu berbatasan langsung dengan Taman Nasional Way Kambas (TNWK), dan masyarakatnya kerap berkonflik dengan gajah.

Konflik itu menyebabkan tanaman masyarakat rusak. Ironisnya, tidak ada ganti rugi yang diberikan kepada warga. 

Itu sebabnya untuk mengatasi persoalan tersebut, perlu ada sumber pencaharian pendukung/tambahan yang memiliki nilai ekonomis tinggi.

Pelatihan yang mendatangkan 2 fasilitator dari Kelompok Tani Hutan (KTH) dari Rantau Jaya Udik, dihadiri perwakilan 2 KTH di Desa Tegal Yoso, yaitu KTH Wono Segoro Madu dan KTH Wana Karya, dan didukung Asean Center For Biodivercity. 

Salah satu fasilitator, Ujang mengatakan pelatihan ternak madu yang diajarkan yaitu Lebah Trigona berukuran sedang.

Menurutnya, Lebah Trigona dipilih karena dipercaya memiliki khasiat yang lebih manjur meskipun harus melalui perawatan ekstra karena predatornya cukup banyak seperti iguana, kadal, cicak, dan serangga. 

Selain itu, lanjut Ujang, Madu Trigona juga tidak memerlukan pakan yang sulit, karena  pakan yang dibutuhkan seperti bunga air mata pengantin dan kaliandra.

"Bunga air mata pengantin sangat mudah ditanam, serta bisa berbunga setiap hari dan banyak. Tentu ini menjadi keuntungan bagi peternak," kata Ujang, dalam rilisnya Rabu (28/7/2021) malam. 

Project Manajer YKWS, Isyanto menuturkan selain mendapatkan ilmu, masyarakat juga bisa memperbaiki lingkungan sekitar.

"Jika setiap kita menanam tanaman 1 meter persegi lebar daun itu bisa mengasilkan 1 meter kubik oksigen tiap hari," paparnya 

Selain itu menurutnya, budidaya Madu Klanceng juga bisa menjadi salah satu bentuk penangan konflik manusia dengan gajah.

Sebab 40% wilayah di Desa Tegal Yoso merupakan wilayah jelajah gajah, sehingga potensi kerusakan tanaman warga juga sangat besar.

"Dengan pelatihan ini, warga bisa terbantu secara ekonomi saat gajah nantinya merusak tanaman. Namun kita juga tidak bisa mengandalkan Madu Trigona karena per log itu hanya bisa dipanen sebulan sekali. Itu pun 1 log hanya bisa menghasilkan 1 liter yang kalau dijual hanya menghasilkan ratusan ribu. Jadi kita bisa menjual wisatanya, karena mau tidak mau, kita harus hidup berdampingan dengan gajah," pungkas Isyanto. 

Sementara itu, Kepala Desa Tegal Yoso, Moh. Yani mendukung pelatihan budidaya Madu Klanceng tersebut.

Ia juga memastikan, kedepan Desa Tegal Yoso akan mengembangkan wisata Madu Trigona yang bisa diambil langsung dari sarangnya.

"Semoga kedepan ilmu yang didapat bisa diterapkan dan bisa membantu Desa Tegal Yoso mewujudkan keinginan menjadi desa wisata yang asri dan indah," paparnya.

Dalam kegiatan itu, warga juga menyetujui setiap KTH dari Desa Tegal Yoso akan menyediakan 400 bibit bunga air mata pengantin yang akan dibagikan.

Sesuai target, bibit itu akan disiapkan dalam kurun waktu satu bulan yang akan datang. 

Reaksi anda terhadap berita ini :

Komentar

00:00:00 / 00:00:00