FOKUS: #PPKM MIKRO

Ini Penjelasan Kapolres Soal Video Diduga Jual Hasil Swab di Lampung Selatan

Tangkapan layar Kapolres Lampung Selatan, AKBP Edwin/ist

KBRN, Lampung Selatan: Menanggapi viralnya video di media sosial terkait dugaan pungutan liar (pungli) rapid test di dalam bus saat penyekatan PPKM di Lampung Selatan, Kapolres Lampung Selatan AKBP Edwin memastikan, pelaksanaan rapid test antigen berbayar yang dilakukan Klinik Assalam Medical Centre 3 merupakan hasil kerjasama dengan organisasi angkutan darat (Organda) setempat.

“Selain bekerjasama dengan Organda, klinik juga telah mengantongi izin dari Dinas Kesehatan (Dinkes) setempat,” kata Kapolres Lampung Selatan AKBP Edwin, melalui keterangan yang diterima RRI.co.id, Rabu (28/7/2021).

Kapolres membenarkan, lokasi dalam video terjadi di Rest Area KM 33 Jalan Tol Trans Sumatera (JTTS).

“Kami dari polres melakukan penyelidikan, lokasi tersebut memang rapid antigen berbayar yang disediakan oleh Organda bekerjasama dengan Assalam Medical Centre selaku pihak ketiga yang melakukan rapid antigen, dan Hutama Karya (HK) sebagai penyedia tempat untuk melakukan rapid antigen kepada penumpang bus,” tandas Kapolres.

Namun Kapolres mengakui, pihaknya tidak mendapat informasi dan penyelenggara tidak berkoordinasi dengan POlres Lampung Selatan.

“Tapi, mereka (klinik) hanya berkoordinasi dengan PT. Hutama Karya selaku pengelola JTTS, dan kami tidak diberi informasi terkait pelaksanaan rapid test antigen itu,” tegas AKBP Edwin.

Kedepan dia meminya lembaga resmi berkoodinasi dengan Polres Lampung Selatan, jika hendak melakukan kegiatan serupa.

“Ini kan menyangkut orang banyak (masyarakat), kami berharap diinformasikan agar tidak ada persoalan dikemudian hari yang berakibat tidak baik kepada petugas,” pungkasnya.

Dia Sebelumnya viral video berdurasi 1 menit 34 detik berisi seorang wanita dengan menggunakan APD lengkap diduga menjual surat hasil antigen atau swab kepada penumpang bus di rest area Jalan Tol Trans Sumatera (JTTS).

Petugas itu terlihat berdiri di samping kursi sopir bus. Tangan kirinya memegang sejumlah kertas hasil rapid antigen beserta KTP para penumpang dan sejumlah uang kertas.

Salah satu penumpang yang merekam video terdengar menanyakan nominal harga yang harus dibayar untuk mendapatkan surat hasil hasil rapid antigen.

Secara lugas wanita itu menjawab pertanyaannya penumpang harus membayar sebesar Rp.90.000, dan masa berlaku surat itu selama 1x24 jam.

Wanita itu sadar ada salah satu penumpang yang merekam aktivitasnya. Ia mengatakan dirinya tidak ikhlas jika videonya diviralkan dan tidak bersedia untuk menyebutkan identitasnya.

Reaksi anda terhadap berita ini :

Komentar

00:00:00 / 00:00:00