Antisipasi Dampak Kemarau Disektor Pertanian

KBRN, Bandar Lampung : Puncak musim kemarau yang diprediksi Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) masih akan berlangsung hingga akhir bulan September ini, wajib diantisipasi seluruh masyarakat dan pemerintah. Hal itu karena meski diprediksi, musim kemarau diwilayah Provinsi Lampung pada tahun ini lebih basah jika dibandingkan musim kemarau tahun lalu, namun pemerintah dam masyarakat harus tetap mewaspadai bencana yang ditimbulkan.

Forcaster Iklim Stasiun Klimatologi Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) Pesawaran Lampung Eva Nurhayati kepada RRI mengatakan, selain bencana Kebakaran Hutan dan Lahan (Karhutla), puncak musim kemarau yang melanda wilayah Lampung sejak bulan Agustus tersebut, dapat berpotensi menimbulkan bencana kekeringan.

Bencana kekeringan itu menurutnya tidak hanya dirasakan masyarakat perkotaan, dengan akan berkurangnya persediaan air bersih, melainkan juga akan berdampak pada sektor pertanian.

Terkait hal itu menurut Eva Nurhayati, BMKG telah memberikan imbauan kepada pemerintah yang ditujukan kepada petani diwilayah Lampung, tidak memulai aktivitas bercocok tanam selama musim kemarau saat ini, untuk menghindari dampak kerugian yang ditimbulkan.

Aktivitas bercocok tanam lanjutnya dapat mulai dilakukan ketika diprediksi, intensitas curah hujan akan mulai kembali normal.

"Pemerintah dan petani agar dapat memperhatikan pola tanam pada musim kemarau. Ini agar dapat menekan kerugian disketor pertanian saat musim kemarau berlangsung,”jelasnya (23/5/2022).

Seperti diketahui, berdasarkan prediksi Stasiun Klimatologi BMKG Pesawaran, Lampung meski puncak musim kemarau diprediksi akan berakhir pada bulan September ini, namun masa peralihan dari musim kemarau ke musim hujan baru akan terjadi pada awal November mendatang.

Sementara pada bulan Oktober, BMKG memprediksi musim kemarau masih akan terjadi pada beberapa wilayah di Provinsi Lampung, seperti wilayah Kabupaten Lampung Selatan.

Reaksi anda terhadap berita ini :

Komentar