Bukti Cinta Itu Namanya Qurban

Foto : Ist

Oleh: Muhammad Nasril, Lc. MA

KBRN, Banda Aceh : Hari ini  sudah memasuki tanggal 7 Dzulhijjah 1441 H (28/7/2020), sebentar lagi kita akan bertemu dengan 10 Zulhijjah, hari istimewa bagi umat Islam di belahan dunia manapun yaitu Hari Raya ‘Idul Adha. 

Hari raya ini juga sering disebut dengan hari raya qurban, karena pada hari itu dan hari tasyrik dilakukan penyembelihan hewan qurban dalam rangka taqarrub kepada Allah SWT.

Namun, kondisi tahun ini berbeda dari tahun sebelumnya, menyambut Zulhijjah tak seistimewa biasanya, karena tahun ini tidak ada calon jamaah haji yang berangkat dari Indonesia, karena alasan pandemi Covid-19, sehingga gaungnya juga tak semeriah dulu, terkesan seperti pergantian bulan lainnya. 

Tidak ada jamaah calon haji (JCH) bukan berarti tidak ada Arafah, juga bukan berarti tidak ada hari tasyrik. Puasa Arafah tetap disunnahkan, begitu juga dengan menyembelih qurban.

Tentu, sebagian kita telah melakukan berbagai persiapan dalam rangka  menyambut Idul Adha dengan hewan qurban terbaik masing-masing, ada yang memulainya setahun yang lalu dengan menyisihkan sedikit rejeki bersama 7 anggota kelompok dan ada juga yang menyerahkan ke panitia-panitia yang melaksanakan Ibadah qurban.

Akan tetapi, ada juga sebagian kita  yang memiliki kemampuan materi tetapi mereka menyambut  Idul Adha hanya sebatas seremonial saja  dengan baju barunya, terasa sangat berat untuk berqurban, padahal Qurban merupakan salah satu cara membuktikan kecintaan kita kepada sang Pencipta, Allah SWT.

Kita sering mendengar ungkapan cinta yang diucapkan melalui lisan oleh seorang insan kepada seseorang, seperti halnya ungkapan cinta sang istri kepada suami atau sebaliknya, begitu juga dengan cinta orang tua kepada sang anak ataupun sebaliknya, semua itu akan terasa tawar kalaulah ungkapan cinta tersebut hanya sebatas kata-kata puitis saja tanpa ada pembuktian, baik itu dengan sikap maupun pengorbanan. 

Begitu juga cinta seorang manusia kepada Rabb dan Rasulnya, kata cinta dengan lisan saja tidaklah cukup, karena cinta hakiki harus dibarengi dengan pengorbanan, menjadi insan yang siap mengerjakan segala perintah dan meninggalkan larangannya. 

Pembuktian cinta seorang hamba kepada Rabbnya juga bisa dilihat melalui ibadahnya, termasuk ibadah qurban. Maka momentum ini menjadi tolak ukur seorang hamba, apakah ia akan melaksanakan ibadah qurban  atau ia akan membiarkan kesempatan  itu berlalu begitu saja, menyambut Idul Adha tanpa qurban. 

Seyogyanya, kita yang mengaku dan mengungkapkan cinta akan melakukan pembuktian untuk itu dengan segala bentuk pengorbanan.

Dalam shalat, saat membaca doa iftitah kita selalu mengucapkan “Sesungguhnya shalatku ibadahku (qurbanku), hidup dan matiku untuk Allah”. Akan tetapi realitanya berbeda,kita masih sering mendahulukan kebutuhan si buah hati daripada mewujudkan pengorbanan kepda Allah,  cinta kepada manusia lebih diutamakan. Umpamanya kalau si anak meminta sesuatu seperti sepeda motor, mobil, HP, laptop dan lain-lainya, tidak perlu waktu lama, setelah berdiskusi sejenak ataupun kadang tidak perlu diskusi lagi langsung bisa diwujudkan, seakan terasa ringan.

Akan tetapi, kalau untuk qurban seakan terasa berat, walaupun harganya tidak semahal HP, motor dan mobil. Padahal masa persiapan untuk melaksanakan udhiyyah sangat panjang yaitu selama setahun, berbeda dengan permintaan istri, anak, atasan dan lain-lainnya walaupun mendadak siap dipenuhi. Disini, mulai nampak keimanan dan wujud bukti cinta seseorang kepada Rabbnya, apakah ia akan menyanggupi perintahnya atau tidak.

Banyak di antara kita atau di kampung, ketika hari raya qurban, hanya ada qurban satu atau dua tiga ekor kambing saja, padahal dalam masyarakat tersebut terdapat banyak orang kaya. Padahal keimanan adalah faktor utama yang membuat mereka enggan berqurban, seakan mereka mengabaikan perintah untuk berqurban. Sehingga ungkapan cinta yang sering disebutkan sehari-hari hanya sebatas kata-kata gombal tanpa ada pembuktian dengan pengorbanan. 

Sejenak, mari melihat bagaimana kisah Nabi Ibrahim AS yang rela menyembelih  anak kesayangannya yang telah lama ia nantikan kehadirannya sejak bertahun-tahun, namun karena perintah Allah, Nabi Ibrahim AS siap melaksanakannya dengan penuh keikhlasan dan kesabaran, sehingga ketika nabi Ibrahim hendak melaksanakan penyembelihan terhadap Nabi Ismail AS, Allah gantikan dengan kibas. 

Tentu semua kita mengetahui bagaimana cinta seorang ayah kepada anak, layaknya nabi Ibrahim yang sangat mencintai anaknya, akan tetapi Nabi Ibrahim AS siap memenuhi perintah Allah dengan penuh keimanan dan apapun perintah itu, termasuk menyembelih anak tercinta. Sementara kita berbeda, aplikasi cinta kepada anak dengan memberikan apa yang dia inginkan, padahal belum tentu dengan itu membawa ia kepada kemashlahatan. Namun, untuk  melaksanakan anjuran Rasulullah SAW untuk qurban sangat berat, bahkan kadang dengan berani mengabaikan apa yang diperintahkan oleh Allah SWT. 

Padahal qurban merupakan ibadah yang sangat mulia, dan memiliki banyak keutamaan, sebagaimana sabda Rasulullah SAW  “Dari Zaid ibn Arqam, ia berkata atau mereka berkata: “Wahai Rasulullah SAW, apakah qurban itu?” Rasulullah menjawab: “Qurban adalah sunnahnya bapak kalian, Nabi Ibrahim.” Mereka menjawab: “Apa keutamaan yang kami akan peroleh dengan qurban itu?” Rasulullah menjawab: “Setiap satu helai rambutnya adalah satu kebaikan.”Mereka menjawab: “Kalau bulu-bulunya?”Rasulullah menjawab: “Setiap satu helai bulunya juga satu kebaikan.” [HR. Ahmad dan ibn Majah].

Hadits  Ini menunjukkan betapa banyak pahala bagi mereka yang mau berqurban, hanya saja pebedaannya adalah  ganjaran yang diberikan bukanlah di dunia yang fana ini, melainkan di akhirat  kelak yang lebih baik dan kekal. Manusia condong mencari sesuatu yang tidak abadi atau yang instan, berlomba-lomba dalam mengejar yang tidak pasti, meninggalkan sesuatu yang pasti. Padahal Allah telah memberikan nikmat bermacam-macam kepada manusia, tapi hanya sedikit yang bersyukur.

Begitu juga dalam hadits yang lain, Rasulullah SAW  bersabda: “Siapa yang mendapati dirinya dalam keadaan lapang, lalu ia tidak berqurban, maka janganlah ia mendekati tempat shalat kami.” (HR. Ahmad dan Ibnu Majah). 

Tentu, hadits ini berupa peringatan keras dari Rasulullah kepada siapa saja yang mampu untuk berqurban tapi mereka tidak mau berqurban. Mereka mengucapkan cinta kepada Rasulullah SAW tapi mereka lebih mengedepankan cinta kepada anak atau istrinya, siap berkorban apa saja untuk mereka tapi tidak mau berqurban mengikuti perintah Rasulullah SAW. Padahal para ulama telah menjelaskan bahwa ibadah harta benda yang paling mulia adalah menyembelih qurban,  sedangkan ibadah badan yang paling utama adalah shalat.

Ibadah qurban merupakan ibadah yang mengandung dimensi sosialnya sangat kental, dimana setelah hewan qurbannya disembelih, dagingnya dibagikan kepada orang yang kurang mampu sebagai bentuk kecintaan dan kepedulian mereka terhadap sesama.

Kalaulah sebagian saudara-saudara kita yang berada di tanah suci sedang melaksanakan ibadah haji penuh khusyuk dalam manasik haji mereka, maka kita di sini juga seharusnya hanyut dalam ibadah shalat ied dan ibadah qurban, berbagi bersama saudara dan tetangga. Untuk mewujudkan pengorbanan cinta kita Kepada Allah SWT dan Rasul-Nya belumlah terlambat, masih ada kesempatan bagi yang ada kemampuan untuk menyiapkan hewan qurban terbaiknya.

Kalaulah selama ini rumah mewah, mobil dan permintaan lainnya oleh sang anak begitu mudah kita penuhi, maka untuk kali ini dan seterusnya berqurban yang jauh lebih ringan haruslah menjadi prioritas utama, sebagai bukti keimanan dan kecintaan kita kepada Allah SWT. Saudaraku, kini saatnya pembuktian cinta, kesempatan itu masih ada, kalaupun tahun ini kita belum mampu melaksanakan qurban, mari persiapkan sebisa mungkin untuk tahun depan.

*** ASN Kemenag Aceh dan Anggota Ikat Aceh

Reaksi anda terhadap berita ini :

Komentar

00:00:00 / 00:00:00