Ada Kopi dan Sejarah Bersanding di Sabang Pulau Weh

Sineas Fauzan Santa
Ngobar dan Nobar Kopi di Museum BPKS Sabang
Muhammad Khadafi sang Jihadis Kopi
Ka. Museum BPKS Kota Sabang_Boy Evan F.
Pemutaran Film About The Coffe
Kadisparbud, Sekparbud, Khadafi dan Boy Evan

KBRN, Sabang : Memunculkan Apresiasi bagi Kopi dan Sejarah, Terjalin Kolaborasi keduanya. Ada Aroma Kopi dan literasi masa lalu saat menghadiri Pemutaran Film About Coffe Karya Brandon Loper  di Museum BPKS Kota Sabang.

Pertunjukan di ruangan Teater di Museum BPKS Sabang tidak biasanya, Kami diundang untuk menikmati Kopi, Diskusi dan menonton, bunyi Undangan itu.

Memasuki ruangan, Fikiran di benak mulai pupus dari sekedar ngopi bareng, obrol dan pulang. Tapi ada seperangkat alat peracik kopi atau grinder, Melihat aneka bahan bakunya Dikalangan Peracik Kopi  mungkin ini yang disebut metode Pour over ada tabung mirip yang dijumpai di Laboratorium Kimia, Peracik berbahan besi bahkan tembaga. Pemandangan ini menepis anggapan santai kami saat masuk ke ruang  teater BPKS Kota Sabang.

Redup ruangan menandai Pemutaran Film Dokumenter About Coffe Karya Brandon Loper yang dalam catatan  kami dirilis pada 26 April 2014, Bulan mengenang terjadinya Pemusnahan Etnis di Ruanda sana, Namun Dari sebuah artikel,  Sutradara Brandon Loper menyebutkan bahwa film yang dibuatnya ini adalah surat cinta serta perenungan untuk mendapatkan makna sesungguhnya dari dunia coffee specialt.

Ruanda Negara dengan sisi gelap perang Entnis  Hutu dan Tutsi, Bahkan Peristiwa pembersihan etnis. Tokoh genocidanya Felicien Kabuga bahkan baru saja ditangkap tahun lalu, Ternyata punya sisi lain bagi Perjalanan Kopi. Mulai dari Proses dari pemetikan buah, ritual Pengolahan, Berkeliling dunia, Hingga tersaji di cangkir. Jadi itulah sisi tentang Kopi.

Setelah Menyaksikan Pemutaran Film ada Sineas Aceh Fauzan Santa, Memapar dan menjalin Pandangan di balik sajian Kopi dan Film. Yang menggeser anggapan kopi lebih dari sekedar “kudapan”.

“Ada Kopi ada cerita, di kedai kopi ada bumbu-bumbu, ada kabar, juga sering ada fitnah”  sebut Fauzan semi berkelakar.

Paparan Fauzan seakan menggiring ke ruang antara elaborasi sinema, Kekuatan kopi dan ngopi yang mempengaruhi tatanan Sosial, Ekonomi bahkan Seni.    

Terselenggara nya acara tak bisa di bilang Sempurna tanpa nama Muhammad Khadafi. “jihadis Kopi”  sebut Sineas Fauzan Santa untuk Putra asli Sabang yang sudah melanglang buana ke sejumlah daerah. Pengelola salah satu Kedai Kopi Weh Island sekaligus peracik kopi ini tampak terampil, bak penari, Bahkan ada kesan sedikit ber-ritual saat meracik. Menandakan dia bukan orang baru di ranah ini. Saat berbincang Kadhafi mengaku, Semuanya di mulai 2 tahun lalu. darinya pula diketahui bahwa Sabang memiliki komuni tumbuhan dataran tinggi ini, Terutama jenis Liberica.  Tak diketahui jelas memang mengapa ada varian asal negara Liberia itu bisa tumbuh di Sabang, Seperti di Kawasan Paya, Kampung dalam dan Cot Labu. Disitulah terbetik asa  Khadafi untuk mengembangkan.

“saat itu liburan Lebaran saya pulang kerumah orangtua, Saya melihat ada sebuah pohon kopi di daerah Panton arah ke Iboih. Dalam benak saya pasti ada yang lainnya. Ternyata memang ada di Paya di kampung dalam dan Cot Labu. Tapi saat ini saya masih dalam tahap merintis. Saya coba perlahan membangun dengan mengelola Kedai kopi dulu. Karena saya juga punya kehidupan yang harus terus berjalan” Ujarnya belum lama ini saat Pemutaran Film Dokumenter About Coffe di Sabang.

Saat ini memang di kedai kopi nya masih kebanyakan menggunakan Kopi gayo, Sedangkan Kopi Liberica asal Sabang masih terbatas di sajikan.  Masih harus menunggu 18 bulan untuk bisa di dipanen dan diolah.  

“kopi Sabang memang masih terbatas, Seminggu paling stok bisa bertahan. Karena Prosesnya memakan waktu 18 bulan. Jadi menutupinya kita gunakan biji kopi gayo. Tapi itu pun orisinil tidak ada campuran. Karena kita yang mengolah dan meracik sendiri” sambung Khadafi.

Dia menambahkan saat ini baru 1 hektar lahan yang tergarap dari 2 hektar total lahan yang ada, dan merupakan hasil kerjasamanya dengan pemilik lahan setempat. dengan alat seadanya tutur Khadafi, Ia kukuh akan mengembangkan lagi varian ini  di Sabang.

“perlahan-lahan ini kita bangun, dengan teman-teman dan anak- anak muda ini, dengan alat sederhana tapi Kita coba yang berbeda, Tidak ada campuran apapun saat Proses peracikan (roasting) manual, jadi aman bagi penikmatnya yang takut akan dampak lain ngopi’ tuturnya.

Ia menggantungkan harapan satu saat Industri ini akan mendunia, Karena varian liberica sudah merambah pasar beberapa negara seperti Philipina, Thailand, Malaysia bahkan Arab Saudi.

Persandingan Kopi dan Sejarah ini memang jarang tersaji. Konsep Sinema dan Sejarah memang kerap diadakan di Museum BPKS Sabang, Tapi Kopi memang baru kali ini.

Kepala Musem BPKS Sabang Evan Boy Foreman menangkap Kesempatan ini dengan antusias. Kombinasi ini menurutnya sebuah terobosan. Ia menggambarkan Konsep ini merupakan gabungan masa dulu, Masa sekarang dan masa depan. Ruangan teater pun kata Boy mulai sekarang akan terus di berdayakan dan digunakan untuk mitra bagi pemutaran film yang bermanfaat.

“ini satu ramuan yang kompleks. Masa lalu itu bicara soal museum. Masa kini ya di Kafe, dan masa yang akan datang ini bagaimana ketiganya nanti bisa berdaya bersama. Hari ini kita menggandeng kafe, kita coba eksplor. Kita mengangkat sejarah dengan ini”.  tambahnya.

Sebenarnya Museum sendiri sebut Boy memiliki dua ruangan teater salah satunya teater Mini yang bersisian dengan ruangan koleksi benda sejarah di Museum Sabang. Sedangkan ruangan Teater berukuran medium selama ini termasuk jarang di gunakan. Penggunaan Ruangan pemutaran film ini akan lebih di tingkatkan dengan mekanisme yang di upayakan se sederhana mungkin, Sehingga tidak menyulitkan dan akan saling bermanfaat. Tidak sekedar memancing banyak masyarakat yang datang, Boy pun berjanji sejarah Sabang perlahan akan di koleksi sempurna. Sehingga nilai dan mutu sejarah di Musem BPKS ini akan semakin baik dan beragam. 

Pada Kegiatan ini juga mengundang sejumlah Pihak Mulai dari Kadisparbud Kota Sabang Faisal, Sekretaris Dinas Parbud Toibah Rusli serta para undangan lain yang berkompeten. Ada Kesan tertanam di benak sesaat, Cinta Sabang, Kerja keras, dan tentunya Kopi khas Sabang.

“ini potensial, Patut kita kembangkan sebagai salah satu penarik Pariwisata kita. Selain itu punya keunikan berbeda. Kopi Sabang tidak punya dampak kesehatan, ini sangat bijak dan patut di coba semua pelancong nanti” Ujar Sekretaris Disparbud Kota Sabang Toibah Rusli pada kesempatan itu. 

Sajian Kopi dan Sejarah tentu diharapkan tak sampai disini, Ada harapan  bagian sejarah akan semakin terangkat, Ada cita geliat  Pariwisata disana, dan tak ketinggalan asa, Kopi Sabang akan muncul perlahan sebagai salah satu sajian di depan meja para Pelancong di Sabang, Bahkan juga Kedai Kopi Mancanegara.  (MT)

Reaksi anda terhadap berita ini :

Komentar

00:00:00 / 00:00:00