Melihat Lorong Ingatan, Jejak Pelanggaran HAM pada Masa Konflik Aceh

KBRN, Banda Aceh : Komisi Untuk Orang Hilang dan Korban Tindakan Kekerasan (KontraS) Aceh memperingati hari Hak Azasi Manusia (HAM) yang jatuh pada tanggal 10 Desember. Peringatan Khauri Nujoh itu berlangsung di kantor KontraS Aceh di Banda Aceh sejak kemarin ini hingga hari ini, Selasa (10/12/2/2019). 

Pada peringatan hari HAM ini, mengingat kembali tentang kasus-kasus pelanggaran HAM yang terjadi di Aceh saat daerah ini masih didera konflik. Pada peringatan HAM kali ini ada beberapa replika yang bisa dilihat salah satunya sepatu PDL yang terbuat dari bambu dengan ukuran yang besar. Sepatu tersebut terdapat di dalam lorong ingatan. Ini bukan untuk membuka luka dan kesedihan masa konflik, namun untuk merefleksi dan mengingat kembali bagaimana dampak konflik yang terjadi sehingga diharapkan konflik serupa tidak lagi terulangi dan perdamaian Aceh terus terjaga dengan baik. 

Di dalam lorong ingatan, terdapat sepatu yang didalamnya diisi pecahan-pecahan kaca. “Ini mengartikan bahwa sepatu PDL tersebut derap langkah aparat saat memasuki perkampungan-perkampungan penduduk pada masa konflik, bisa dibayangkan apa yang dirasakan masyarakat Aceh saat itu, hanya ketakutan saat mendengar langkah sepatu aparat. Ini siapa lagi yang akan dijemput, ini siapa lagi yang akan mendapat pukulan. Sangking ketakutannya masyarakat hanya bertahan di rumah bahkan mereka hanya mendengar derap langkah saja dan tidak berani untuk keluar melihat siapa yang datang, karena resikonya nyawa bisa hilang,” begitulah kisah masa konflik Aceh yang diceritakan Koordinator KontraS Aceh Hendra Saputra, Selasa (10/12/2019). 

Selain replika sepatu, di bagian lain lorong ingatan itu juga terdapat kursi penyiksaan. Kursi tersebut dialiri listrik untuk menyiksa orang-orang yang diurigai sparatis GAM.

“Kursi ini memang benar adanya, tapi kurang lebih bentuknya seperti itu, tujuannya untuk menyiksa orang-orang yang dicurigai GAM. Saat diintrograsi ketika tidak mengaku maka akan disetrum. Kursi ini terdapat di semua lokasi-lokasi tempat penyiksaan seperti di Rumoh Geudong dan Pinto Sa yang berada di Kabupaten Pidie,” ungkap Hendra. 

Hendra menjelaskan, peringatan HAM ini bertujuan untuk menyasar anak muda atau generasi milenial di Aceh agar bisa mengetahui bagaimana masa konflik. 

“Target utama adalah pada kelompok-kelompok anak muda, karena untuk memahami dan mengetahui bagaimana konflik masa lalu, jangan sampai cerita konflik ini hanya dianggap sebagai dongeng oleh generasi-generasi muda sekarang,” ujar Hendra. 

Penting diketahui masa konflik Aceh karena apa yang terjadi ada masa itu melampaui akal sehat jika dibayangkan pada masa sekarang. “Beberapa hal yang terjadi di sini itu melompati akal sehat kita, karena penyiksaan melompati akal sehat kita, karena kalau kita pikir sekarang sudah tidak mungkin terjadi,” tandasnya. 

Hendra menambahkan, Aceh dulu memiliki sejarah kelam. Puluhan tahun daerah tanah rencong dilanda konflik bekepanjangan. Banyak orang-orang yang mati sia-sia dan hilang sampai saat ini belum diketahui keberadaannya. 

“Aceh dulu punya sejarah kelam, mari kita rawat mari kita ingat, tapi ini menjadi ingatan kita untuk menjaga perdamaian. Kita perbaiki luka-luka yang ada di jaman konflik dulu hanya untuk merawat perdamaian. Kalau tidak dirawat, maka luka ini bukan hanya di generasi dulu, tapi yang dikhawatirkan akan diwarisi kepada generasi sekarang. Maka akan sangat mudah dipicu hal-hal negatif dan akan dimanfaatkan oeh pihak-pihak yang tidak ingin aceh ini damai.  Sehingga momentum ini sebagai bentuk upaya kita untuk merawat perdamaian Aceh,” kata Hendra. 

Sementara itu, Anggota DPR Aceh Darwati A. Gani yang juga ikut hadir pada peringatan HAM menuturkan, konflik Aceh merupakan hal pilu dan miris yang dirasakan warga Aceh, termasuk dirinya sendiri juga merupakan bagian dari orang-orang yang merasakan dampak konflik itu sendiri. 

“Ini tentu sangat memiriskan kita semua, banyak kejadian-kejadian yang melanggar HAM yang terjadi di masa yang lampau. Saya sendiri juga menjadi bagian masa konflik terdahulu. Pak Irwandi Yusuf, suami saya yang juga tokoh GAM juga sempat dipenjara,” beber Darwati. 

“Dan Alhamdulillah kita sudah melalui masa konflik itu semua. Kita berharap ke depan Aceh semakin bisa baik lagi, siapapun pucuk pimpinan di Aceh itu adalah hasil dari peristiwa-peristiwa konflik di masa lampau. Sehingga ini menjadi pertimbangan bagi pemimpin Aceh untuk membawa Aceh ke arah yang lebih baik dan mensejahterakan masyarakat,” harap Darwati. 

Kegiatan peringatan HAM Khauri Nujoh ini berupa pameran foto, seni, musikaliasi puisi, penampilan mural. Kegiatan ini didukung dari berbagai unsur dari sejumlah LSM yang peduli di bidang HAM. 

Reaksi anda terhadap berita ini :

Komentar

00:00:00 / 00:00:00