Disbudpar Aceh Gelar FGD Penyusunan Buku Ekonomi Kreatif

KBRN, Banda Aceh : Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) Aceh melalui bidang Pengembangan Usaha Pariwisata dan Kelembagaan (PUPK) menggelar diskusi terpumpun atau focus group discussion (FGD) dengan tema “Review Buku Ekonomi Kreatif Aceh” di Hermes Hotel Kota Banda Aceh, Rabu (10/8/2022).

Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Aceh Almuniza Kamal menyampaikan, legalitas formal terkait ekonomi kreatif (ekraf) Pemerintah Aceh terdapat pada penyusunan Rencana Induk pembangunan kepariwisataan (RIPKA) 2022-2037, sehingga UMKM dan ekonomi kreatif harus berjalan fungsional dan bekerjasama dengan pemerintah daerah.

“Penyusunan buku ekraf melalui FGD ini akan disesuaikan dengan kearifan lokal masyarakat Aceh, adanya panduan dan SOP kongkrit yang berlandaskan syariat Islam menjadi patron dalam menghadapi polemik di Aceh, agar terhindar dari retorika dan birokrasi yang sulit,” jelas Almuniza dalam sambutannya, Rabu, 10 Agustus 2022.

Disbudpar Aceh, tambah Almuniza akan berupaya untuk membenahi kegiatan yang akan berorientasi pada syariat, dan ruang kreatifitas memiliki koridor batasan agar tidak keluar dari konteks Islam. Sehingga diperlukan keterlibatan alim ulama dalam hal tersebut.

“Nantinya, saat penyusunan buku ini sudah final akan disosialisasikan kepada masyarakat luas terutama kepada pelaku ekraf, sehingga dapat mencerdaskan masyarakat di seluruh pelosok Aceh,” jelas Almuniza.

Media Televisi Subsektor Ekonomi Kreatif

Dalam diskusi tersebut, Almuniza juga ikut menambahkan melalui media televisi dan kolaborasi bersama konten kreatif akan menghasilkan inovasi budaya dan pariwisata di Aceh, dengan memasukkan sisi kuliner di perfilman.

“Memasukkan unsur budaya kedalam film bisa seperti kuliner Aceh, fesyen bernuansa motif Aceh, serta dalam bentuk iklan maupun drama, melalui artis Indonesia atau selebgram untuk memperkenalkan budaya dan pariwisata di Aceh kepada publik,” ungkap Almuniza di depan 30 peserta dari berbagai kalangan aktivis, akademisi, penggiat seni dan pelau ekraf.

Terakhir, Almuniza mengatakan langkah ini bisa kita sikapi untuk mempromosikan kuliner Aceh dan bukan hanya sebatas wacana. Disbudpar Aceh akan siap berkolaborasi dengan seluruh stakeholder.

Adapun narasumber dalam diskusi ini turut hadir CEO Syafa’at Marcom Andika Dwi Jatmiko dan Ketua Yayasan Aceh Documentary Faisal Ilyas.(*)

Reaksi anda terhadap berita ini :

Komentar