Jeungki Yang Tergerus Oleh Zaman

KBRN, Banda Aceh : Aceh merupakan sebuah entitas suku dan wilayah yang sangat berbeda dengan suku atau wilayah lainnya di Indonesia. Masyarakat Aceh adalah masyarakat yang pluralitas dan mempunyai berbagai sub etnis.

Selain terkenal dengan kekayaan alam dan Pahlawan Nasionalnya, Aceh juga merupakan wilayah yang kaya dengan adat dan budaya.

Aceh sangat kaya dengan aneka ragam kebudayaan, suku dan bahasa daerahnya. Selain itu Aceh juga memiliki berbagai keunikan tersendiri, baik dalam senjata tradisional maupun alat-alat tradisional lainnya, salah satunya adalah Jeungki, yang telah tergerus oleh zaman

Jingki atau Jeungki adalah sebuah alat tradisional terbuat dari kayu pilihan yang digunakan oleh masyarakat Aceh, baik untuk menumbuk kopi, sagu, emping beras, tepung atau menumbuk bumbu masakan dan kelapa dalam proses pengolahan minyak kelapa dengan cara tradisional Aceh.

Dahulu, menjelang hari-hari besar tiba, baik Idul Fitri maupun Idul Adha, jeungki mulai beroperasional, iramanya terdengar riuh rendah dari rumah-rumah panggung di Aceh.

Seperti kebiasan pada umumnya, persiapan membuat kue di lakukan pada hari-hari terakhir bulan ramadhan. Saat itulah jeungki mulai berderak, menghaluskan tepung dengan suaranya yang khas dan teratur. Suara jeungki yang berdentam dihasilkan dari suara lesung yang bertubrukan dengan alu yang diayunkan oleh sekelompok wanita.

Jam operasional jeungki tergantung dari banyaknya antrian, biasanya di mulai usai subuh, hingga sahur menjelang. Biasanya jeungki di letakkan di bawah rumoh Aceh yang berbentuk panggung, yang tujuannya untuk menghindari terik matahari, dan apabila hujan turun, aktivis menumbuk tidak terganggu.

Dahulu, listrik belum masuk desa. Untuk penerangan dan aktivitas di malam hari, masyarakat biasa menggunakan suloh (obor), panyot (bahasa aceh berarti lampu) seurungkeng. Dan aktivitas jeungki sepenuhnya dilakukan secara manual, tanpa menggunakan arus listrik.

Tidak semua rumah memiliki jeungki, hanya beberapa rumah saja yang memiliki alat ini, umumnya adalah orang berada saja yang memiliki jeungki. Namun semua orang yang ingin menggunakan alat ini, boleh menggunakannya secara bergiliran, syaratnya hanya harus sabar mengantri dan membawa perlengkapan sendiri, seperti tepung, kaleng, dan peralatan lain yang dibutuhkan. Pemilik jeungki hanya meminjamkan mesinnya saja. Alat ini sepenuhnya hanya mengandalkan tenaga manusia, sehingga pemilik jeungki tak pernah khawatir mesinnya kehabisan bahan bakar. Justru pemilik jeungki merasa resah apabila jeungkinya jarang terpakai dalam waktu lama, karena bisa-bisa alat ini dimakan rayap.

Mungkin belum tepat di sebut mesin, karena alat ini sangat manual. Sekilas bentuknya terlihat sangat unik. Terbuat dari kayu khusus yang berkualitas baik, dan bobot kayu harus berat dan kuat. Minimal alat ini di operasikan oleh dua orang, dan untuk jeungki yang lebih besar (panjang batang mencapai 5 meter), jeungki bisa diawaki oleh empat sampai dengan lima orang.

Pada proses kerja alat ini di butuhkan keahlian khusus, terutama yang bertugas di bagian operator dan yang bertugas di bagian lesung. Cara kerja jeungki adalah di gerakkan dengan kaki pada titik tumpang yang lebih ke ujung sehingga akan mengangkat ujungnya yang satu lagi dan memberikan pukulan yang kuat.

Operator harus memiliki tenaga dan kaki yang kuat untuk menggenjot jeungki dan sigap memberikan komando, biasanya tugas ini dilakukan oleh yang lebih senior. Saat mengengkol, mereka harus menaruh satu kaki di ekor agar batang jeungki yang berat bisa terangkat. Begitu juga dengan yang bertugas di bagian lesung, harus sigap mengarahkan material tumbukan mengikuti naik turun alu, karena jika tidak sigap dan kurang konsentrasi, bisa-bisa tangan tergencet alu yang berat.

Dalam satu tim, dibutuhkan kekompakan, kebersamaan, konsentrasi dan kesigapan dalam mengoperasikan jeungki. Karena jeungki beroperasi utamanya berdasarkan kesepakatan manusia, jadi aba-aba dari dari depan dan belakang, harus benar-benar seragam.

Meskipun jeungki tampak sederhana dan manual, namun penulis yakin, arsitek perancang jeungki pasti orang yang sangat inovatif, dan telah memperhitungkan secara cermat dalam membuat rancang bangun alat ini. Tak ketinggalan di perhitungkan laju mekanik alat penumbuk ini dan jumlah operator yang terlibat.

Namun sayangnya seiring perkembangan zaman dan alasan-alasan praktis lainnya, keberadaan jeungki mulai tersingkirkan dan sudah sulit ditemui. Jika pun ada, mungkin hanya ada di pelosok desa dan jumlahnya satu dua, dan sebagian sudah masuk museum bahkan hanya di jadikan hiasan oleh kolektor.

Masa-masa kejayaan jeungki telah lama berlalu, sekarang jeungki telah dianggap kuno dan tidak praktis. Bisa jadi anak-anak jaman sekarang tak pernah tahu apa itu Jeungki, baik dari segi bentuk, maupun jasa-jasanya, dan bahwasanya jeungki pernah berjasa besar dalam memperkaya khazanah budaya masyarakat Aceh di masa lalu.(majelisadataceh)

Reaksi anda terhadap berita ini :

Komentar