Pernikahan Dini Tingkatkan Angka Kematian Ibu dan Bayi

Menko PMK, Muhadjir Effendy

KBRN, Jakarta : Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional (BKKBN) menyatakan, pernikahan dini pada anak dapat meningkatkan angka kematian ibu (AKI) dan angka kematian bayi (AKB).

Terkait hal itu Menteri Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan (Menko PMK) Muhadjir Effendy mengajak semua pihak khususnya para orang tua mencegah perkawinan anak secara dini.

"Perkawinan anak dikhawatirkan membawa dampak negatif seperti kekerasan dalam rumah tangga, perceraian, kasus stunting atau kekerdilan pada anak yang nantinya dilahirkan hingga munculnya keluarga miskin baru," kata Muhadjir kepada wartawan, Sabtu (25/6/2022). 

Lebih jauh, Muhadjir mengungkapkan, perempuan yang menikah di bawah usia 18, memiliki organ reproduksinya yang belum cukup matang untuk mendukung pertumbuhan janin optimal.

"Mari kita bersama-sama mencegah praktik perkawinan anak. Kepada orang tua diharapkan untuk tidak menikahkan putra-putri mereka di usia anak," ujarnya. 

"Berikanlah kesempatan kepada putra-putri ini untuk membekali dirinya dengan pendidikan tinggi. Sehingga nantinya menjadi bekal untuk membangun rumah tangga bahagia," tambahnya. 

Selain itu, Menko PMK menambahkan, suatu perkawinan membutuhkan adanya kesiapan guna mewujudkan rumah tangga yang harmonis, baik kesiapan lahir maupun batin.

"Perkawinan anak dapat dikatakan jauh dari kesiapan. Misalkan kondisi fisik seorang perempuan yang menikah di bawah usia 18 tahun dikhawatirkan kondisi fisiknya belum siap melahirkan dan menjadi ibu," pungkasnya.(Mandra Pradipta/kbrn)

Reaksi anda terhadap berita ini :

Komentar