Pelecehan Seksual, Pemerkosaan dan Incest Dominasi Kekerasan Anak di Aceh

KBRN, Banda Aceh: Kepala Dinas Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak Aceh, Nevi Ariyani, SE mengungkapkan tren kasus kekerasan terhadap perempuan dan anak dari tahun ke tahun naik turun atau tidak tetap. Pada 2017, kasus yang dilaporkan mencapai 1.792, selanjutnya 2018 sebanyak 1.376, 2019 turun menjadi 1.067, 2020 yang terdata 905 dan 2021 mencapai 924 kasus. Sedangkan selama periode januari 2022, sudah 13 kasus yang terlapor.

Adapun kasus kekerasan terhadap perempuan yang paling mendominasi Kekerasan Dalam Rumah Tangga (KDRT), sedangkan untuk anak yang paling banyak adalah kasus pelecehan seksual, pemerkosaan, dan incest yaitu kekerasan seksual yang dilakukan dalam hubungan sedarah.

Pernyataan tersebut disampaikan dalam dialog interaktif yang berlangsung di studio programa 1 RRI Banda Aceh, (27/1).

Kepala Satuan Polisi Pamong Praja dan Wilayatul Hisbah (Satpol PP dan WH) Aceh, Jalaluddin, SH, MM mengaku prihatin terhadap berbagai pelanggaran hukum yang terjadi  dengan korban perempuan dan anak-anak, pelaku bahkan anak di bawah umur maupun orang terdekat. Untuk mencegah terjadinya perbuatan terlarang, pihaknya semakin meningkatkan kegiatan sosialiasi penegakan syariat Islam termasuk patroli rutin.  

Sementara itu, Kepala Seksi Kerjasama Lembaga Penegak Hukum Dinas Syariat Islam Aceh, Abdul Razak, S. Ag, MA mengapresiasi Mahkamah Agung yang mengedepankan hukuman penjara bukan hanya cambuk, bagi pelaku pelecehan seksual terhadap anak-anak. Hal ini berdampak baik bagi psikologis korban, karena menutup kemungkinan korban bertemu pelaku.

Dinas Syariat Islam Aceh  saat ini juga  focus pada pembinaan mental spiritual bagi generasi muda, agar terhindar dari pelecehan seksual, maupun berbagai bentuk pelanggaran syariat.

Reaksi anda terhadap berita ini :

Komentar