Angka Perceraian di Aceh 2021 Capai 6.448 Perkara, Banyak istri Gugat Suami

KBRN, Banda Aceh : Mahkamah Syariah Aceh mencatat sepanjang Januari hingga Desember 2021, angka perceraian di Aceh mencapai 6.448 perkara yang sudah diputuskan. Dimana 1.474 putusan perkara cerai talak dan 4.974 putusan perkara cerai gugat.

Humas Mahkamah Syariah Aceh, Darmansyah Hasibuan mengatakan, sebelumnya perkara yang diterima oleh Mahkamah Syariah Aceh berjumlah 7.145 perkara. Diantaranya 1.684 perkara cerai talak dan 5.461 cerai gugat.

Darmansyah menyebutkan, bahwa kasus perceraian di Aceh meningkat dari tahun ke tahun, adapun faktornya terkait masaalah ekonomi dan tanggung jawab dari suami.

“Perceraian meningkat dari tahun ke tahun, cuman meningkatnya tidak tau apa sebabnya, apa karena pertambahan penduduk, kan bertambah penduduk bertambah yang menikah bertambah yang bercerai di satu sisi, sisi yang kedua bisa saja kesadaran masyarakat  itu makin  meningkat artinya kalau dulu cerai dibawah tangan saja tidak perlu ke Mahkamah, sekarang  sudah mulai sadar masyarakat maka cerai di Mahkamah atau pengadilan maka meningkat kasus, selain itu juga diduga memang  makin rawannya perkawinan, sehingga gampang cerai itu belum diselidiki, kita kan tidak sampai kesana, kalau faktor-faktornya seperti yang lama-lama saja  berupa faktor ekonomi, dan faktor tanggung jawab dari suami,” kata Darmansyah, kepada Wartawan, Rabu (26/01/2022).

Darmansyah juga mengungkapkan, bahwa perceraian di Aceh juga didominasi oleh gugatan perceraian perempuan atau cerai gugat.

“Lebih banyak istri, hampir 65-35 perbandingannya, kalau  istri yang minta namanya cerai gugat sedangkan kalau suami yang minta namanya cerai talak,” sebutnya.

Darmansyah menyebutkan, faktor lebih banyaknya gugatan perceraian perempuan dibanding laki-laki karena kesalahan suami lebih nyata dari kesalahan istri, atau kesalahan suami lebih konkrit.

“faktor lebih banyak istri daripada suami hal yang pertama istilahnya suami nih ntah kemana mana sehingga istri tidak tahan, kedua kesalahan suami lebih nyata daripada kesalahan  istri setiap kasus yang kita terima itu lebih nyata kesalahan suami lebih konkrit,” tuturnya

Sementara itu, sebut Darmansyah, untuk perkara perceraian yang paling tinggi di wilayah Aceh ditempati oleh Lhoksukon, Kabupaten Aceh Utara, dengan jumlah gugatan perceraian yang diterima Mahkamah Syariah  berjumlah 871 perkara. Diantara lain 181 cerai talak dan 688 cerai gugat.

“Kemudian untuk putusan perkara perceraian di Lhoksukon juga menempati peringkat pertama pada tahun 2021 yaitu mencapai 812 putusan perkara, diantaranya 171 cerai talak dan 641 cerai gugat, angka tersebut sesuai dengan laporan perkara Mahkamah Syariah Aceh,” tutupnya. (*)

Reaksi anda terhadap berita ini :

Komentar