Personal Mastery Pada Kepemimpinan

dr Keumala Hayati  Mahasiswa magister kesehatan masyarakat fakultas kedokteran, Unsyiah 

KBRN, Banda Aceh : Menjadi pemimpin  pasti sangat diimpikan oleh banyak orang tetapi untuk menjadi pemimpin harus melewati proses yang sangat panjang. Mungkin di dalam pikiran kita memimpin harus masuk dalam partai politik atau terpilih oleh rakyat menjadi wakil diparlemen. 

Sadar atau tidak sadar semua kita bisa menjadi pemimpin. Karena dalam diri kita sudah ada personal mastery, personal mastery pada diri kita harus selalu kita bentuk hingga akhirnya kita bisa menjadi pemimpin yang memiliki personal mastery yang kuat. 

Kata pemimpin identik dengan seseorang yang mempunyai perusahaan atau yang memiliki banyak karyawan. Tidak demikian karena kita sendiri bisa menjadi pemimpin dikeluarga kita atau kita bisa menjadi pemimpin pada diri kita sendiri. Pada diri kita harus adanya sikap disiplin , disiplin melakukan yang terbaik setiap harinya, seperti memberikan senyum kepada anak kita yang mungkin anak kita sedang bertingkah tidak menyenangkan. 

Menjadi pemimpin pada diri sendiri dengan kesadaran dan pemahaman terhadap diri sendiri, ini menjadi dasar pengembangan diri kita. Pegembangan diri disini maksudnya kemampuan menanggapi atau memberi respon terhadap apa yang terjadi didalam diri. Semakin kita mengenal diri kita maka kita semakin tahu kelebihan dan kekurangan diri kita. 

Personal mastery? 

Personal mastery adalah ilmu kepemimpinan yang harus ada pada setiap pemimpin. Pada setiap orang bukan lah sesuatu yang datang begitu saja melainkan adanya proses yang harus selalu dibentuk pada diri kita. Personal mastery terdiri dari kata personal dan mastery, personal adalah diri sendiri sedangkan mastery adalah kemampuan menguasai. 

Personal mastery adalah kemampuan menguasai diri sendiri, jika kita mampu menguasai diri kita, kita juga mampu mengontrol emosi kita. Mengontrol emosi harus mampu kita atasi bila berhadapan dengan lawan bicara kita yang mungkin orang yang pada saat itu tidak ingin dijumpai. 

Orang – orang yang telah memiliki personal mastery ialah orang yang haus akan ilmu pengetahuan. Mereka tidak penah merasa puas dalam menguasai suatu ketrampilan. Mereka akan selalu membagikan ketrampilannya kepada orang lain atau bawahannya dan mereka tidak akan berhenti pencarian ilmu nya sampai mereka menuju ketujuan hidup yang bermutu tinggi. 

Ciri – ciri orang yang memiliki personal mastery yang tinggi ialah merasa terpanggil untuk mengerjakan sesuatu yang mencerminkan dirinya, menerima kenyataan bila dia berada diposisi yang terpuruk, berusaha memperbaiki diri setiap harinya, memiliki keinginan untuk memperbaiki kesalahan yang terjadi padanya, merasa satu kesatuan dalam tim nya, menempatkan diri sebagai kesatuan dengan orang lain. 

Dari ciri diatas ada kata yang harus dicermati dalam personal mastery yaitu kata ‘terpanggil’. Kita harus mengetahui mengapa kita terpanggil, apakah sesuai dengan  visi hidup kita. Seperti seorang dokter yang terpanggil untuk menjadi dokter yang terbaik yang pernah ada.

Kehebatan dan kesuksesannya sebagai seorang dokter yang merawat pasien dimulai dari visi dia sebelum menjadi seorang dokter. Jika itu menjadi visi, dan tujuan hidupnya adalah membantu pasiennya, maka seorang yang memiliki personal mastery yang kuat akan melakukan yang terbaik secara terus menerus sesuai dengan visinya. 

Visi adalah keinginan pemimpin ke depan melampaui kemampuan kita untuk melihat. Pemimpin harus tahu kemana dia ingin membawa organisasi yang dipimpinnya. Tugas pemimpin ialah menentukan visi untuk organisasi yang dipimpinnya. Sekali visi itu sudah ditentukan, maka manajemen yang berkerja dapat mewujudkan dan melaksanakan visi itu.  

Namun visi sebuah perusahaan tidak hanya sekadar menjadi hiasan dinding kantor sang pemimpin, dan mungkin saat apel selalu dibacakan dan selalu diingatkan, namun dengan berjalannya waktu malah sekadar menjadi sambutan dan kata-kata dalam pidato sang pemimpin. 

Didalam keseharian malah ditinggalkan oleh para anggota organisasi karena dianggap sebagai Ucapan pemimpin saja. Yang lebih parah lagi bila sang pemimpin sendirilah yang mengkhianati visi dan misi organisasi yang dipimpinnya, karena dia mempunyai maksud yang tersembunyi dan melakukan pembohongan. 

Menjadi pemimpin 

Sebelum menjadi seorang pemimpin ada kebutaan yang dirasa harus dihindari oleh seorang pemimpin seperti : Pertama, Buta karena posisi sendiri, ketidakmampuan mengendalikan ego diri sendiri, karena merasa lebih berkuasa dan memiliki jabatan sehingga pemimpin berbuat sesuka hatinya. 

Kedua, buta karena kelemahan sendiri, suatu kelemahan yang tidak bisa melihat diri salah. Kesalahannya selalu dilimpahkan kepada orang lain. Bisa karena pemimpin ingin menutupi kelemahannya atau bisa saja dia tidak tahu kesalahannya. 

Ketiga buta karena terlambat bertindak, pemimpin yang ingin menyelesaikan masalah nya secara cepat tanpa disadari akan menimbulkan masalah yang baru. 

Keempat buta terhadap akar masalah, kecenderungan mengatasi masalah yang tampak pada kejadian yang dialami bukan pada sebab yang menghasilkan masalah. 

Kelima buta akan perubahan masalah, pemimpin tidak mengatasi masalah kecil yang muncul, terlambat mengatasi masalah sehingga masalah menjadi besar. 

Keenam buta selalu mengandalkan pengalaman, pemimpin selalu merasa berpengalaman sehingga tidak menerima masukan – masukan dan pemimpin menganggap dirinya lebih tahu dari pada bawahannya. Ketujuh buta terhadap perbedaan tim. 

Jiwa kepemimpinan dalam diri ini bermanfaat untuk mengapai keinginan, memunculkan keberanian, mengevaluasi diri, menghadapi resiko dan mampu menguasai diri sendiri ( personal mastery ). Untuk menumbuhkan sikap – sikap kepemimpinan seseorang harus Memiliki motivasi untuk berkembang, percaya diri, bersikap tegas, bertanggung jawab dalam pekerjaan, mampu menghargai orang lain.

Pemimpin balada kuda mati 

Kalau kita cermati, pemimpin di negeri ini lebih menerapkan management kuda mati. Maksudnya seseorang pemimpin hanya menunggangi kuda mati, tidak ada perubahan apa – apa hanya jalan ditempat saja. Bila seorang penunggang kuda diberi cambuk untuk mencambuk kuda nya, kudanya tetap tidak bisa berpindah tempat, jadi pertanyaannya haruskah kita mempertahankan jabatan kita atau kita turun dari jabatan?. 

Pertanyaan ini mungkin sulit bagi kita untuk menjawabnya karena banyak pejabat tetap dengan jabatannya walaupun dia tidak bisa berbuat apa – apa lagi. Kegagalan demi kegagalan diterima oleh suatu organisasi, tidak sedikit pemimpin melimpahkan kesalahannya kepada bawahannya. 

Pemimpin selalu menganggap dirinya selalu benar. Banyak contoh dari management kuda mati yang bisa kita temukan, Pemerintah selalu melakukan rotasi atau istilahnya mutasi pegawai. Tetapi masalah didalam pemerintahan tidak juga teratasi, malah bisa saja timbul masalah baru. 

Bila management kuda mati ini diterapkan maka kita tidak bisa menjawab akar masalah yang terjadi dalam organisasi. Bisa dicontohkan bila suatu rumah sakit turunnya tingkat kepuasan dan pelayanan kepada pasien dirumah sakit “A”, maka yang perlu diganti bukan staff nya, tetapi pimpinannya, Contoh lainnya misalnya rumah sakit  “B” yang kepemimpinan sebelumnya merupakan tempat rujukan dari rumah sakit yang lain. 

Tapi karena kepemimpinan sekarang menerapkan managemen kuda mati sehingga Rumah sakit “B” bukan lagi sebagai tempat rujuk pasien. The tribal wisdom of the dakato Indians mengatakan ketika anda menemukan bahwa anda sedang menunggang kuda mati, strategi terbaik adalah turun. Jadi bila kita sebagai pemimpin tidak bisa berbuat apa – apa lagi sebaiknya menyerahkan kepada pemimpin  lain yang bisa membuat perubahan.

Oleh : dr Keumala Hayati 

Mahasiswa magister kesehatan masyarakat fakultas kedokteran, Unsyiah 

Bekerja di RSUD Cut Nyak Dhien

Reaksi anda terhadap berita ini :

Komentar