Begini Cara Mendeteksi Hotspot di Perangkat Handphone

Foto : Climate4life.info

KBRN, Banda Aceh : Saat ini kita secara near realtime dapat mengakses informasi hotspot yang merupakan indikator terjadinya kebakaran hutan dan lahan hanya melalui genggaman tangan kita. Ya, hotspot sekarang bisa diketahui melalui perangkat hanphone pintar.

Dikutip dari Climate4life.info, Senin (18/10/2021), Aplikasi mobile berbasis android ini dikembangkan oleh Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional (LAPAN).

Sebagaimana kita ketahui bersama variabilitas iklim di Indonesia menyebabkan dampak tertentu. Pada saat curah hujan tinggi maka ancaman genangan air dan banjir muncul dan sebaliknya pada saat hujan menghilang maka ancaman kekeringan meningkat.

Kekeringan akan diikuti dampak susulan seperti berkurangnya sumber air untuk konsumsi hingga meningkatnya potensi kebakaran hutan dan lahan.

Setidaknya beberapa provinsi di Indonesia yang rawan dengan kebakaran hutan meliputi Riau, Kalimantan Selatan, Sumatera Selatan, Jambi, Kalimantan Barat, Aceh, dan Kalimantan Tengah [1].

Kebakaran hutan dan lahan biasanya dimulai dengan terjadinya jeda hujan atau Hari Tanpa Hujan (HTH). Beberapa sumber menyatakan pada HTH = 5 hari maka hotspot berupa titik panas mulai muncul. Jika HTH terus berlanjut maka titik panas berpotensi berkembang menjadi titik api.

Jika hujan masih belum turun dan tanpa ada antisipasi pihak-pihak terkait, titik-titik api dapat berkembang menjadi pemicu kebakaran hutan dan lahan [2].

Kebakaran hutan dan lahan sendiri akan menyebabkan kemunculan asap yang memberi dampak lanjutan seperti gangguan kesehatan hingga terganggunya jadwal penerbangan.

Kebakaran hutan dan juga lahan yang terjadi pada tahun 2015 saja telah merusak hutan dan lahan seluas 2,61 juta ha dengan kerugian secara ekonomi ditaksir mencapai hingga Rp. 221 Trilyun [3], belum dihitung lagi kejadian karhutla pada tahun-tahun lainnya.

Hotspot menjadi indikator kebakaran hutan sesuai Permenhut No. P 12/ PMenhut-II/ 2009. Merujuk pada laman Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional (LAPAN) disebutkan bahwa hotspot adalah suatu area tertentu yang suhunya relatif lebih tinggi daripada suhu disekitarnya.

Perbedaan suhu tersebut dideteksi dengan satelit dan posisi area tersebut direpresentasikan dalam suatu titik dengan koordinat lintang dan bujur tertentu [4].

Ada beberapa satelit yang digunakan untuk mendeteksi hotspot tersebut yaitu  Satelit NOAA, Terra/Aqua MODIS, maupun data satelit penginderaan jauh, dengan deskripsi sebagai berikut :

• Siang hari:

– Terra/MODIS : 00:00 – 05:00 UTC (07:00 – 12:00 WIB)

– Aqua/MODIS : 03:00 – 08:00 UTC (10:00 – 15:00 WIB)

– SNPP/VIIRS : 03:00 – 08:00 UTC (10:00 – 15:00 WIB)

• Malam hari:

– Terra/MODIS : 12:00 – 17:00 UTC (19:00 – 24:00 WIB)

– Aqua/MODIS : 15:00 – 20:00 UTC (22:00 – 03:00 WIB)

– SNPP/VIIRS : 15:00 – 20:00 UTC (22:00 – 03:00 WIB) 

Aplikasi Mobile LAPAN Fire Hotspot

Dengan memanfaatkan teknologi satelit penginderaan jauh LAPAN kemudia mengembangkan sistem pemantauan hotspot secara near real time. Informasi dalam sistem tersebut dapat juga kita akses melalui smartphone berbasis Android.

Aplikasi tersebut bernama LAPAN : Fire Hotspot, yang dapat kita unduh melalu google playstore, dengan tampilan seperti ini.

Silahkan buka playstore anda.  Jika kita sudah menginstalnya, maka akan terbuka jendela pada telepon genggam kita seperti gambar di bawah ini.

Pada bagian yang berwarna putih dapat kita memilih tampilan sesuai yang kita inginkan.

Menu sebelah kiri adalah untuk memilih area sebaran hotspot apakah ingin menampilkan seluruh wilayah Indonesia atau hanya menampilkan hotspot perprovinsi.

Menu tengah berisi durasi waktu pemantauan dari satelit. Tersedia pilihan 24 jam terakhir atau dalam 48 jam terakhir. Adapun menu kanan adalah untuk mengatur tingkat kepercayaan (confident level) dari hotspot yang.

Perbedaan tingkat kepercayaan sebagaimana tersaji pada gambar berikut.

Pada saat tingkat kepercayaan dibiarkan 0% maka hotspot yang terdeteksi mencapai 233 titik. Saat tingkat kepercayaan kita naikkan pada 50% hotspot yang terpantau berkurang hanya menjadi 157 titik, hingga akhirnya hanya tersisa 12 titik saja pada tingkat kepercayaan mendekati 100%.

Artinya semakin besar tingkat kepercayaan maka jumlah hotspot akan semakin berkurang.

Semakin tinggi tingkat kepercayaan semakin tinggi pula keyakinan bahwa hotspot tersebut adalah benar-benar merupakan kejadian kebakaran hutan dan atau kebakaran lahan.

Selanjutnya titik merah yang merupakan interpretasi dari hotspot jika kita klik akan menampilkan keterangan seperti terlihat berikut.

Data yang muncul pada gambar di atas memuat antara lain koordinat berupa lintang dan bujur lokasi hotspot tersebut, waktu terjadinya, jenis satelit yang mendeteksi, tingkat kepercayaan dan lokasi hotspot secara adminsitratif.

Di dalam menjabarkan sebuah hotspot guna keperluan analisis di lapangan dan lainnya, beberapa hal yang harus kita catat dalam interpretasi hotspot menurut Lapan adalah sebagai berikut :

Tolerasi koordinat hotspot dari satelit mencapai 2 km. Jadi saat kita ingin mencari keberadaan suatu titik hotspot di lapangan maka area yang harus kita susur bisa mencapai 2 km.

Jumlah hotspot bukanlah merupakan jumlah kebakaran di lapangan karena beberapa kejadian kebakaran dalam radius 500 m  dapat saja terdeteksi sebagai satu hotspot. Atau sebaliknya satu kebakaran kecil namun suhunya sangat tinggi dapat dideteksi oleh satelit lebih dari satu hotspot.

Jumlah hotspot tidak mencerminkan luas area kebakaran.

Demikian ulasan cara mengakses informasi hotspot yang merupakan indikator kebakaran hutan dan lahan yang dapat kita akses melalui handphone.

Reaksi anda terhadap berita ini :

Komentar

00:00:00 / 00:00:00