Loka POM Aceh Tengah Temukan Sejumlah Produk Bermasalah

KBRN,  Banda Aceh : Loka POM di Aceh Tengah menggelar intensifikasi pengawasan pangan mulai 5 April sampai 7 Mei 2021 diwilayah kabupaten Aceh Tengah, Bener Meriah Gayo Lues dan Aceh Tenggara.

Kepala Loka POM Aceh Tengah Sri Wardono menjelaskan kegiatan tersebut dalam rangka melindungi  kesehatan masyarakat dari peredaran produk olahan  Tidak Memenuhi Ketentuan (TMK) yang beredar didan dikonsumsi masyarakat , khususnya selama bulan ramadhan dan Idul Fitri 1442 Hijriah.

Target utama kegiatan intensifikasi pengawasan pangan adalah pangan olahan Tanpa Izin Edar (TIE), kadaluwarsa dan rusak. Kerusakan pada kemasan ditandai dengan kemasan yang penyok, kaleng berkaret , terdapat lubang dan kerusakan lainnya.

“Kegiatannya kita lakukan pemeriksaaan pada sarana distribusi dan ritel pangan meliputi distributor, toko, supermarket, hypermarket, pasar tradisional maupun pembuat atau penjual parsel,”jelasnya, Senin(10/5/2021).

Pengawasn pangan juga dilakukan terhadap makanan berbuka puasa atau takjil yang banyak dijual saat bulan ramadan dengan melakukan uji sampling menggunakan mobil laboratorium keliling tempat-tempat khsusus menjual produk pangan jajanan untuk  berbuka puasa.

“Uji cepat difokuskan pada parmeter uji bahan berbahaya yaitu boraks, formalin, metanil yellow dan rodhamin B,”ujarnya

Selama kegiatan berlangsung sebutnya dilakukan pemeriksaan pada 52 ritel dan distributor dengan hasil 40 sarana Memenuh Ketentuan (MK) dan 12 sarana Tidak Memenuhi Ketentuan (TMK), jenis temuan adalah pangan tanpa izin edar dan kadaluarsa. Selanjutnya para pemiliki sarana dilakukan pembinaan dan dilakukan pemusnahan baranag temuan oleh pemilik.

Sementara itu untuk kegiatan sampling makanan berbuka puasa dilakukan di 4 wilayah kerja Loka POM di kabupaten Aceh Tengah terdapat total 268 sampel yang telah diuji menggunakan metode uji cepat (Rapid Test Kit)dengan parameter uji boraks, formalin, rhadomin B dan methanyl yellow.

“Sebanyak 264 sampel atau 98,5% telah Memenuhi Syarat (MS)  dan 4 sampel atau 1,5% Tidak  Memenuhi Syarat (TMS) karena terbukti menggunakan bahan berbahaya yaitu boraks. Sampel pangan mengandung boraks ditemukan pada mie basah dan kerupuk,”sebut Sri Wardono.

Kemudian kepada para penjual diberikan pembinaan agar tidak kembalai menggunakan bahan berbaya dan akan dikoordinasikan dengan dinas terkait untuk pembinaan dan tindak lanjut.

Pada kegiatan tersebut tambah Sri Wardono juga diberikan Komunikasi, Informasi dan Edukasi (KIE) kepada pelaku usaha, produsen pangan maupn masyarakat umum. Kegiatan intensifikasi pangan juga melibatjan stakeholder terkait yaitu Dinas Kesehatan dan Dinas Perindustrian dan Perdagangan.(Bambang S/TKN)

Reaksi anda terhadap berita ini :

Komentar

00:00:00 / 00:00:00