Tarian Meugroeb Pidie

KBRN, Banda Aceh :  Tarian Meugroeb, tarian adat Aceh yang mengandalkan hendakan kaki, tarian ini berbeda sedikit dengan Seudati, yang manyoritas mengandalkan hendakan tangan ke tubuh.

Tarian ini sudah ada sejak kerajaan Pedir, ada juga yang mengatakan tarian ini baru dikembangkan era islam masuk menguasai Kabupaten Pidie. Meugroeb juga memakai dua Syeikh (penyair) untuk mengiringi tarian, tarian ini dibagi dua kelompok yang masing–masing kelompok awalnya menceritakan sebuah perlawanan akhirnya menjadi keakraban.

Diceritakan dulu saat masa kerajaan,  tarian ini sering didendangkan sebelum berperang melawan penjajah atau masa invansi Belanda ke Aceh, 1873.

Meugroeb juga sering ditampilkan pada acara-acara kerajaan yang dipertontonkan kepada masyarakat, belakangan seiring perkembangan jaman tarian ini semakin memudar dan hilang. Hingga kini, hanya satu Gampong (Desa) yang masih mempraktekkan Meugroeb kepada khalayak ramai, yaitu Gampong Pulo Lueng Tegha, Kecamatan Glumpang Baro, Kabupaten Pidie, Aceh, itupun hanya setiap malam menyambut hari raya Idul Fitri, meski sebelumnya merupakan tarian perang, kini tarian tersebut menjadi budaya untuk media silaturrahmi Gampong Lueng Teugha dan menjadi kearifan lokal setempat.

Ismunandar, Pemuda Gampong Pulo Lueng Tegha, mengatakan, tarian Meugroeb adalah budaya dari dulu di gampong, kata Endatu (nenek monyang), tarian itu adalah tarian perang, serupa dengan tarian Seudati, cuma Meugroeb lebih membangkitkan semangat, apalagi saat hentakan kakinya itu yang serentak membangkitkan gairah kita untuk lebih kompak.

“ini tarian yang membangkitkan semangat, seperti kita akan perang,” ungkapnya.

Dia juga mengatakan, tarian ini sekarang sering kami tampilkan pada saat malam lebaran Idul Fitri, bertujuan untuk memperkenalkan tamu kami yang baru ada di gampong, seperti pendatang, atau Linto Baro (pengantin pria), baik yang berasal dari gampong kami atau luar.

Tarian itu, sekarang kami laksanakan hanya pada malam lebaran fitri, disitu kami akan panggil semua pendatang satau persatu, begitu juga dengan pengantin baru dan warga kami yang pulang dari rantauan, kami akan Peugroeb (diangkat) didepan umum,” jelas mahasiswa Unigha Sigli tersebut.

Tapi kami, sangat menyayangkan tarian ini, kurang dipedulikan Pemerintah Aceh, tidak seperti tarian Seudati dan Saman, padahal tarian ini tarian khas yang ada di Pidie, yang saya ketahui hanya ditempat saya Meugroeb masih ditampilkan, bisa dikatakan nyaris punah dari budaya kita. Sebelumnya tarian ini selain warga kami, sangat jarang yang tahu ada tarian ini dikalangan pemuda dan mahasiswa di Pidie dan Aceh,  hingga akhirnya Pemkab Pidie memberi kesempatan bagi kami tampil pada penutupan Pedir Raya Festival 2014 silam, sehingga banyak masyarakat Pidie yang tahu tarian ini serta disambut meriah oleh para penonton, jelasnya kepada nanggroepidie.com.

“Kami berharap Pemerintah Aceh jangan tutup mata dengan budaya dan seni Meugroeb. Kami sangat ingin tarian ini ikut mendunia dan dikenal khalayak ramai, kami ingin membagikan seni ini kepada semua kalangan. kami juga memita pemerintah untuk dapat melestarikan seni Meugroeb,” pintanya.(Sumber : Pemkab Pidie)

Reaksi anda terhadap berita ini :

Komentar

00:00:00 / 00:00:00