Suasana di Aceh Pasca Aturan Jam Malam Dicabut

KBRN, Banda Aceh : Pasca pencabutan aturan jam malam oleh pemerintah Aceh pada Sabtu (4/4/2020) sore, kini aktivitas masyarakat di daerah ini kembali berjalan normal.

Pantauan RRI pada Sabtu malam, masyarakat kembali keluar rumah untuk melakukan aktivitas seperti biasa. Toko-toko yang sebelumnya tutup, kembali dibuka. Kondisi ini terlihat di Kota Banda Aceh.

Padahal, sejak diberlakukannya jam malam, warga di kota ini mulai pukul 20.30 WIB sudah tidak boleh lagi berkeliaran di luar rumah. Jalan-jalan ditutup dan dijaga oleh aparat TNI. Namun suasana ini tidak lagi terlihat. Portal-portal pembatas jalan sudah dibuka.

Namun masyarakat tidak seramai seperti biasanya, hanya pertokoan seperti swalayan, warung makan, dan sejumlah warung kopi yang buka. Begitu juga apotik juga sudah mulai buka kembali pada malam hari.

Meski aturan jam malam dicabut, sejumlah personel gabungan, polisi, TNI dan Sat Pol PP masih melakukan patroli di sejumlah tempat keramaian.

Seperti yang terlihat di sebuah warung kopi di kawasan Blang Padang Banda Aceh. Petugas kepolisian mengimbau kepada pengunjung warung kopi agar melakukan jaga jarak dan menggunakan masker. Cara ini dilakukan petugas agar dapat mencegah penyebaran virus Corona.

"Aktivitas ekonomi masyarakat tidak boleh tutup. Toko-toko boleh buka. Warung kopi dan lainya. Namun ada aturan dengan memberlakukan jaga jarak bagi pengunjung," kata Kapolresta Banda Aceh, Sabtu malam.

Namun meski pemerintah Aceh telah mencabut pemberlakuan jam malam, sejumlah desa di Kota Banda Aceh masih menutup jalan-jalan desa. Sejumlah warga terlihat juga masih berjaga-jaga di pintu gerbang masuk desa agar mencegah adanya warga dari luar masuk.

Sebelumnya Plt. Gubernur Aceh Nova Iriansyah menyatakan mulai hari Sabtu (4/4/2020) pemberlakuan jam malam di Provinsi Aceh secara resmi dicabut.

"Pembatasan aktifitas masyarakat pada saat malam hari, atau kita sebut di sini "Jam Malam" resmi  dicabut," kata Plt. Gubernur Aceh Nova Iriansyah, Sabtu (4/4/2020).

Menurutnya, pencabutan pemberlakuan jam malam di Aceh ini karena tidak diikuti dengan program sosial yang memadai.

"Tapi kemudian pemberlakuan jam malam ini belum diikuti dengan program sosial yang memadai maka mulai hari ini kita cabut pemberlakuan jam malam," ujarnya.

Seperti diketahui, Pemerintah Aceh bersama unsur Forkopimda Aceh menandatangani surat edaran maklumat tentang pemberlakuan jam malam sejak tanggal 29 Maret hingga 29 Mei 2020. Pemberlakuan jam malam ini dimulai pada pukul 20.30 WIB hingga 05.30 WIB. Upaya ini dilakukan pemerintah Aceh untuk mencegah penyebaran virus Corona agar tidak meluas.

Kemudian pemerintah Aceh kembali mengeluarkan maklumat bersama tentang pencabutan aturan jam malam, yang juga ditandatangani oleh Plt. Gubernur Aceh dan unsur Forkopimda.

Dampak dari pemberlakuan jam malam di Aceh yang telah berjalan satu Minggu ini dinilai membuat kesulitan bagi masyarakat. Sejumlah elemen sipil mengkritik dan menolaknya.

Masyarakat dibatasi ruang gerak baik siang maupun malam hari. Meskipun pemerintah Aceh telah menyediakan bantuan Rp 200.000 per kepala keluarga, namun bantuan ini belum merata, masih banyak masyarakat yang tidak dapat bantuan pemerintah.

Hal inilah yang membuat masyarakat Aceh protes karena mereka tidak bisa mencari nafkah. Warung-warung tutup, toko-toko tutup, banyak usaha kecil dan menengah terkena dampak.

Belum lagi penerapan jam malam yang menimbulkan ketakutan di kalangan masyarakat. Pasalnya jalan-jalan dijaga oleh aparat TNI. Jika warga masih berkeliaran pada saat jam malam, maka disuruh pulang. Kondisi ini mengingatkan kembali masyarakat Aceh pada saat masa konflik.

Selain itu, gelombang protes dari masyarakat juga disampaikan pasca pemberlakuan jam malam. Karena kebijakan pemerintah Aceh ini akan sia-sia dilakukan apabila hingga sekarang aktivitas penumpang di bandara masih belum di tutup, kemudian jalur darat lintas provinsi dan jalur laut.

Reaksi anda terhadap berita ini :

00:00:00 / 00:00:00