Kabupaten Bener Meriah Publikasikan Hasil Analisis Pengukuran Data Stunting Tahun 2021

KBRN, Banda Aceh : Sering kita mendengar kata-kata stunting, stunting adalah kondisi gagal tumbuh pada anak balita akibat dari kekurangan gizi kronis sehingga anak terlalu pendek untuk seusianya. Kekurangan gizi terjadi sejak bayi dalam kandungan dan pada masa awal setelah bayi lahir. Akan tetapi, kondisi stunting baru nampak setelah bayi berusia 2 (dua) tahun, periode 1.000 Hari Pertama Kehidupan (HPK) seharusnya mendapat perhatian khusus karena menjadi penentu tingkat pertumbuhan fisik, kecerdasan, dan produktivitas seseorang di masa depannya.

Kabupaten Bener Meriah adalah salah satu Kabupaten yang terletak di Provinsi Aceh. Kabupaten Bener Meriah dengan ibu kotanya yang terletak di Simpang Tiga Redelong, merupakan Kabupaten dengan topografi daerah yang berbukit-bukit. Daerah ini terletak di wilayah pedalaman Aceh, tepatnya di dataran tinggi Gayo. Kawasan ini berada pada ketinggian antara 100 sampai 2.500 m di atas permukaan laut, bertemperatur antara 26 derajat Celcius dan 32,5 derajat Celcius.

Wilayah Kabupaten Bener Meriah Terletak pada 4o33’50”-4o54’50” Lintang Utara dan 96o40’75” – 97o17’50” Bujur Timur, sebelah Utara berbatasan dengan Kabupaten Bireuen, sebelah Timur dengan Kabupaten Aceh Timur, serta sebelah Selatan dan Barat bersebelahan dengan Kabupaten Aceh Tengah.

Kabupaten Bener Meriah memiliki 10 Kecamatan yang terdiri dari Kecamatan  Bandar, Kecamatan Bener Kelipah, Kecamatan Bukit, Kecamatan Gajah Putih, Kecamatan Mesidah, Kecamatan Permata, Kecamatan Pintu Rime Gayo, Kecamatan Syiah Utama, Kecamatan Timang Gajah dan Kecamatan Wih Pesam. Secara administrasi Kabupaten Bener Meriah memiliki 232 Desa yang tersebar di seluruh daerah di Kabupaten Bener Meriah.

Tahun 2019 Kabupaten Bener Meriah ditetapkan sebagai Kabupaten Lokasi fokus program pencegahan dan penanganan stunting mengingat Provinsi Aceh merupakan 5 Provinsi dengan angka prevalensi stunting yang tinggi, dengan ditetapkannya target prevalensi stunting oleh Presiden Republik Indonesia Bapak Joko Widodo 14% sehingga program ini menjadi program prioritas selain program-program strategis lainnya.

Salah satu point penting dalam program pencegahan dan penanganan stunting adalah dibutuhkan data rill terkait jumlah sasaran yang akan diintervensi guna menurunkan angka prevalensi stunting, penimbangan jumlah seluruh balita serta jumlah balita stunting. Berdasarkan hasil pengukuran status gizi. Perkembangan prevalensi stunting di Kabupaten Bener Meriah selama kurun waktu 3 tahun digambarkan dalam grafik dibawah ini.

DATA PREVALENSI STUNTING

KABUPATEN BENER MERIAH

Sumber : e-PPGBM Tahun 2021, Dinas Kesehatan Kabupaten Bener Meriah

Data prevalensi stunting di dapat melalui entry data dari bidan desa dengan menimbang seluruh balita yang ada di desa masing-masing untuk mengetahui status gizi balita. Berdasarkan rekapan status gizi balita yang bersumber dari aplikasi e-PPGBM, prevalensi stunting pada bulan agustus 2019 mencapai 18,44% dengan tingkat input data hanya 60% dari seluruh jumlah balita yang ada di Kabupaten Bener Meriah, di bulan agustus tahun 2020 prevalensi stunting di Kabupaten Bener Meriah Meningkat menjadi 25,62% dengan persentase inputan aplikasi sudah mencapai 80% , sedangkan pada bulan agustus 2021 dengan intervensi spesifik dan intervensi sensitive yang tepat sasaran prevalensi stunting menurun menjadi 19,95% dengan tingkat persentase inputan mencapai 80%.

FAKTOR DETERMINAN BALITA STUNTING

MENURUT APLIKASI e-PPGBM BULAN AGUSTUS 2021

Sumber : e-PPGBM Agustus 2021, Dinas Kesehatan Kabupaten Bener Meriah

Dari rekap Riwayat Tindakan pada balita bermasalah gizi yang dapat dilihat pada e-PPGBM pada tahun 2021 Laporan Rekap Riwayat Tindakan sebagai berikut :

1.     balita tidak memiliki Jaminan Kesehatan berjumlah 237

2.     balita tidak punya air bersih berjumlah 95

3.     balita pernah mengalami kecacingan berjumlah 66

4.     balita tidak mempunyai jamban sehat berjumlah 130

5.     balita belum Imunisasi lengkap berjumlah 230

6.     Anggota rumah tangga balita masih merokok berjumlah 2106

7.     ibu balita sewaktu hamil KEK berjumlah 71

8.     balita yang bermasalah gizi mempunyai penyakit penyerta berjumlah 0

Pada grafik tersebut dapat kita lihat bahwa Faktor determinan yang paling tinggi adalah adanya anggota rumah tangga balita merokok, balita tidak memiliki jaminan kesehatan, balita belum imunisasi lengkap, balita tidak mempunyai jamban sehat dan balita tidak punya air bersih. Masih adanya anggota rumah tangga merokok akan beresiko terhadap tingginya angka penyakit pernafasan pada balita sehingga akan memperberat terjadinya masalah gizi, masih rendahnya kesadaran anggota keluarga tentang bahaya merokok mengakibatkan perokok ada dimana-mana tampa memandang tempat. Tingginya balita yang belum mempunyai jaminan kesehatan karna sebagian penduduk belum melengkapi administrasi kependudukan serta kurangnya kesadaran keluarga akan pentingnya dokumen kependudukan.

Perilaku yang tidak sehat seperti tidak mempunyai jamban sehat. Akses air bersih kurang dan belum imunisasi lengkap, serta kecacingan dapat menyebabkan penyakit diare berulang, untuk itu perlu perhatian intervensi gizi sensitif dari lintas sektor terkait dalam menangani masalah stunting pada balita. Adanya sosialisasi menjaga lingkungan yang sehat dan bersih akan meningkatkan derajat kehidupan masyarakat.

Peran Intervensi gizi spesifik menyasar pada kelompok 1000 HPK masih harus diperhatikan dengan memberikan edukasi gizi seimbang dan PMT, mengaktifkan kelas ibu, kelas ibu balita dan kunjungan balita di posyandu, kelas PMBA untuk diberikan konseling gizi dan kesehatan kepada sasaran 1000 HPK.

Perlu dukungan dari dana desa untuk mengaktifkan kegiatan posyandu dengan menyediakan sarana dan prasarana serta meningkatkan pemberdayaan masyarakat dalam menyediakan makanan dari pangan lokal yang dapat meningkatkan status gizi bumil dan balita di desa masing-masing.(kominfo-bm)

Reaksi anda terhadap berita ini :

Komentar

00:00:00 / 00:00:00