Hoax-Propaganda Radikalisme Ancam Pemuda Aceh

KBRN, Banda Aceh : Badan Kesatuan Bangsa dan Politik Provinsi Aceh (Bakesbangpol Aceh) Sabtu (31/07/2021) menggelar kegiatan Focus Group Discussion (FGD) dengan tema “Pendidikan Perdamaian di Aceh”. 

Dalam kegiatan tersebut Bakesbangpol Provinsi Aceh menghadirkan Dosen Sosiologi Agama UIN Ar-Raniry sebagai narasumber, Suci Fajarni, M.A yang saat ini terlibat dalam riset dengan judul “Generasi Milenial Dalam Pusaran Internet: Solusi Antisipatif Terhadap Dampak Negatif Hoaks, Ekstrimisme dan Radikalisme Berbasis Media Sosial Dikalangan Pemuda Aceh”.  

Suci memaparkan bahwa penyebaran hoaks, propaganda paham-paham radikalisme, dan ekstrimisme berbasis media sosial, kerap menyasar generasi milenial sebagai kelompok rentan, sehingga berpotensi menjadi ancaman serius bagi stabilitas keamanan di Provinsi Aceh di masa yang akan datang. 

“Walaupun dewasa ini kita hidup dalam keadaan damai, namun secara bertahap terlihat jelas bahwa sendi-sendi kehidupan bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara kita sedang digerogoti oleh berbagai kekuatan yang bermusuhan, baik kekuatan dari luar maupun dari dalam negeri, dan di ranah sipil maupun non militer. Dengan kata lain, sekarang ini masyarakat, bangsa dan negara kita telah menjadi sasaran dari suatu perang tipe baru yang tidak lagi menggunakan senapan atau tank, namun menggunakan senjata yang lebih canggih seperti halnya media massa," katanya. 

Ia juga menyatakan bahwa saat ini Aceh tergolong ke dalam salah satu provinsi dengan mayoritas pengguna media sosial nya berasal dari kalangan generasi milenial atau pemuda usia produktif. 

Usia tersebut menurutnya, jika tidak memiliki skill literasi digital dan kemampuan berpikir kritis yang baik, maka akan sangat rentan terpapar hoaks, paham-paham radikalisme, dan ekstrimisme. 

"Sehingga diperlukan penguatan sinergi antar lembaga yang dapat mengkombinasikan upaya soft power (pencegahan) dan hard power (penindakan) terhadap kasus penyebaran hoaks, paham ekstrimisme, dan radikalisme berbasis media sosial dikalangan pemuda Aceh," ungkapnya. 

Lebih lanjut Dosen Prodi Sosiologi Agama tersebut menyampaikan bahwa mulai periode 2020 lalu hingga 2035 mendatang merupakan era bonus demografi bagi provinsi Aceh, yakni suatu kondisi dimana jumlah penduduk usia produktif (15-64 tahun) lebih besar dibandingkan penduduk usia tidak produktif (usia dibawah 15 tahun dan di atas 64 tahun). 

"Sehingga melalui forum ini marilah kita merumuskan upaya-upaya preventif yang sekiranya dapat melindungi para generasi muda pengguna media sosial di Aceh sebagai kelompok yang rentan, agar mereka mampu membentengi diri dari berbagai dampak negatif penggunaan media sosial tersebut," ujarnya.

 "Karena selayaknya bom waktu yang dapat mengancam masa depan suatu bangsa, penyebaran hoaks, paham radikalisme dan ekstrimisme berbasis media sosial, jika tidak segera diantisipasi maka disinyalir cepat atau lambat akan mencederai keberlangsungan perdamaian di Provinsi Aceh” tutup Suci. 

Kegiatan FGD tersebut dibuka oleh Kabid Penanganan Konflik dan Kewaspadaan Nasional Badan Kesbangpol Aceh yaitu Suburhan, S.H, dan di moderatori oleh Dr. Sehat Ihsan Shadiqin, M.Ag. serta turut dihadiri oleh beragam unsur seperti FKPT, KNPI, Generasi Muda Persatuan Provinsi Aceh, para akademisi di bidang Sosial, TIK, Sosiologi Agama, dan beberapa lintas disiplin ilmu lainnya dari UIN AR-Raniry dan Universitas Syiah Kuala.

Reaksi anda terhadap berita ini :

Komentar