Pedagang Ikan Aceh Singkil Mengalami Kerugian Puluhan Juta Karena Penjualan Ikan Merosot

KBRN, Singkil: Akibat berita penemuan bangkai babi di sungai Aceh Singkil Pedagang Ikan di Kabupaten Aceh Singkil Mengalami Kerugian Puluhan Juta Karena Penjualan Ikan Merosot.  Padahal penemuan bangkai babi sudah lama terjadi, yaitu pada pertengahan November 2019.  Keluhan atas kerugian ini diungkapkan beberapa pedagang ikan, yang datang langsung ke RRI, Jumat (29/11/2019).

Alamin, Toke Ikan di desa Ketapang Indah, kepada RRI mengatakan anggotanya sekarang sekitar 50 orang, namun karena berita bangkai babi, sampai sekarang tidak ada lagi yang datang membeli ikan. Alamin sudah mencoba menjual ke Pajak Rimo, tetapi hanya terjual Rp 30.000.  Bahkan ia mencoba membeli dari daerah lain, seperti Pulau Banyak dan Sinabang  tetapi tetap tidak laku. 

“Biasanya kami dapat menjual 10 ton ikan sebulan, namun dalam bulan ini 1 ton saja tidak laku sehingga ikan dibuang. Akibatnya kami mengalami kerugian sampai hampir Rp 50 juta,” kata Alamin.

Kemudian,  Ishak atau akrab dipanggil Kabang, Pedagang Ikan di desa Ketapang Indah mengatakan biasanya penjualan ikan dalam satu minggu 3 – 5 ton.  Namun setelah berita penemuan bangkai babi, ikannya tidak laku, dan anggotanya juga tidak mau membawa ikan ke Pekan. 

“Karena itu saya terpaksa menutup gudang, sehingga mengalami kerugian RP 10 – 15 juta.  Saya berharap instansi terkait dapat memperhatikan kondisi ini agar perdagangan ikan kembali stabil,” harap Ishak.

Selanjutnya, Nazaruddin, penjual ikan lainnya mengatakan selama ini ia menjual ikan Minimal 125 kg per hari dan biasanya habis.  Tetapi sejak adanya berita bangkai babi di buang ke laut, penjualannya mengalami penurunan.

“Di Pajak Harian ia biasa menjual 700 kg, namun saat ini membawa 25 kg pun tidak laku.  Belum lagi ada berita hoax, virus babi di makan ikan.  Karena itu kami berharap pemerintah memberi himbauan kepada masyarakat,” kata Nazaruddin.

Nazaruddin mengatakan biasanya ia berdagang di Pasar harian dan Pasar Minggu rimo, PT PLB Astra dan PT Delima.  Namun selama sebulan terakhir di tiga tempat ini ikan dagangannya tidak laku.  Karena itu, agar tidak mengalami kerugian lebih besar, terpaksa ikan yang tidak laku diasinkan. 

Ketiga nelayan tersebut berharap instansi terkait agar memperhatikan dan mengatasi secepatnya persoalan ini.  Sehingga tidak menimbulkan kerugian yang lebih besar terhadap pedagang ikan di Kabupaten Aceh Singkil.

Reaksi anda terhadap berita ini :

Komentar

00:00:00 / 00:00:00