Kowas-LSG Tolak Investasi Uni Emirat Arab Pekerjakan TKA China

KBRN, Banda Aceh : "Investasi Uni emirat Arab Yes,  Keikutsertaan Cina No”, demikian slogan  dalam Spanduk yang disampaikan Komunitas Warga Aceh Singkil Lintas Sektor dan Generasi (Kowas-LSG) sebagai pernyataan sikap menolak  Investasi Uni Emirat Arab yang akan mempekerjakan Tenaga Kerja Asing (TKA) China.   Penolakan TKA China disampaikan menyikapi pernyataan Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman dan Investasi Republik Indonesia, Luhut Binsar Panjaitan pekan lalu di Banda Aceh, yang menyatakan kemungkinan Investasi Uni Emirat Arab di Pulau Banyak mempekerjakan CEO dari China.

Dalam konfrensi Pers dengan wartawan, Senin (13/09/2021) di Sapo  Belen, Pulau Sarok, Kecamatan Singkil, Aceh Singkil, Ketua Kowas-LSG, Dr. H. Syahyuril, menjelaskan masyarakat Aceh Singkil menyambut baik Investasi Uni Emirat Arab, namun menolak apabila dalam investasi tersebut diperkerjakan orang China.

“Ketika Uni Emirat Arab datang  kesini, saya pikir kita sangat welcome kali akan datang.  Yang kita ingin menyampaikan, katakanlah tidak setuju atau menolak ketika Investasi UEA itu sendiri diboncengi oleh orang-orang China, yang sebagai katakanlah tenaga kerja atau apa, sebagai CEO kalau istilahnya Pak Luhut.” Kata Syahyuril.                   

Dikatakan Syahyuril, penolakan TKA China, karena hampir semua masyarakat di Indonesia menolak kedatangan China di Indonesia.  Selain ini Indonesia juga masih memiliki tenaga-tenaga ahli.

“Dalam pandangan kita, kalau untuk membangun sebuah wisata di daerah Pulau Banyak, kenapa harus mendatangkan orang asing?  Tenaga-tenaga ahli di dalam masalah-masalah kelautan, masalah pariwisata ga kalah koq orang Indonesia.  Sangat luar biasa sebenarnya. Kenapa ga itu yang direkrut LBP (Red-Luhut Binsar Panjaitan), untuk mendampingi UEA ini?,” tutur Syahyuril.

Atau kalaupun dari luar negeri kenapa harus China, banyak koq, Korea ada, Jepang ada, daerah Brunei juga ada yang bisa membangun wisata disini mendampingi Uni Emirat Arab tadi.  Lantas kenapa kita tolak China, persoalannya sekarang hampir semua masyarakat di Indonesia ini menolak kedatangan China di Indonesia. Bukan China yang kita tolak itu China yang sudah berada di Indonesia. Seolah-seolah disini tidak ada lagi tenaga kerja yang ahli.  Itu sebenarnya yang kita tolak, itu yang kita tidak suka,” tegasnya.

Syahyuril berharap sikap ini akan disambut semua masyarakat, karena menurutnya kehadiran TKA China akan menimbulkan banyak dampak.

“Walaupun kita belum survey secara menyeluruh, tapi dari survey kecil-kecil, pendapat masyarakat, mereka juga menolak kehadiran China yang menumpang di UEA.  Karena besar kali dampaknya.  Saya ga usah sebutkan dampaknya.  Tapi yang kita kemukakan disini masalah tenaga kerja, belum lagi nanti kita bicara ideologinya” paparnya.

Lebih lanjut, Syahyuril mengatakan sikap penolakan ini akan disampaikan ke Pemerintah, baik kepada Pemerintah Daerah Aceh Singkil, Pemerintah Aceh, dan Pemerintah  Pusat, agar hal ini dapat diantisipasi dan dicegah. 

“Apa kata dunia ketika Aceh menerima tenaga asing, sementara disana dia ditolak.   Seandainya hal ini tidak dapat tanggapan bagus dari Pemerintah kita, kita akan bicarakan ke tingkat Provinsi. Apakah Provinsi juga membiarkan mereka masuk? Kalau juga tidak, kita bicara kepada DPR RI orang-orang Aceh yang ada disana, apakah dibiarkan?  Saya yakin hati nurani mereka menolak ,” harapnya.

Adapun Penolakan ditandai dengan pemasangan Spanduk di 11 kecamatan di Kabupaten Aceh Singkil, yaitu di pusat keramaian, di Bandara, maupun di Pelabuhan Kapal Laut.  Dengan harapan tidak hanya masyarakat,  Pemerintah juga bersikap tegas menolak keterlibatan TKA China tersebut, dan mempertegas klausul tentang hal tersebut di dalam MoU yang akan segera ditandatangani.

Reaksi anda terhadap berita ini :

Komentar

00:00:00 / 00:00:00