Penghentian Penuntutan Berdasarkan Keadilan Restoratif Perkara Tindak Pidana atas nama Tersangka Zamirussalam Bin Alm Zainal

KBRN, Banda Aceh : Jaksa Agung Muda Tindak Pidana Umum Dr. Fadil Zumhana melakukan ekspose, Senin (24/1/22) dan menyetujui Permohonan Penghentian Penuntutan Berdasarkan Keadilan Restoratif Perkara Tindak Pidana atas nama Tersangka Zamirussalam Bin Alm Zainal yang disangka melanggar Pasal 351 Ayat (1) tentang Penganiayaan.

Kepala Kepala Kejaksaan Negeri Aceh Barat Daya, Nilawati, SH,MH menjelaskan kepada RRI, adapun Kasus posisi singkatnya yaitu pada hari Rabu tanggal 19 Mei 2021 Sekitar Pukul 16.00 Wib.

“Penyebab Tersangka melakukan Penganiayaan terhadap korban, IRFAN MAULANA ialah karena awalnya antara Tersangka ZAMIRUSSALAM dan korban IRFAN MAULANA pada hari kejadian tersebut hendak ingin menyelesaikan Permasalahan Tanah milik Keluarga Tersangka dan korban, yang mana menurut korban bahwa Tersangka ZAMIRUSSALAM telah mengerjakan tanah sawah Sah tanpa sepengetahuan ataupun seiziin dari keluarga Korban, yang mana tanah sawah tersebut ialah milik kakak kandung korban yang bernama Sdri AYDA SULFINA Umur 36 Tahun Alamat Desa Lampulo Kota Madya Banda Aceh”, jelas Nilawati.

Ditambahakan, selanjutnya pada hari rabu tanggal 19 Mei 2021 sekitar pukul 15.45 Tersangka ZAMIRUSSALAM mendatangi korban disawah milik kakak korban tersebut, yang mana pada saat itu korban juga sedang berada di sawah milik kakak korban tersebut, pada saat Tersangka ZAMIRUSSALAM menghampiri korban, kemudian korban menanyakan perihal tanah sawah tersebut kepada Tersangka ZAMIRUSSALAM ”Seberna jih nyo Tanoh So wen” (SEBENARNYA INI TANAH SIAPA PAMAN), dan pada saat itu Tersangka menjawab bahwa tanah tersebut ialah Miliknya.

“Kemudian korban kembali menanyakan kepada Tersangka “Munyo memang nyo tanoh wen pat bukti surat jih” (KALAU MEMANG INI BENAR TANAH PAMAN MANA BUKTI SURATNYA) kemudian pada saat itu Tersangka menjawab ( TIDAK PERLU SURAT INTINYA INI PUNYA SAYA, DAN KALAU KAMU MEMANG MAU TANAH INI PUNYA KAMU BERIKAN UANG KEPADA SAYA 15 JUTA RUPIAH), kemudian korban kembali menanyakan kepada Tersangka Atas Dasar apa Tersangka meiminta uang kepada korban 15 juta, kemudian Tersangka menjawab (ATAS DASAR HAK REMAN DAN SAYA TUNGGU DIRUMAH KAMU ANTAR UANG 15 JUTA) dan korban juga mengatakan “pakon wen kereja blang nyo( KENAPA PAMAN MENGERJAKAN TANAH SAWAH INI)”, rinci Nilawati.

kemudian Tersangka tetap menjawab bahwa tanah ini milik nya. pada saat itu Tersangka saya ingin pergi dan naik ke atas sepeda motornya, kemudian korban menghadangnya dan mengatakan kepadanya ”Jangan pergi dulu kita selesaikan permasalahan ini dulu” mendengar hal tersebut kemudian Tersangka secara tiba tiba langsung menampar korban menggunakan tangan sebelah Kanan nya, sebanyak 1 kali kemudian Tersangka ZAMIRUSSALAM langsung menendang bagian dada korban sebanyak 1 kali dengan menggunakan kaki kananya hingga korban terjatuh, selanjutnya Tersangka ZAMIRUSSALAM langsung mengambil batu dengan ukuran segenggam tangan orang dewasa dengan menggunakan tangan kanannya dan langsung memukul ke bagian kepala korban sebanyak 1 kali. Karena dasar hal tersebut korban tersulut emosi dan langsung membalasnya dengan cara korban juga Mengambil batu di pinggir jalan tersebut dan setelah itu korban kembali berdiri dan membalas memukulnya dikepala Tersangka menggunakan Batu yang korban genggam tersebut sebanyak 1 kali , dan setelah itu korban dan Tersangka sama sama jual beli pukulan sehingga korban kembali memukul kepala Tersangka menggunakan batu yang korban genggam tersebut sebanyak 1 kali, dan pada saat bersamaan datanglah Sdra MULIZAR dan Sdra FAZLI dan langsung meleraikan perkelahian korban dan Tersangka tersebut, dan setelah dileleraikan oleh Sdra MULIZAR dan Sdra FAZLI Tersangka langsung pergi dengan sepeda motornya meninggalkan Korban ditempat kejadian tersebut, dan setelah itu Sdra MULIZAR dan Sdra FAZLI langsung membawa Korban ke puskesmas manggeng untuk mendapatkan perawatan.-Setelah dilakukan penyelidikan dan penyidikan terhadap tersangka An. ZAMIRUSSALAM Bin Alm ZAINAL, maka dalam perkara ini Tersangka dapat dipersangkakan telah melakukan perkara dugaan tindak pidana ”Penganiayaan” Sebagaimana yang dimaksud dalam pasal 351 ayat (1) KUHPidana.

“Adapun alasan pemberian penghentian penuntutan berdasarkan keadilan restoratif ini diberikan antara lain yaitu, Pertama Tersangka baru pertama kali melakukan tindak pidana/belum pernah dihukum, Kedua Pasal yang disangkakan tindak pidananya diancam pidana paling lama 5 (lima) tahun, Ketiga Telah ada kesepakatan perdamaian antara tersangka dengan korban pada tanggal 18 November 2021, Keempat Tahap II dilaksanakan pada tanggal 17 Januari 2022 dihitung kalender 14 (empat belas) harinya berakhir pada tanggal 30 Januari 2022 dan Kelima Masyarakat merespon positif”, terang salah seorang Kejari Perempuan di Aceh ini.

Menurut Nilawati, Jaksa Agung Muda Tindak Pidana Umum dalam penyampaian ekspose sangat mengapresiasi Kepala Kejaksaan Negeri Aceh Barat Daya beserta jajarannya, telah berusaha keras menjadi fasilitator dalam proses penyelesaian perkara melalui restorative justice dalam perkara yang berhubungan dengan permasalahan keluarga, hubungan kekerabatan harus dijaga karena hukum pidana itu ultimum remedium (upaya terakhir) dimana pentingnya membangun mindset Jaksa yang mengeser mindset legalistic formil ke restorative justice supaya hubungan keluarga tidak pecah.

Kepala Kejaksaan Negeri Aceh Barat Daya selanjutnya akan menerbitkan Surat Ketetapan Penghentian Penuntutan (SKP2) Berdasarkan Keadilan Restoratif sebagai perwujudan kepastian hukum, berdasarkan Peraturan Jaksa Agung Nomor 15 Tahun 2020 tentang Penghentian Penuntutan Berdasarkan Keadilan Restoratif.

Sebelum diberikan SKP2, Tersangka telah dilakukan perdamaian oleh Kepala Kejaksaan Negeri Aceh Barat daya tersebut baik terhadap korban

Reaksi anda terhadap berita ini :

Komentar