Amankan Pelaku Ilegal Logging, Petugas TNGL Diserang Sekelompok Warga

Ilustrasi Foto : RRI/Munjir

KBRN, Banda Aceh : Petugas Balai Besar Taman Nasional Gunung Leuser (TNGL) diserang oleh sekelompok warga pada saat sedang berpatroli di kawasan hutan lindung Leuseur, Aceh. 

Kejadian ini berawal saat petugas TNGL mengamankan sejumlah pelaku ilegal loggging dan turut mengamankan sejumlah barang bukti berupa kayu hasil ilegal logging dan mesing pemotong kayu. Namun saat mengamankan pelaku, tiba-tiba sekelompok warga menghadang petugas dan sempat melakukan penganiayaan. 

Plt. Kepala Balai TNGL Adhi Nurul Hadi saat dikonfirmasi rri.co.id mengatakan, insiden tersebut terjadi pada Jumat (24/9/2021) sore. 

"Pada hari Jumat tanggal 24 September 2021, sekitar pukul 18.00 telah terjadi penghadangan terhadap Petugas Balai Besar Taman Nasional Gunung Leuser (TNGL) oleh sekelompok masyarakat, di wilayah Desa Tenggulun, Kecamatan Tenggulung, Kabupaten Aceh Tamiang," kata Adhi, Senin (27/9/2021).     Dia mengungkapkan, petugas Balai Besar TNGL yang dihadang merupakan Tim Monitoring dan Pendataan kawasan TNGL yang sedang mengamankan pelaku penebangan pohon secara illegal dalam kawasan TNGL wilayah Desa Tenggulun, Kecamatan Tenggulung, Kabupaten Aceh Tamiang. 

"Tim Monitoring dan Pendataan Balai Besar TNGL berjumlah 12 (dua belas) personil melaksanakan tugasnya di kawasan TNGL wilayah Desa Tenggulun sejak tanggal 23 September 2021. Tanggal 24 September 2021 pukul 13.00 WIB Tim mendengar suara chain saw dari arah tegakan hutan dalam kawasan TNGL, kemudian Tim dibagi dua grup (grup I dan grup II) dan bergerak ke arah sumber suara chain saw tersebut," ujarnya. 

Lanjut Adhi, dalam pengecekan oleh grup I ditemukan 2 (dua) orang pelaku penebangan pohon illegal dengan inisial: R (umur 17 tahun, asal Tualang Tukul) dan AR (umur 42 tahun, asal Tualang Tukul) dengan barang bukti berupa 1 (satu) unit chainsaw dan 12 (dua belas) batang kayu olahan jenis Meranti batu. 

Dalam pengecekan grup II ditemukan 4 (empat) orang pelaku penebangan pohon illegal dengan inisial: MR (umur 38 tahun, asal Kampung Bukit), M (umur 53 tahun, asal Tenggulun Adil Makmur 1), AGR (umur 19 tahun, asal Adil Makmur 1 Pucuk), dan F (umur 20 tahun, asal Adil Makmur 1 Pucuk) dengan barang bukti berupa 1 (satu) unit chain saw dan 26 (dua puluh enam) batang kayu olahan jenis Medang. 

Seluruh pelaku (enam orang) dan alat bukti diamankan oleh Tim dan mulai meninggalkan lokasi temuan sekitar Pukul 16.30 WIB. Sekitar pukul 18.00 WIB Tim yang sedang membawa pelaku dan alat bukti dihadang oleh sekelompok orang tak dikenal berjumlah sekitar 50-80 orang di daerah Sei Rambe. 

Beberapa kejadian dalam penghadangan, petugas mengalami pengambilan paksa pelaku dan barang bukti oleh sebagian orang dari kelompok orang tak dikenal tersebut serta pemukulan terhadap petugas dan perusakan kendaraan petugas oleh beberapa orang dari kelompok orang tak dikenal tersebut. 

Sambung Adhi, sekitar Pukul 20.00 WIB, dilakukan mediasi antara Tim dengan kelompok orang tak dikenal di Kantor Desa Tenggulun dengan mengikutsertakan Kepala Desa Tenggulun, Babinkamtibmas Polsek Simpang Kiri dan Babinsa Pos Ramil Tenggulun. 

"Sekitar pukul 22.00 WIB semua pihak yang ikut mediasi berangkat ke Polres Aceh Tamiang. Sekitar pukul 23.30 WIB mediasi dilanjutkan di Polres Aceh Tamiang dan diputuskan untuk dilakukan penandatanganan perdamaian antara Kepala Desa Tenggulun dengan Ketua Tim Monitoring dan Pendataan Balai Besar TNGL," ungkapnya. 

Dari insiden tersebut, petugas TNGL mengalami memar akibat pemukulan, 1 (satu) unit kendaraan roda 4 rusak sedang dan 8 (delapan) unit kendaraan roda 2 rusak ringan dan sedang. 

Lebih lanjut kata Adhi, lokasi pengamanan pelaku dan barang bukti berada pada titik-titik koordinat: 03 o 59’ 43,9” LU dan 98 o 02’ 28,9” BT; 04 o 00’ 20,2” LU dan 98 o 03’ 18,3” BT; 04 o 00’ 13,45” LU dan 98 o 02’ 25,21” BT. 

Hasil proyeksi titik-titik koordinat tersebut terhadap peta lampiran Keputusan Menteri Kehutanan Nomor: SK.4039/Menhut-VII/KUH/2014 tanggal 23 Mei 2014 (Penetapan sebagian Kawasan TNGL di Provinsi Sumatera Utara), menunjukan bahwa lokasi dimaksud berada pada zona rehabilitasi dan zona rimba kawasan TNGL.  

Dia mejelaskan, berdasarakan pasal 33 ayat (3) Undang undang Nomor 5 Tahun 1990 tentang Konservasi Sumber Daya Alam Hayati dan Ekosistemnya bahwa “Setiap orang dilarang melakukan kegiatan yang tidak sesuai dengan fungsi zona pemanfaatan dan zona lain dari taman nasional, taman hutan raya dan taman wisata alam. 

Dengan ketentuan pidana kejahatan yaitu penjara paling lama 5 (lima) tahun dan denda paling banyak Rp. 100.000.000,- (seratus juta rupiah) dan pidana pelanggaran yaitu kurungan paling lama 1 (satu) tahun dan denda paling banyak Rp. 50.000.000,- (lima puluh juta rupiah). 

Selain itu berdasarkan Pasal 12 huruf c Undang undang Nomor 18 tahun 2013 tentang Pencegahan dan Pemberantasan Perusakan Hutan jo. Undang undang Nomor 11 tahun 2020 tentang Cipta Kerja, bahwa “Setiap orang dilarang melakukan penebangan pohon dalam kawasan hutan secara tidak sah” dengan ketentuan pidana yaitu penjara paling singkat 1 (satu) tahun dan paling lama 5 (lima) tahun dan pidana denda paling sedikit Rp. 500.000.000,- (lima ratus juta rupiah) dan paling banyak Rp. 2.500.000.000,- (dua miliar lima ratus juta rupiah). 

Kawasan TNGL merupakan kawasan konservasi yang memiliki nilai penting berupa keragaman ekosistem, keanekaragaman hayati (flora dan fauna) serta gejala-gejala alam unik yang berfungsi sebagai perlindungan sistem penyangga kehidupan, pengawetan keanekaragaman hayati dan pemanfaatan potensi kawasan secara lestari.      

Reaksi anda terhadap berita ini :

Komentar

00:00:00 / 00:00:00