Buka Rumah Baca Mahasiswa UNHAS Manfaatkan Sampah Plastik

KBRN, Atambua: Pemerintah Desa Jenilu Kecamatan Kakuluk Mesak Kabupaten Belu Propinsi Nusa Tenggara Timur, sabtu (27/07/2017) melouncing “Rumah Baca” bagi anak usia sekolah. Kapada RRI Kepala Desa Jenilu Petrus Kapir, usai kegiatan tersebut mengatakan rumah baca dimaksud sudah menjadi impian pemerintah desa setempat, karena menurutnya salah satu hal untuk memajukan bangsa adalah melalui peningkatan minat baca, karena melalui membaca dapat merubah pola pikir masyarakat khususnya bagi anak usia sekolah.

“Mendirikan rumah baca seperti  ini sebenarnya merupakan mimpi kami selama ini. Alasanya karena dengan membaca, dapat meningkatkan kecerdasan anak. Apa lagi  sebagai penerus perjuangan bangasa, mereka kedepannya tau apa yang harus dilakukan untuk kemajuan bangsa ini”. Kata Petrus.

Menurut Petrus, untuk membangun rumah baca tersebut Ia melakukan koordinasi dengan sejumlah mahasiswa asal Universitas Hasanudin (UNHAS) Makasar, yang melakukan kegiatan Kuliah Kerja Nyata KKN  di wilayah tersebut. Sehingga dengan berbagai cara rumah baca tersebut akhirnya bisa di terealisasi.

“Jadi seperti apa yang saya sampaikan, niat membuka rumah baca ini saya coba sampaikan ke mahasiswa asal Unhas yang melakukan kegiatan pengabdian pada masyarakat disini. Mereka menyambut baik apa yang saya sampaikan, sehingga dalam kurun waktu yang sangat cepat, dan melalui berbagai cara akhirnya rumah baca ini kita lauching”.

Sementara itu Sofyan, selaku Koordinator KKN posko empat,  perbatasan RI-Timor Leste dalam kesempatan tersebut juga menyampaikan rumah baca yang dibuka tersebut berkat kerja keras semua mahasiswa, didukung pemerintah desa setempat. Meski hanya sebatas merenovasi ruangan, namun hal tersebut bukan suatu hal yang mudah, karena hampir semua perabot, maupun dekorasi terbuat dari barang bekas, seperti sampah plastik.

“Rumah Baca ini akhirnya bisa seperti ini, karena kerja keras kami semua, didukung pemerintah desa setempat. Sebenarnya kami hanya merenovasi ruangan yang sudah ada, namun yang sedikit sulit adalah ketika kami merancang meja baca, dan kursi serta dekorasi dalam ruangan, karena semuanya kami menggunakan barang-barang bekas seperti sampah plastik yang kami pungut di sepanjang pesisir pantai. Kami memilih menggunakan barang-barang bekas karena memang itu juga termasuk dalam salah satu program yang ingin diterapkan selama pelaksanaan KKN”.  Ungkap Sofyan.

Ia berharap kedepan melalui upaya yang telah dilakukan, selain sebagai suatu tanda mata, rumah baca tersebut nantinya bisa terus berkembang, karena melalui membaca ia yakin anak-anak di perbatasan akan memiliki kecerdas serta  wawasan yang luas. MD

Reaksi anda terhadap berita ini :

00:00:00 / 00:00:00