Rekonstruksi kasus Penganiayaan dan Pelecehan terhadap korban BWA, tersangka Le Ray akui perbuatannya

Tersangka Le Ray saat digiring anggota Polres TTU usai melakukan reka ulang di Rumah Jabatan Bupati TTU,selasa (19/01/2021).jpg

KBRN, Kefamenanu: Penyidik Polres Timor Tengah Utara melakukan rekonstruksi atas kasus penganiayaan dan pelecehan yang menimpa BWA, warga kelurahan Maubeli kecamatan Kota Kefamenanu.

Rekonstruksi kasus dengan tersangka Le Ray, warga kelurahan Benpasi kecamatan Kota Kefamenanu tersebut berlangsung di tiga lokasi berbeda yang menjadi tempat kejadian perkara yakni di rumah kontrakan pengelola akun suluh desa, Frids wawo lado yang beralamat di kelurahan Benpasi, rumah jabatan Bupati TTU serta di kebun pepaya milik Bupati TTU, Raymundus Sau Fernandez yang berada di Naen Kelurahan Tubuhue kecamatan Kota Kefamenanu.

Dalam proses rekonstruksi yang berlangsung di tiga TKP, selasa (19/01/2021) tersebut, selain menghadirkan tersangka Le Ray, penyidik juga menghadirkan korban BWA yang didampingi oleh Direktris Yabiku NTT, Maria Filiana Tahu serta pendamping dari Dinas Pemberdayaan Perempuan dan Anak (DPPA) kabupaten TTU.

Rekonstruksi yang berlangsung di tiga TKP tersebut, dipimpin langsung oleh Kasat Reskrim Polres TTU, AKP. Sujud Alif Yulamlam dan proses reka ulang tersebut dimulai dari TKP pertama yakni di rumah kontrakan pengelola media suluh desa di kelurahan benpasi.

Usai melakukan reka ulang kasus di TKP pertama, penyidik kemudian melanjutkan ke TKP kedua yakni di rumah jabatan Bupati TTU, namun sayangnya saat tiba di lokasi kedua, pintu masuk ke TKP kedua masih dalam kondisi terkunci (digembok), padahal sebelumnya aparat kepolisian telah berkoordinasi dengan pihak Pemda TTU bahwa akan dilakukan reka ulang di lokasi tersebut dan sesuai pengakuan petugas Satpol PP yang berjaga di rumah jabatan Bupati TTU, kunci gembok tersebut dipegang oleh Bagian Umum Setda TTU.

Akibat kondisi tersebut, pihak kepolisian memutuskan untuk menuntaskan proses rekonstruksi di TKP ke tiga yakni di kebun pepaya milik Bupati TTU, Raymundus Sau Fernandez yang berada di Naen kelurahan Tubuhue dan kemudian kembali melakukan rekonstruksi di TKP kedua di rumah jabatan Bupati TTU.

Direktris Yabiku NTT, Maria Filiana Tahu menjelaskan, seluruh adegan dalam proses rekonstruksi yang berlangsung di tiga TKP tersebut, sudah sesuai dengan keterangan yang disampaikan oleh korban BWA.

Filiana mengatakan, saat berada di TKP kedua dan ketiga, tersangka sempat berupaya untuk mengelak dan mengelabui penyidik, namun disaat itupun langsung dibantah oleh korban dan akhirnya dihadapan penyidik, tersangka pun mengakuinya.

" saya kira semua sesuai dari sejak awal korban menceritakan saat kejadian sampai proses reka ulang tidak ada yang selisih, bahkan di TKP ke tiga, itu yang ada upaya tersangka untuk mengelabui alur tindakannya, tapi langsung dibantah oleh korban dan kemudian di depan penyidik tersangka mengakuinya " ungkap Direktris Yabiku NTT, Maria Filiana Tahu kepada RRI, selasa (19/01/2021).

Filiana juga menyesalkan, pihak kepolisian tidak memasang garis polisi di TKP yang berujung pada hilangnya barang bukti berupa kemeja serta pakaian dalam yang dirobek tersangka saat kejadian di TKP kedua, padahal sesuai aturan TKP tersebut seharusnya diberi garis polisi agar membatasi akses orang sehingga tidak memberi peluang untuk adanya upaya menghilangkan barang bukti.

" yang saya sesalkan justru kehilangan barang bukti berupa pakaian yang dikenakan korban tidak ada, saya melihat pantas tidak ada, karena TKP tidak diberi garis polisi, kalau memang ini TKP harusnya ketika terjadi itu sudah dipasang Police Line supaya tidak bebas diakses oleh orang " jelasnya

Filiana juga mengungkapkan, posisi kamar di TKP kedua sudah tidak seperti awal kejadian korban BWA dianiaya dan dilecehkan oleh tersangka, Meski demikian namun tersangka mengakui semua perbuatannya.

“ Posisi kamar sudah tidak seperti awal , kamar sudah diobrak abrik, entah karena saat olah TKP oleh polisi, tapi saat masuk korban mengaku posisinya sudah tidak sama lagi, tapi pelaku mengakui semua cerita yang diceritakan oleh korban, termasuk dengan bagaimana dia menggunakan sapu ijuk untuk menusuk kemaluan korban, awalnya mengaku tusuknya di paha, tapi setelah itu pelaku mengakui bahwa tusuknya di kemaluan korban, pelaku mengakui merobek dan memasukkan pakaian korban dalam kantong tapi dia tidak mengetahui keberadaannya, ” terangnya.

Filiana menambahkan, meskipun proses rekonstruksi tersebut sudah membuka fakta-fakta atas kasus tersebut, namun pihaknya masih menyesalkan pasal yang dijeratkan kepada tersangka sesuai surat  pemberitahuan perkembangan hasil penyidikan (SP2HP) yakni hanya pasal 351 KUHP tentang Penganiayaan, sedangkan pasal 285 KUHP tentang kekerasan seksual tidak termuat, padahal dalam keterangan korban serta adegan dalam proses rekonstruksi hingga pengakuan tersangka membuktikan adanya tindakan pemerkosaan terhadap korban BWA.

" saya akan meminta polisi untuk tidak hanya disangkakan dengan pasal tunggal, ini mesti pasal berlapis, meskipun pasal 285 tidak dibuktikan dalam hasil visum, tetapi dalam adegan kekerasan yang dilakukan sejak awal  membuktikan adanya kekerasan seksual yang terjadi pada korban, " tegasnya.

Sementara Kasat Reskrim Polres TTU, AKP. Sujud Alif Yulamlam mengatakan, seluruh adegan serta keterangan dari korban maupun tersangka dalam proses rekonstruksi yang berlangsung di tiga lokasi tersebut saat ini masih dalam catatan untuk selanjutnya masih akan dilakukan gelar perkara, sehingga pihaknya belum bisa menyimpulkan jika ada pasal lain yang akan disangkakan terhadap tersangka.

" ada banyak adegan saat rekonstruksi dan semuanya masih dalam catatan untuk selanjutnya kita masih harus gelar perkara dulu, selama inikan kita sudah minta untuk rekonstruksi, tapi korban belum bersedia karena rekonstruksi ini harus kita laksanakan dengan kondisi korban harus dalam keadaan sehat sehingga bisa terjamin cara berpikirnya, " jelas Sujud.

Reaksi anda terhadap berita ini :

Komentar

00:00:00 / 00:00:00