Tersangka Pengambil Paksa Jenazah Pasien Covid di Ambon Tetap Diproses Hukum

KBRN, Ambon : Sepuluh tersangka pengambil paksa jenazah Covid 19 di Jalan Jenderal Sudirman pada akhir Juni 2020 lalu tetap diproses hukum. Hal itu ditegaskan Kabid Humas Polda Maluku Kombes Pol Muhammad Roem Ohoirat kepada RRI, Sabtu (11/07/2020).

Menurut Ohoirat, mereka yang sudah dijadikan tersangka sebanyak 10 orang, 3 diantaranya adalah perempuan. Namun yang ditahan hanya 7 tersangka laki-laki, sedangkan tersangka perempuan hanya dikenakan wajib lapor.

"Selain kasus pengambilan jenazah covid secara paksa, ada juga kasus penganiayaan terhadap seorang petugas medis RSUD dr Haulussy pada hari yang sama. Terhadap kasus penganiayaan ini telah ditetapkan 3 tersangka," jelas Kombes Ohoirat.

Ditegaskan, proses hukum terhadap tersangka kasus pengambilan jenazah covid dan penganiayaan petugas medis RSUD Haulussy tetap akan dilanjutkan untuk menegakkan supremasi hukum, sekaligus memberikan efek jera bagi yang lain.

"Sebelum almarhum dirawat kan sudah keluar hasil swabnya, positif. Setelah meninggal, juga dilakukan uji swab dan hasilnya juga positif, tapi mereka tetap melakukan pengambilan jenazah secara paksa. Jadi, kita tentunya tetap melakukan penegakan hukum," terangnya.

Kasus pengambilan jenazah pasien covid berinitial HK di Jln Jenderal Sudirman Batumerah terjadi pada Jumat (26/06/2020). Mobil jenazah dihadang ratusan warga yang kebanyakan keluarga almarhum dalam  perjalanan menuju ke tempat pemakaman khusus di Kampung Hunuth. 

Warga yang melakukan pencegatan sempat bersitegang dengan polisi, namun peti jenazah berhasil dikeluarkan dari dalam ambulance, lalu dibawa ke rumah duka di Galunggung Batumerah. Polisi menetapkan  8 orang sebagai tersangka setelah dilakukan gelar pemeriksaan dan gelar perkara.  

HK adalah mantan anggota DPRD Kabupaten Maluku Tengah. Dia diketahui menderita sakit tumor sejak lama, namun saat dirujuk ke RSUD Haulussy Ambon, dia divonis terinfeksi Covid-19 dan dibantah secara tegas keluarga almarhum.

Sesuai dengan pasal 214 KUHP  junto pasal 93 Undang-Undang RI Nomor 6 tahun 2018 tentang Karantina, para tersangka terancam hukuman penjara selama tujuh tahun.

Reaksi anda terhadap berita ini :

Komentar

00:00:00 / 00:00:00