Terdakwa Kasus Pembobolan Dana Nasabah BNI Jadi Tahanan Jaksa

PENYERAHAN TERDAKWA: William Fred Ferdinandus (baju hijau) salah satu terdakwa dalam kasus pembobolan dana nasabah BNI Cabang Utama Ambon , diserahkan Tim Penyidik Polda Maluku kepada JPU Kejaksaan Tinggi Maluku. Penyerahan terdakwa dilakukan pada Rabu (24/6/2020), di ruang Penyidikan Kejaksaan Tinggi Maluku
Asisten Pidana Khusus Kejaksaan Tinggi Maluku, Muhammad Rudy

KBRN, Ambon:  Jaksa Penuntut Umum (JPU) Kejaksaan Tinggi Maluku, resmi menerima berkas William Fred  Ferdinandus alias Will, terdakwa terlibat kasus pembobolan dana 32 nasabah di BNI Cabang Utama Ambon, senilai Rp58,9 miliar.

Terdakwa William berusia 28 tahun ini, merupakan Teler BNI pada Kantor Cabang Pembantu (KCP)  Mardika serta teler di KCP  BNI Tual.

Penyerahan berkas dilakukan Tim Penyidik Tindak Pidana Korupsi (Tipikor) Polda Maluku, diwakili Ipda Darwis  berlangsung di ruang penyidikan Kejaksaan Tinggi Maluku, Rabu (24/6/2020). Dalam penyerahan, terdakwa didampingi kuasa hukumnya,  Markus Manuhuttu.

Saat di ruang penyidikan, terdakwa menandatangani surat penyerahan dirinya. Setelah itu, ia diminta mengenakan rompi berwarna merah muda bertuliskan Tahanan Tindak Pidana Korupsi (Tipikor) Kejaksaan Tinggi Maluku, lalu kemudian  digiring  ke Rumah Tahanan (Rutan)  Polda Maluku.

Asisten Pidana Khusus  (Aspidsus) Kejaksaan Tinggi Maluku, Muhammad Rudy  membeberkan, terdakwa dititipkan sementara di Rutan Polda Maluku, sambil menunggu pelimpahan berkas  kasusnya oleh JPU ke Pengadilan Tipikor. Tim JPU  juga sudah mengawal dan mengecek langsung keberadaan terdakwa di Rutan Polda Maluku saat itu.

Dalam kasus ini, nilai kerugian negara yang dilakukan terdakwa dari KCP BNI Tual sebesar Rp19 M lebih. Akibat ulahnya, terdakwa dijerat Pasal Tipikor dan Pasal Tindak Pidana Pencucian Uang.

Untuk  penyerahan berkas perkara bersama tersangka, disertai beberapa  barang bukti. Sebagian barang bukti dalam perkara ini, sudah dilimpahkan sebelumnya saat penyerahan Enam terdakwa  dalam kasus yang sama ke Pengadilan Tipikor.

"Sekarang ini  terdakwa William statusnya tahanan jaksa. Ya, dalam waktu dekat segera kami limpahkan  ke Pengadilan Tipikor untuk menjalani persidangan,"tegas Rudy

Rudy katakan, Tim JPU yang dipercayakan menangani kasus ini, sangat profesional. Tidak ada kepentingan apapun. Ini murni penegakan hukum.

Sementara itu, Marcus Manuhuttu selaku kuasa hukum terdakwa menyatakan, kliennya sangat kooperatif selama menjalani penyidikan . Manuhuttu tidak keberatan saat kliennya dibawa ke Rutan Polda Maluku.

Mengenai adanya aliran dan sebesar Rp20 juta   yang  diduga pernah  mengalir ke rekening  kliennya, Manuhuttu membantah. Ia luruskan, uang  itu milik  terdakwa  Farradhiba Yusuf.

"Uang itu hanya dititipkan kepada klien saya dan tidak digunakan untuk kepentingan pribadi. Ada bukti. Akan kami bongkar di pengadilan,"beber  Manuhuttu

Total jumlah mereka yang terlibat kasus ini, ada Delapan orang. William merupakan orang Ketujuh.  Untuk Tata Ibrahim Staf Devisi Humas Kantor Wilayah BNI Makasar, ditetapkan sebagai tersangka oleh Penyidik Polda Maluku sejak Maret 2020. Tata  diduga menikmati Rp9,6 miliar dari hasil kejahatan pembobolan dana 32 nasabah di BNI Cabang Utama Ambon.

Diakui Rudy, dari informasi yang diterima dari penyidik Polda Maluku, berkas Tata Ibrahim hingga saat ini, belum diserahkan ke JPU, karena  yang bersangkutan  sementara  menjalani karantina. Jadi, statusnya belum terdakwa.

Dari Delapan itu, Enam diantaranya telah bergulir di Pengadilan Tipikor Ambon. Mereka terdakwa Farradhiba Jusuf, mantan Wakil Pimpinan BNI Cabang Ambon dan anak angkatnya Soraya Pellu, Andi Rizal alias Callu, Kepala Kantor Cabang Pembantu (KCP) BNI Mardika, Chris Rumalewang, Kepala KCP BNI Tual, Josep Maitimu, Kepala KCP BNI Aru, dan Martije Muskita Kepala KCP BNI Masohi.(SS)

Reaksi anda terhadap berita ini :

Komentar

00:00:00 / 00:00:00