Dishub Rekayasa Jalan, Sopir Angkutan Kota Protes dan Menolak

Supir angkutan kota jalur karpan, Kopertis dan ahuru saat berada di kantor DPRD kota Ambon, Juma

KBRN, Ambon: Sopir Angkutan kota jalur  Karang Panjang, Kopertis dan Ahuru menolak rekayasa jalan yang dilakukan Dinas Perhubungan kota Ambon. 

Menurut Koordinator Supir Angkot Karpan, Kopertis dan Ahuru, Edy Sapulette menegaskan, tidak sepakat dengan kebijakan Dishub Ambon saat ini, karena rekayasa jalan yang dilakukan saat ini, dinilai merugikan para pengemudi angkutan kota. 

"Katong hadir di sini karena ada perubahan atau rekayasa jalan yang dilakukan Dinas Perhubungan kota Ambon.  Kami merasa dirugikan, jadi kami protes Dishub melalui DPRD kota Ambon selaku perpanjangan tangan dari kami rakyat, "kata Sapulette.

Menurutnya, kebijakan yang dilakukan saat ini akan sangat merugikan mereka, mengingat jalur yang ditempuh cukup jauh dan bakal bertemu kemacetan,  padahal saat ini, mendapatkan BBM jenis Pertalite sudah sangat sulit karena harus antri berjam-jam di pom Bensin. 

"Katong menolak rekayasa jalur ini, karena kalau jalan taputar,  nanti bakudapa macet di jaln Tulukabessy, ini ketemua macet seng satu kali tapi berulang kali, apalai Pertalite saja sudah susa mau dapa, "tegasnya. 

Kepala Dinas Perhubungan kota Ambon Robby Sapulette menjelaskan,  rekayasa jalan saat ini merupakan tindak lanjut dari penertiban terminal Mardika. 

Dikatakan, saat ini dilakukan perubahan jalur akses keluar masuk terminal, diantarnga untuk jalur Karpan, Kopertis, dan Ahuru. Awalnya masuk melalui jembatan samping Dinas PU Provinsi Maluku menuju ke terminal Mardika, namun dirubah, yaitu masuk melalui jalan Mutiara (Samping Citra) menuju Geraja BTM. 

"Kenpaa begitu, karena kalo kita izinkan jalur itu dibuka, maka akan terjadi grosing keluar dari jalan Mutiara, grosing ke kanan, dan masuk ke jln. Tulukabessy. Grosing ini yang menjadikan di jam-jam puncak itu akan menghambat lalulintas di bagian belakangnya,"jelas kadis Perhubungan kota Ambon Robby Sapulette, usai shering bersama pengemudi Angkutan di kantor DPRD kota Ambon,  Juma'at (19/08/2022).

Diakuinya, rekayasa jalan saat ini adalah alternatif yang dilakukan untuk mengurai kemacetan, karena jaln pantai Mardika tidak dapat diandalkan sekarang ini, mengingat dampak dari revitalisasi pasar Mardika, Pedagang Kaki Lima (PKL) menggunakan jalan tersebut untuk berjualan.  Selain itu, karena kondisi jalanan yang rusak, sehingga terjadi penundaan yang berakhir kemacetan. 

"Sehingga inilah alternatif yang kita coba dulu. Kita ujicoba dulu beberapa hari ke depan, akan kita evaluasi karena sudah tidak ada alternatif. Kecuali dengan rekayasa ini.  Namun managemen dan rekayasa ini dalam kurun waktu yang sudah di tentukan akan kita evaluasi,  efektif nggak, atau ada alternatif lain yang harus kami hadirkan sebagai solusi menyelesaikan permasalahan di jln.Tulukabessy yang berpengaruhnya smpai ke jln. Panjaitan, Selamet Riyadi, dan jln. Jenderal Sudirman,"jelasnya. 

Diakuinya, dalam satu kebijakan sering terjadi penolakan,  namun dengan berjannya waktu, maka akan terlihat dampak dari kebijakan tersebut. 

Reaksi anda terhadap berita ini :

Komentar