Ini Kronologis Anak 11 Tahun Disetubuhi Kenalan dan Ayah Kandung

KBRN, AMBON : Masih berusia 11 tahun, sebut saja Bunga, telah menjadi korban tidak senonoh dua pria dewasa. 

Gadis cilik ini, dipaksa melayani nafsu bejat dua laki-laki dewasa.  Sangat menyedihkan, salah satu yang merenggut kehormatannya adalah ayah kandungnya,  sendiri.

Di usia 9 tahun, Bunga dirudapaksa ayahnya berulangkali hingga usia 11 tahun. 

Tragedi serupa kembali dialami Bunga, setelah berkenalan dengan R.O. 

Pria berusia 45 tahun ini ternyata diam-diam mengincar gadis lugu ini. Dia kembali disetubuhi dan dicabuli. 

Dua pelaku bejat, RO dan B kini telah meringkuk di tahanan Polresta Pulau Ambon dan Pulau-Pulau Leasse.  

Kasi Humas Polresta Ambon dan Pp Lease, Ipda Moyo Utomo, Senin (4/7/2022),  menuturkan kronologis  kejadian yang dialami Bunga.

Juru bicara Polresta Ambon ini menceritakan,   korban  dicabuli dan disetubuhi oleh tersangka  O.R  tanggal 27, 28 dan 30 Juni 2022  di tiga tempat berbeda, yaitu penginapan  Wayame, Passo dan Poka, antara pukul 21.00 Wit, 22.00 Wit dan 20.00 Wit. Tersangka mengajak korban berkenalan di bulan Juni 2022, dan sering menanyakan kabar korban  dari teman  korban berinisial B.

Tersangka juga pernah mengajak korban untuk  berpacaran namun tidak direspon.

Hingga Senin,  27  Juni 2022 sekitar pukul 14.00 wit,  tersangka tanpa sepengetahuan keluarga  mengajak korban anak untuk jalan-jalan. 

Korban anak  mau  diajak karena saat itu bersama-sama dengan dua temannya yang lain,  B dan C .

Tersangka ternyata membawa para bocah ini ke penginapan di Wayame lalu memesan kamar. 

Saat  korban anak curhat terkait permasalahan keluarganya kepada tersangka, tiba-tiba  B di hubungi oleh ayah korban dan menyuruh agar  korban anak  segera pulang.

Takut dengan ayahnya, korban  anak meminta tersangka untuk mengantarnya ke rumah temannya.

Sekitar Pukul 20.30  Wit,  tersangka mengantarkan B dan C untuk pulang sedangkan korban anak malah diturunkan di Passo.  Tersangka lalu menyuruh korban  untuk menunggu di tempat tersebut. 

Sekembalinya mengantar B dan C , tersangka lalu menjemput korban anak dan dibawa kembali ke  penginapan. Di tempat ini korban anak dirayu dan disetubuhi. 

Kejadian itu terulang  keesokan harinya, korban kembali dicabuli  di penginapan Passo dan tanggal 30 Juni  di penginapan Poka. 

Tindakan serupa  juga ternyata  dialami korban  berulangkali sewaktu masih duduk di bangku SD kelas empat hingga kelas enam,  oleh ayah kandungnya sendiri B. 

Peristiwa memilukan ini   terjadi  di rumahnya yang berada di kawasan Kecamatan  Salahutu, Kabupaten  Maluku Tengah.  

“Korban disetubuhi dan dicabuli berulangkali sejak September 2019 di malam hari dan kejadian terakhir hari Rabu, tgl 22 Juni 2022 oleh tersangka B, yang adalah ayah kandungnya,”ungkapnya. 

Kejadian ini terungkap  saat tenaga pendamping perlindungan perempuan dan anak  N,  mendampingi korban anak  terkait persetubuhan  yang dilakukan oleh tersangka O. R  yang dilaporkan oleh bapak kandungnya. 

“Pada saat korban anak sedang dimintai keterangan oleh petugas dan didampingi oleh pelapor, saat itu korban anak berperilaku tidak wajar dan merasa tidak nyaman, sehingga muncul kecurigaan petugas dan  pelapor, kemudian pelapor dan petugas menanyakan hal tersebut kepada korban anak, lalu ybs menjawab bahwa bapak kandungnya B juga telah melakukan perbuatan persetubuhan terhadap dirinya semenjak berusia 9 tahun,”jelasnya.

Kedua tersangka  kini sedang menjalani pemeriksaan untuk mempertanggungjawabkan perbuatannya setelah diamankan pada Jumat, 1 Juli 2022,  dan  Sabtu, 2 Juli 2022.  

Polisi juga berhasil menyita sejumlah barang bukti dan meminta keterangan dari dua teman korban. 

Keduanya dijerat tindak pidana   persetubuhan dan atau percabulan terhadap korban anak, sesuai dimaksud dalam Pasal 81 ayat (2) dan atau Pasal 82  ayat (1) UU RI No. 17 Tahun 2016 tentang Penetapan Peraturan Pemerintah Pengganti UU No. 1 Tahun 2016 tentang Perubahan Kedua Atas UU No. 23 Tahun 2002 tentang Perlindungan Anak Menjadi UU Jo. Pasal 64 KUHPidana.

Reaksi anda terhadap berita ini :

Komentar