Air Tuni Akal-Akalan BWS Maluku

KBRN, AMBON : Langkah cepat Balai Wilayah Sungai (BWS) Maluku menyelesaikan persoalan Air Baku di Dusun Mahia Desa Urimesing, Kecamatan Nusaniwe, Kota Ambon, senilai Rp 1,3 Milyar, bersumber dari APBN 2020 lalu, ternyata tidak menyelesaikan persoaalan di Mahia.  

Bahkan air yang di ambil dari sumber Tuni, justru dinilai sebagai akal-akalan BWS Maluku, untuk menutupi kegagalan kontraktor dan balai terhadap uang Negara melalui paket Air Baku Mahia.

Sejumlah warga Mahia yang dihubungi  mengatakan, awalnya sangat merespon positif langkah cepat BWS Maluku, menurunkan tim khusus untuk membantu menyelesaikan proyek Air Baku milik BWS Maluku yang dikerjakan  CV. Shintia, dan hingga tahun 2022 belum juga  berfungsi.

Namun solusi yang dilakukan tim BWS Maluku  dengan mengambil air dari mata air Tuni kemudian ditampung di Profil Tank berukuran 5500 Meter kubik,  kemudian di pompa menuju Bak penampung berkapasitas 50000 Meter kubik, justru bukannya membantu warga setempat, tapi  memberatkan warga untuk memperoleh air. 

Mereka  menuturkan, sebelum paket 1,3 M masuk ke Mahia, warga setempat sudah menggunakan sumber air tuni yang dibangun Dinas PU Provinsi Maluku, tahun 2003 lalu, untuk kebutuhan  sehari-hari  dengan pembagian,  3 kali sehari mendapatkan air.

‘’Harusnya dengan paket Rp 1,3 M, dengan memanfaatkan sumber yang baru,  kita tidak perlu menunggu sampai 3 hari baru mendapatkan air, itu harapan kami, tapi justru yang terjadi, paket 1,3 M gagal, karena tidak berfungsi akibat tidak ada sumber air, dan solusi mengambil air dari Ssumber tuni, itu justru membuat kita bisa 4 hari baru mendapatkan air,”  ungkap mereka.

Warga  juga mempertanyakan, kalau yang diserahkan dari BWS kepada penjabat kepala Dusun Mahia itu, adalah air dari sumber Mahia, lantas uang Negara yang sudah habis untuk Air Baku Mahia sebesar Rp 1,3 M dan tidak bermanfaat, itu bagaimana ? apakah terbuang percuma ? 

“Karena itu, kami minta, Kejaksaan Tinggi Maluku, segera mengusut proyek Air Baku milik BWS Maluku dan pihak kontraktor untuk mempertanggungjawabkan uang Negara yang telah habis,  namun tidak ada asas manfaat bagi masyarakat,”pinta warga.

Penanggungjawab Tim Khusus BWS Maluku, Harry Mustamu yang dikonfirmasi media ini menuturkan, Air Baku di Mahia telah berfungsi dan sudah diserahkan ke Pemerintah Desa melalui Penjabat Kepala Dusun Mahia, Odiek Van Harlin, untuk selanjutnya dipergunakan melayani kebutuhan masyarakat akan air bersih.

Sedangkan Pejabat Kepala Dusun Mahia, Odik Van Harlin yang dihubungi secara terpisah beberapa waktu lalu mengakui telah menerima bantuan BWS Maluku, berupa penggunaan mata air tuni untuk selanjutnya di pakai guna kebutuhan masyarakat Mahia. 

“Saya menerima bantuan  penggunaan air Tuni, untuk dipakai warga Mahia ,karena ada janji dari Pak Harry Mustamu, bahwa BWS Maluku,Tahun 2023 mendatang akan masuk dengan proyek lanjutan  air baku  di Mahia,”tukasnya.

Reaksi anda terhadap berita ini :

Komentar