Kabur Dari Hutang 400 Juta, Oknum TNI AD Ini Ditangkap, Ditahan di Pomdam Pattimura

KBRN, AMBON : Setelah melarikan diri beberapa bulan dari dinasnya selaku prajurit TNI AD, Kopda TH berhasil ditangkap. Diduga, kaburnya TH ada hubungannya dengan dugaan penipuan terhadap Farita Mulyati.

Warga Sipil ini ditipu TH hingga mengalami kerugian hingga Rp. 400 juta, atas bisinis kayu dari Bula Seram Bagian Timur yang dijalaninya. Kopda TH ditangkap di Semarang.

Kepala Penerangan Kodam XVI/Pattimura (Kapendam), Kolonel Arh Adi Prayogo yang dikonfirmasi RRI membenarkan adanya laporan dugaan penipuan yang dilayangkan Farita Mulyati melalui pengacaranya.

Menurut Kapendam, TH sudah ditangkap dan diaamankan di Pomdam Pattimura. "TH sdh (sudah) ditangkap setelah bbrp (beberapa) bulan meninggalkan dinas dan hari ini ybs (yang bersangkutan) ditahan di Pomdam. Permasalahan ybs sdg (Sedang) diproses hukum lebih lanjut di Pomdam,"tulis Kapendam menjawab pertanyaan media ini, Minggu (16/1/2022).

Awalnya, Farita dan TH, Oknum TNI AD yang bertugas di Kodam XVI/Pattimura ini memiliki hubungan emosional yang baik. Hubungannya retak setelah, TH tidak lagi dipercaya oleh Farita.

Melalui kuasa hukumnya, Rustam Herman dalam rilisnya yang diterima media ini, Minggu (16/1/2022) menyebut,  hubungan korban dan terduga terlapor terjalin secara emosional kekerabayan dengan sangat baik kurang lebih selama empay (4) tahun, bahkan TH sudah dianggap korban sebagai anal sendiri sebelum terjadi peristiwa tersebut.

Ia menguraikan, pada Mei 2021 bertempat dikediaman kliennya (korban) yang beelokasi di Wainitu, Nusaniwe Ambon, TH menawarkan kerja sama dengan korban untuk kepentinganBisnis Kayu, dengan menjanjikan dapat menyanggupi pengadaan kayu yang akan di beli dari Bula, SBT.

Olehnya, TH menawarkan pinjaman modal untuk  pembiayaannya yang membutuhkan modal untuk satu konteiner sebesar Rp. 200.000.000,00,- (dua ratus juta rupiah), maka dalam tenggang waktu 1 (satu) bulan, TH akan mengembalikan seluruh Modal dari korban ditambah dengan 10% keuntungan untuk satu kointener dari hasil penjualan secara tunai.

Dalam upaya untuk meyakinkan korban, kata Herman,  TH menegaskan kepada korban, segala bentuk pengurusan-pengurusan yang berkaitan dengan pembelian atau pengadaankayu dari Bula dan pengangkutannya sampai ke Surabaya, termasukpengurusan transaksi penjualan dengan piıhak Perusahaan sebagai pembeli diSurabaya, sepenuhnya dibawah tanggung jawabnya.  

Lebih dari itu, untuk memuluskan itikad buruknya itu, TH juga menunjukkan beberapa dokumen Perusahaan yang terlibat dalam proses bisnis jualbeli kayu tersebut, diantaranya PT. Salam Pacifik Indonesia Lines, dan PUSKOPKARTIKA PATTIMURA sebagai Pihak Pengirim.

"Dalam kaitan itu, maka klien kamibersedia dan menerima tawaran kerja sama bisnis kayu tersebut dengan memberikan modal awal sebesar Rp. 600,000.000,00,- (enam ratus juta rupiah) untuk pengadaan kayu sebanyak 3 (tiga) konteiner,"ujar Herman.

Selanjutnya, di tanggal 17 Mei 2021TH meminta sejumlah uang tersebut kepada korban agar segeradipergunakan untuk dipergunakan dalam bisinis tersebut.  Saat itu, lanjut Herman, korban sedang mengalami kondisi kesehatan yang kurang baik, ditambah lagi dengan sikap batin korban yang sudah terlanjur mempercayai TH dan mengangap TH seperti anak sendiri itu, lalu memberikan Kartu ATM Bank BCA miliknya kepada TH.

Melalui ATK terdekat, TH mendatanginya dan langsung melakukan beberapa kali transaksi dengan cara mentransfer sejumlah uang. Rp. 500.000.000,00,- (lima ratus jula nupiah) di tranfer ke Rekening milik pribadinya atasnama Tranggono Hemawan dan rekening atas nama Surya Haryanto.

"Karena klien kami di rekening BCA tidak cukup saldo untuk mentranfer sebesar Rp. 600 juta, klien kami lalu kembali memberklan ATM BRInya untuk mentranfer Rp. 100 juta tambahan. Total keseluruhan uang yang diterima terduga terlapor (TH) sebesar Rp. 600 juta," akui Herman.

Setelah mengantongi modal Ro. 600 juta, TH menawarkan kepada anak korban  atas nama Faisal Hendra untuk ikut sebagai rekanan bisnis kayu tersebut dengan memberikan modal untuk tambahan kayu sebanyak 2 (dua) konteiner. Anak korban, kembali termakan rayuan TH dan setuju ikut dalam hubungan bisnis yang ditawarkannya. 

Ketika itu bisin kayu jalan. TH baru bisa mengembalikan Rp. 200 juta ke korban, dengan demikian maka sisah uang milik korban sebagai modal atas pembiayaan kayu sebanvak 2 (dua) konteiner yang berada pada TH adalah sebesar Rp. 400 juta.

"Saat kayu tiba di surabaya, terlapordengan pihak oembeli melakukan transaksi jual beli sekitar bulan Juni 2021 maka Rp. 400 juta untuk 2 (dua) konteiner dengan modal awal milik korban kami ditambah dengan 10% fee keuntungan sebesar Rp. 60 juta. Akan tetapi terlapor hanya memberikan Rp. 60 juta yang afalah fee 10% fee keuntungan tersebut yang ditransfer ke rekening korban. Dengan demikian maka korban telah mengalami kerugian sebesar Rp. 400 juta yang hingga saat ini belumdikembalikan sebagimana yang telah diperjanjikan secara lisan,"pungkasnya.

Reaksi anda terhadap berita ini :

Komentar