Kaki Palsu Sang Penyemangat Hidup

Latif Yusuf Papalia yang merupakan tenaga kerja TKBM Ambon, peserta BPJAMSOSTEK yang mengalami kecelakaan dan menggunakan kaki palsu.jpg

KBRN,Ambon: Pagi itu udara sejuk dengan langit yang dipenuhi ribuan bintang, menjadi moment duka bagi seorang pria separuh baya yang sejak malam bergulit dengan pekerjaannya bersama alat-alat berat di pelabuhan Yosudarso Ambon. 

Kamis 01 November 2018, sekitar pukul 05.00 WIT dini hari, kaki kiri yang menjadi tumpuannya selama ini, ikut tergiling oleh roda CC, alat berat yang terbuat dari besi. Langit terasa gelap dan harapannya menjadi kepala keluarga, pencari nafkah dan kebanggaan keluarga seketika hilang dari benak. Rasa sakit karena kakinya tergiling semakin terasa belum lagi pikirannya tertuju pada besaran biaya yang harus dikeluarkan saat berobat. 

Sekitar pukul 6 pagi pria dengan nama lengkap Latif Yusuf Papalia yang merupakan tenaga kerja TKBM Ambon itu, terlihat lemas tak berdaya di tempat tidur diruangan Bansal RST dr. Latumeten Ambon setelah diperiksa dokter dan perawat. 

Biaya administrasi dan lain lain diurus oleh mandor dari TKBM Ambon. Namun di pukul 08 WIT, terlihat seorang laki laki yang menyatakan diri sebagai perwakilan BPJS Ketenagakerjaan (BPJAMSOSTEK) Cabang Maluku. Yang kemudian mendekatinya dan menanyakan perihal kecelakaan itu. Seketika, semua berubah perlahan menjadi terang.

"Saya itu kecelakaan sekitar pukul 5 pagi dan masuk rumah sakit itu kira-kira jam 6 gitu. Terus biayanya kan memang sebelumnyab masih bingung, tapi kebetulam ada mandor kami jadi dia yang urus. Tapi di jam 8 pagi, orang BPJAMSOSTEK sudah datang. Bapaknya bilang ke saya, untuk tidak khawatir terkait biaya pengobatannya,"Kata Latif kepada RRI.co.id Minggu (05/12/2021). 

Setelah petugas BPJAMSOSTEK hadir di RST dr Latumeten hingga selesai operasi dan perawatan di rumah sakit, kurang lebih lima hari itu, biayanya ditanggulangi bahkan BPJAMSOSTEK mengganti biaya yang dikeluarkan TKBM Ambon saat pertama kali masuk rumah sakit. 

"Jadikan saya operasi itu di hari Jumat pagi, tpi di hari Kamis itu, BPJAMSOSTEK sudah mendapingi. Saya yang awalnya di ruangan bangsal dipindahkan ke kelas satu dengan berbagai fasilitas terbaik rumah sakit. Lima hari di RST saya diperboleh pulang oleh dokter namun dengan syarat rawat jalan. Dan betapa kagetnya saya, biayanya juga ditanggung BPJAMSOSTEK, malahan mereka sediahkan transportasi antar jemput. Tapi tidak saya gunakan karena ada anak saya jadi dia yang ngantar saya bolak balik periksa,"cerita Latif.

Tiga bulan di kota Ambon dan menjalani perawatan, pria 44 tahun itu langsung di rujuk ke salah satu rumah sakit di Jakarta tepatnya di bulan Maret 2019, guna mendapatkan perawatan yang lebih baik, yakni pemasangan kaki palsu. 

Dengan suara penuh bangga, suami dari Nur itu mengaku, biaya perawatan pemasangan kaki palsu di Jakarta ditanggulangi oleh BPJAMSOSTEK. Bahkan biaya transportasi dan lain lain selama 12 hari di sana juga diurus. 

"Jadi seharusnya kan 15 hari di RS, tapi karena dipercepat jdi 10 hari. Keluar dari rumah sakit, kami sekitar dua hari baru balik ke Ambon. Kami tinggal di penginapan dan semuanya mereka (BPJAMSOSTEK) yang nanggung, Alhamdullah,"ungkap bapak lima anak itu.

Kaki palsu yang diterimanya saat ini adalah kaki palsu terbaik dan sangat nyaman digunakan. Bahkan ia masih diperbolehlan bekerja sebagai pekerja TKBM Ambon, dan posisinya dinaikan dari pekerja lapangan menjadi pengawas. Hal itu berkat pelayanan yang didapatkan sebagai peserta BPJAMSOSTEK, meskipun saat itu, ia dan teman-temannya baru terdaftar sebagai peserta sekitar setahun.

"Kerjaan sudah tidak kaya dulu lagi, kalo dulu kan naik -naik kontener kalo sekarang sudah tidak lagi, dapat tempt lebih ringan. Kalau bangga sangt bangga. Kalo tidak ada program ini saya tidak mungkin seperti ini. Alhamdllah pelayanan yang diberikan sangat baik dan kaki yang diberikan adalah yang terbaik,"kata Latif.

Lelaki lima anak itu sangat berterima kasih kepada BPJAMSOSTEK Cabang Maluku karena mengembalikan kepercayaannya untuk menjdi seorang ayah, kepala keluarga dan pencari nafkah yang dibanggakan oleh keluarga.

"BPJAMSOSTEK benar-benar melayani pesertanya dengan baik dan nyaman. Terima kasih banyak,"ungkapnya.

Sebagai istri, Nur (42) mengaku sangat terbantukan dengan menjadi peserta BPJAMSOSTEK. Karena selain mendapatkan pengobatan hingga sembuh, lelaki yang dicintainya itu, juga mendapatkan santunan karena cacat tetap sebesar Rp 64 juta.

"Beryukur sekali ya, Alhamdllah bangat, kalau tidak jadi peserta tidak mungkin bisa kaya sekarang. Saat ini bapak sehat sekali, Alhamdllah syukur,"ungkap Nur.

Kepala BPJAMSOSTEK Cabang Maluku, Mangasa Laurensius Oloan mengatakan, setiap peserta BPJAMSOSTEK yang mengalami kecelakaan kerja, seluruh biaya pengobatan di rumah sakit di tanggung hingga sembuh. Selain itu, peserta berhak memilih rumah sakit.

Oleh karena itu, dalam kasus pekerja TKBM Ambon itu, BPJAMSOTEK mendampingi mulai dari perawatan saat tertimpah musibah, hingga menggunakan kaki palsu dengan total biaya sebesar Rp 170 juta rupiah.

Reaksi anda terhadap berita ini :

Komentar