Pelayanan RS Bhakti Rahayu Buruk, Uang Diutamakan Daripada Nyawa Pasien

KBRN, AMBON : Rumah Sakit (RS) Bhakti Rahayu Ambon dinilai gagal  melaksanakan fungsinya, dalam melayani kesehatan pasien. Uang menjadi segalanya ketimbang  keselamatan pasien. 

Hal ini diungkap salah satu  pasien, Ronald. Ronad adalah keluarga dari pasien, Gerlad Anakota yang meninggal  Minggu (28/11/2021) pagi  sekira pukul 09.00 wit. 

Kepada media ini, Ronald menceritakan,  almarhum meninggal, setelah sebelumnya di rawat di RS Bhakti Rahayu. 

Almarhum masuk di  Rumah Sakit yang berlokasi di Batu Gajah,  Kecamatan Sirimau Ambon ini sekitar pukul 17.55 Wit dan dirawat  di UGD. 

Saat dalam perawatan, almarhum awalnya biasa-biasa saja, hanya merasa  lemas.

 Namun saat  diperiksa beberapa jam oleh tenaga medis kondisi kesehatan  gerald  semakin menurun hingga   tak sadarkan diri.

Tim medis setempat kemudian langsung menghubungi RSUD Haulussy Kudamati untuk dirujuk. 

"Dalam kondisi kritis,  almarhum Gerald  dibiarkan terbaring sambil menunggu pengurusan administrasi. Salah satu suster yang berdinas saat itu, dia tidak mau rujuk Gerald, kalau pihak keluarga pasien tidak segera melunasi biaya tindakan medis," kata Ronald dengan nada sedih. 

Almarhum baru bisa dirujuk sekitar pukul 21.15 wit, menggunakan mobil ambulance milik Rumah Sakit Tentara (RST), setelah salah satu keluarga pasien yang tengah dirawat di RS Bhakti Rahayu, iba melihat kondisi alamarhum yang makin parah. 

"Ada salah satu keluarga pasien disitu, ia langsung membuka dompetnya dan langsung membayarkan uang Rp.1.350.000 dengan rincian, Rp. 1.200.000 biaya tindakan, sedangkan Rp.150.000 biaya sewa ambulance milik Rumah sakit Tentara, karena tidak ada sopir yang mengemudikan mobil Ambulance milik  RS Bhakti Rahayu," ungkpanya. 

Setelah ditangani intensif Di RSUD almarhum tak tertolong. Pegawai RRI Ambon (Gerald Anakota) menghembuskan nafas terakir sekitar pukul 09:00 wit, Minggu pagi. 

"Kami keluarga tentu menyesalkan tindakan RS Bhakti  Rahayu yang tidak profesional dalam menjalankan fungsinya. Kami berharap, profesionalitas tenaga kesehatan lebih ditingkatkan. Sehingga uang tidak menjadi alasan utama untuk meningkatkan kualitas kesehatan, tetapi keselamatan jiwa menjadi hal utama dan yang terutama," sesalnya.

Reaksi anda terhadap berita ini :

Komentar