Curhat Pengacara Adi Yoana : Takut Kalau Bilang Alamarhum

KBRN, AMBON : Tak hanya pihak Polda Maluku yang belum yakin Adi Yoana meninggal dunia, melainkan pengacaranya juga ikut tak yakin kabar kematian Adi Yoana. Adi Yoana adalah  salah satu kontraktor asal Surabaya yang ditetapkan tersangka bersama istrinya, Gabriela atas dugaan penipuan dan penggelapan. 

Pengacara Adi Yoana, Mustakim Wenno kepada RRI, Sabtu (23/10/2021) mengaku, takut menyebut Adi Yoana meninggal. Karena sampai saat ini, belum ada kabar yang diterimanya terkait kematian Adi Yoana. 

"Pa Adi Yoana ini klien saya. Takut kalau saya bilang Almarhum, karena saya belum di berih informasi pasti. Kabar meninggal saya dapat dari anak buahnya pa Adi tanggal 7 Juli (2021). Beliau masih chat dengan saya terakhir di 20 Juli 2021. Jadi saya belum tau pasti kabar kematiannya," ungkap Wenno. 

Menurutnya, sebagai pengacara pasti diberih informasi kalau kemudian Adi Yoana itu meninggal. Kabar meninggal dia, diketahui hanya melalui surat kematian tulis tangan yang dikirim le dirinya. 

"Pak Adi ini banyak masalah. Dan saya yang mendampingi beliau disetiap prosesnya. Laporan terhadap dirinya tak hanya di Polda Maluku melainkan Polres Buru. Sampai-sampai saat itu, saya minta untuk mengundur diri dari pemgacaranya. Saya saat itu pakai teman saya BIN di Jakarta untuk mengecek kabar kematian pa Adi, dan dikirim hanya Foto Peti yang tidak jelas serta, surat kematian yang bertulis tangan,," kata Wenno. 

Termasuk, lanjut dia, soal tudingan istri Adi Yoana, Gabriela yang menuding Direktur Ditreskrimum Polda Maluku, Kombes Pol. Sih Harno dapat trasferan dari Adi Yoana. Menurutnya, apa yang ditudingkan Gabriela terlalu berlebihan. Bahkan, kata dia, Gabriela tidak banyak tau soal persoalan Adi Yoana. 

"Ketika saya baca berita itu, saya kaget dan terlalu berlebihan. Ibu Gabriela tidak banyak tau soal masalah pa Adi. Apa yang dituding ke pa Dir (Sih Harno) itu terlalu berlebihan. Karena saya tau," ujar dia. 

Misalkan terkait uang Rp. 700 juta. Menurut Wenno itu tidak benar dan sudah selesai. Dimana saat itu, sebagai terlapor adalah adik Kandung Bupati Buru terkait proyek di Namlea. Namun, kasusnya damai dan adik Bupati Buru sudah mengembalikan langsung di Polda Maluku. 

"Dan saya yang terima sendiri, ada tiga kantong plastik uang. Semuanya total Rp. 600 juta sekian. Saya ambil 20 juta, dan selanjutnya pak Adi yang ambil, kita bergeser ke Excelco," terang dia. 

Sementara terkait dengan menanggung tiket pesawat sejumlah penyidik ke Namlea, pemberian sepeda lipat ke Direktur Ditreskrimum Polda Maluku, serta menanggung kamar hotel bagi penyidik semuanya itu atas kemauan Adi Yoana sendiri. Selain itu, Adi Yoana disebut memiliki hubungan dekat dengan Sih Harno dari kedekatan bahasa. 

"Jumat kemarin saya ada ke Polda karena ada urusan kasus lain, dan saya diberih tau soal berita itu. Saya agak malu juga dengan mereka, karena mereka tau selama ini yang mendampingi kasusnya Pak Adi adalah saya. Jadi semua itu atas kemauan pa Adi sendiri. Tidak ada yang minta. Ini semua bukti ada di saya juga, misalakan tiket pesawat. Termasuk sepeda, pernah pa Adi tanya saya soal sepeda. Begitupun Hotel. Hotel saat itu kita pakai Hotel Pacific, ini semua dilakukan pa Adi untuk mempercepat kasusnya guna pemeriksaan saksi. Jadi, tidak ada minta dari mereka. Ibu Gabriela tidak banyak tau," tandas dia. 

Ia juga mengaku, surat panggilan Polisi ke Adi Yoana selalu melaluinya dan disampaikan. Tapi Adi Yoana tidak pernah menghadiri penggilan. "Jadi saya sengat kasihan dengan Pa Dir, kalau disebut kaya gitu. Saya tau semuanya," tandas dia. 

Reaksi anda terhadap berita ini :

Komentar

00:00:00 / 00:00:00